isra' mi'raj
isra miraj

Catatan Sayyid Muhammad Alawi al Maliki (4): Hikmah transit Nabi untuk shalat di Lima Tempat Saat Mikraj

Selanjutnya, dengan menaiki Buraq, Nabi ditemani Malaikat Jibril bertolak dari Masjidil Haram, Mekah menuju Masjidil Aqsha, Palestina. Buraq adalah hewan tunggangan yang khusus didatangkan dari surga untuk menghormati dan memuliakan Rasulullah. Sebagaimana layaknya tamu agung yang dijemput dengan kendaraan terbaik dan persiapan tempat yang terbaik pula.

Dipilihnya Buraq sebagai kendaraan menghantar Nabi, sekali lagi, adalah mu’jizat yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah untuk menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa ajaib yang luar biasa. Lebih hebat dari pada terbang memakai sayap malaikat dan Nabi Sulaiman yang terbang bersama angin.

Kenapa harus memakai Buraq, bukankah bisa saja Allah memilih cara lain dan lebih cepat dari Buraq? Disamping keistimewaan Buraq sendiri, hal ini untuk menghibur Nabi. Ada keistimewaan lain dengan menunggangi Buraq. Dengan Buraq, menurut sebagian catatan ulama, untuk menunjukkan betapa Nabi sangat mulia dan sangat agung ketika menunggangi hewan pilihan yang khusus didatangkan dari surga.

Dalam perjalanan, di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi pohon kurma, Jibril meminta Nabi untuk turun dan shalat. Kemudian, berdua melanjutkan perjalanan kembali. Jibril bertanya, “apakah engkau tahu tempat tadi, wahai Rasulullah”? “Tidak, wahai Jibril”, katau beliau. Itu tadi adalah Taybah, tempat engkau Nanti akan Hijrah.

Sampai di tempat yang lain, Jibril meminta Rasulullah untuk melakukan hal yang sama ketika transit di Taybah. Yaitu, di Madyan, di dekat pohon tempat Nabi Musa berteduh sewaktu keluar dari Mesir. Di dua tempat berikutnya, yaitu di bukit Tursina dan di tanah lapang yang dari situ tampak bangunan istana Syiria, Jibril meminta Nabi untuk shalat dan berdoa sebagaimana di tempat-tempat sebelumnya.

Berikutnya Rasulullah transit lagi di Baitul Maqdis. Disini, beliau shalat berjamaah bersama para nabi-nabi sebelumnya dan juga para malaikat.

Baca Juga:  Rahasia Nisfu Sya’ban: Malam Bertabur Ampunan

Persinggahan Nabi dibeberapa tempat tersebut sebagai bukti bahwa tempat-tempat tersebut erat kaitannya dengan agama Islam dan nabi-nabi sebelumnya. Dan, sebagai bukti bahwa risalah yang diembankan kepada Rasulullah adalah risalah penutup penyempurna risalah-risalah para nabi sebelumnya.

Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memperingati peristiwa luar biasa ini, juga peristiwa-peristiwa keagamaan yang lain, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Caranya adalah dengan memperbanyak ibadah, dzikir, doa dan tafakur terhadap kebaikan-kebaikan dan manfaat-manfaat yang telah dilimpahkan oleh Allah kepada kita semua.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

silaturrahmi non muslim

Silaturahmi Kepada Orang Tua dan Saudara Non Muslim, Bolehkah?

Meskipun hari raya Idul Fitri telah berlalu, namun sebagian masyarakat muslim tetap memanfaatkan momentum Syawal …

shalat saat adzan

Shalat Saat Adzan Dikumandangkan?

Tujuan azan adalah untuk memanggil umat shalat berjamaah, sekaligus penanda waktu shalat telah tiba. Seperti …