kemuliaan di dunia

Bukan Sekedar Punya Harta Melimpah, Inilah 4 Kriteria Orang Beruntung Menurut Al-Quran

Dewasa ini, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang memiliki banyak harta. Tentu yang demikian itu hanya bagian kecil dari keberuntungan. Lalu, bagaimana kriteria orang yang beruntung menurut Alquran?

Sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia, Alquran dalam banyak ayat telah menyebutkan beberapa kriteria orang yang beruntung, diantaranya sebagai mana terdapat dalam surat al-Mu’minun dan al-‘Ashr. Dalam kesempatan ini, penulis akan memfokuskan pembahasan pada QS. Al-‘Ashr. Diantara pertimbangannya adalah, hampir semua umat Islam hafal—atau paling tidak, ayat ini merupakan salah satu ayat yang populer—sehingga akan memudahkan untuk kemudian diamalkan.

Allah berfirman:

وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ 

Yang artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3).

Dalam ayat tersebut, Allah—dengan awalan sumpah—menegaskan bahwa sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali empat golongan. Keempat golongan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama, beriman kepada Allah.

Potongan QS. Al-‘Ashr (ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ) memiliki artinya, bahwa orang yang beriman (meyakini) dengan sepenuh hati, ikhlas dan bertanggungjawab tidak akan merugi karena ia akan selalu mengingat-Nya sehingga segala langkahnya, tutur katanya dan hatinya akan selalu dalam jalan yang lurus, terjaga dari perbuatan dosa, selalu berbuat maksimal, berprestasi dan bermanfaat bagi orang banyak.

Selain itu, ia akan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Artinya, ia adalah orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah:

وَلَوۡ أَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَمَثُوبَةٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ خَيۡرٞۚ لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ 

Baca Juga:  Jangan Menyepelekan Wudhu’ Sambil Ngobrol, Inilah Misteri Spiritual Setiap Gerakan Wudhu

Artinya: “Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 103).

Para ulama memahami (ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ) sebagai orang-orang yang memiliki pengetahuan menyangkut kebenaran. Sementara puncak kebenaran adalah pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama yang bersumber dari Allah. Dengan begitu, kriteria keimananlah yang dapat menyelamatkan seseorang dari kerugian (Shihab, 1997).

Kedua, beramal shalih.

Berdasarkan QS. Al-‘Ashr, kriteria orang yang beruntung kedua adalah mereka yang beramal shalih. Hal ini berarti orang yang beruntung adalah yang suka dan rajin menebar kebaikan dan kemanfaatan bagi semua orang. Diantara amal shalih adalah sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah Saw bersabda: ‘Maukah aku beritahu tentang orang yang paling baik di antara kalian? Para sahabat lantas menjawab: ‘Ya (mau), Rasulullah.’ Beliau pun kemudian bersabda: ‘Ialah orang panjang umurnya dan baik amalannya.” (QS. Ahmad).

Termasuk amal shaleh adalah menyadarkan teman, baik itu teman dekat atau teman di media sosial, untuk tidak ikut-ikutan menyebar hoax, fitnah dan provokasi. Mengajak sesama pengguna media sosial untuk memviralkan konten yang menyejukkan, menentramkan dan mencerahkan adalah termasuk amal shaleh. Dan orang seperti ini akan beruntung, baik di dunia maupun di akhirat.

Ketiga, saling menasihati untuk kebenaran.

Mengingatkan saudara semiman yang melakukan dosa adalah bagian dari menasihati untuk kebenaran. Inilah kriteria ketiga sebagaimana termaktub dalam surat al-‘Ashr. Mengingatkan dan menasihati saudara-saudara kita, baik di dunia nyata maupun nyata merupakan kunci keberuntungan.

Poin ketiga ini termasuk dalam ranah dakwah, yakni mendakwahkan kebenaran dengan cara yang elegan dan sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Hal ini penting ditegaskan mengingat banyak da’i yang mendakwahkan agama Islam dengan cara yang keji, seperti menebar permusuhan antar sesama namun beda pandangan.

Baca Juga:  Tradisi Intelektual Ulama Nusantara: Melestarikan Pesantren, Kitab Kuning dan Sanad Ilmu

Kata تَوَاصَوۡ diartikan sebagai “menyuruh secara baik’. Sehingga berwasiat berarti memberikan nasihat kepada orang lain dengan kata-kata yang halus agar yang bersangkutan bersedia melakukan sesuatu pekerjaan yang diharapkan dari padanya (Shihab, 2002: 496-510).

Keempat, saling menasihati untuk kesabaran.

Artinya, kita harus senantiasa bersabar dalam hidup serta berusaha sekuat tenaga. Kesabaran bukan berarti kita berpangku tangan, melainkan menjalankan segala aktivitas dan tantangan dengan penuh kesungguhan. Paradigma sabar ini akan mencetak pribadi yang tidak gampang mengeluh, putus asa dan lembek.

Quraish Shihab ketika menafsirkan surat ke-103 ini menegaskan bahwa demi (masa) di mana manusia mencapai hasil setelah memeras tenaganya, sesungguhnya ia merugi (apapun hasil yang dicapainya itu, kecuali jika ia beriman dan beramal shaleh).

Choirun Nisa (2007) menyimpulkan bahwa QS. Al-‘Ashr 1-3 syarat dengan pendidikan karakter yang meliputi nilai kognitif (pengetahuan), afektif (sifat)—saling menasihati dan ada nilai psikomotorik, yakni beramal shaleh.

Ulama tafsir kenamaan seperti Ibnu Katsir dan Sayyid Quthub menjelaskan bahwa surah yang terdiri dari tiga ayat tersebut memuat peraturan hidup yang sempurna bagi manusia sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam. Hakikat dan tujuan hidup manusia terekam sangat jelas dalam ayat ini.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir