dakwah bukan perang

Dakwah Santun, Dakwah yang Bagaimana?

Perlu diaku memang, bahwa saat ini banyak bermunculan penceramah. Sering kita temui pendakwah dengan metode dakwahnya yang beragam. Mereka dengan wibawa yang dimiliki, menyampaikan ajaran Islam. Mulai dari penceramah yang sudah berumur tua, sampai yang masih muda pun ada.

Dakwah itu sebagai suatu konsep amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebagaimana dalam surah Ali Imran ayat 104 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung,”

Namun, kriteria pendakwah seperti apakah yang kita butuhkan. Masyarakat butuh pendakwah yang benar-benar bisa mengatasi berbagai permasalahan yang ada. Perselisihan pendapat yang sering terjadi, membuat umat terus dibuat ribut. Termasuk munculnya pendakwah yang kiranya sering keliru dalam penyampaian dan tindakannya. Bahkan, yang tidak diharapkan, penceramah yang melakukan provokatif.

Mungkin bagi kaum awan yang benar-benar awam belum memahami ini. Mereka belum menyadari bahwa dari sekian banyak penceramah, tidak semua dari mereka itu benar. Maka, akan berbahaya apabila pendakwah tersebut menyampaikan sesuatu yang berbau provokasi kepada masyarakat.

Tidak benar yang saya maksud ialah, niat mereka dalam berdakwah yang sudah tak lagi lurus. Sehingga ada beberapa motif mereka yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Diantaranya, alasan pendakwah untuk berbuat seperti itu tak lebih dari mencari uang. Sehingga, materi atau pembahasan yang disampaikan kebanyakan merujuk pada lucu-lucu dan.

Melihat realita saat ini, di zaman berkembangpesatnya media sosial, bermunculan orang yang mengajarkan ajaran agama. Meskipun dengan pengetahuan keilmuan agama khususnya, yang masih rendah. Pesan-pesan berupa ajaran agama akan sampai ke umat.

Maka, dalam penyampaiannya, harus dengan benar. Karena tujuan utama ialah agar umat bisa tercerahkan dengan itu. Tidak hanya mengikuti pengajian, datang, dan mendengarkan. Memang, silaturahmi akan terjalin. Namun, saya rasa akan sia-sia apabila tidak ada pelajaran dan nilai-nilai yang diambil dari suatu pengajian.

Baca Juga:  Berburu Berkah di 10 Hari Terakhir Bulan Ramadan

Penceramah yang mencerahkan memang perlu. Bukan yang membelokkan atau bahkan menyesatkan. Tidak menyampaikan ajaran yang ekstrim kanan ke terorisme atau tidak juga ekstrim kiri ke liberalisme (Cholil Nafis, 2019). Sekali lagi, tidak semua dari masyarakat mestinya bisa menerima pendakwah yang hanya sekadar mencari popularitas.

Dengan demikian, metode dakwah yang digunakan dengan cara baik dan santun. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. An-Nahl:125).

Tak lupa, semangat nasionalisme harus diupayakan demi merawat keberagaman yang ada. Sebab, ketika kita tidak mampu menjaga persatuan, maka negara kita akan mengalami perpecahan, dan ini berbahaya. Sungguh, peran  muballigh akan menjadikan umat dalam mempersatukan kebhinekaan.

Ada hikmah yang bisa kita petik dari suatu kajian dakwah. Pencegahan penyebaran agama yang ekstrim di kalangan masyarakat saat ini terus diperjuangkan. Sehingga perlunya da’i yang sudah mempunyai wawasan yang luas. Baik itu wawasan keislaman, maupun kebangsaan.

Dengan menggunakan metode yang santun dan damai, dakwah bisa dipastikan sesuai dengan konsep ke-Islaman dan kebangsaan. Mari kita dukung pendakwah yang mencerahkan dan menguatkan kebangsaan. Bukan hanya sekadar pendakwah, tapi juga pejuang. Berjuang untuk membangkitkan dan menegakkan nasionalisme. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Ikhsan Hidayat

Avatar
Peneliti di Pon-pes Dar al-Qolam Semarang