Mencela

Binatang Saja Dilarang Dicela, Apalagi Manusia!

Persoalan hujat-menghujat, cela-mencela dan sejenisnya bukanlah sesuatu yang baru terjadi belakangan ini. Artinya, sebelum Nikita Mirzani mencela seorang Habib, dan Habib serta sejumlah simpatisannya balik membalasnya, fenomena itu sesungguhnya sudah lama terjadi. Bahkan laku demikian itu sudah ada pada zaman jahiliyah. Namun, belakangan ini, saling mencela itu eskalasinya meningkat tajam, terutama di jagat media sosial.

 Tentu saja fenomena tersebut tidak menyehatkan, tapi meresahkan dan membikin gaduh sehingga kehidupan beragama dan berbangsa menjadi terusik dan tidak produktif. Karena itu, harus segera disudahi, diputus rantainya.

Sebagai bangsa yang dikenal taat beragama dan Islam menjadi agama mayoritas, ajaran-ajaran kesantunan yang seolah mulai terpendam itu, harus dimunculkan kembali, bahkan menuntut untuk digelorakan secara besar-besaran.

Dalam pada konteks itulah, tulisan ini hadir, minimal sebagai pengingat nilai-nilai agung yang kian tergerus oleh nilai-nilai bar-bar dan ugal-ugalan tidak terulang kembali. Betapa sedih dan mirisnya bangsa ini apabila saling mencela masih menyelimuti langit-langit Tanah Air tercinta.

Larangan Mencela

Di tengah kondisi akhlak bangsa yang mulai langka dan keteladanan dari tokoh agama dan elite bangsa mulai luntur, umat harus kembali merujuk kisah-kisah orang besar yang ditulis namanya dalam tinta emas sejarah Islam. Sebab, merekalah teladan kita, orang yang telah menggapai kesuksesan dunia dan akhirat.

Inspirasi, pencerahan dan motivasi sangat berjubel pada sosok mereka itu. Bukan berarti kita dapat terjebak pada romantisme masa lalu, melainkan mengambil spirit perjuangan, akhlaknya dan pengabdiannya yang besar bagi agama dan bangsa.

Islam secara tegas melarang perbuatan saling mencela. Di antara dalil yang jelas adalah QS. Al-Hujarat ayat 11; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).

Bahkan, binatang saja dilarang dicela. Imam Malik bin Dinar berkata, “Suatu ketika Nabi Isa berjalan bersama-sama dengan muridnya. Di tengah-tengah perjalanan, mereka meliwati bangkai seekor anjing. Lantas para muridnya berkata, “Betapa bau busuknya bangkai anjing itu.

Baca Juga:  Sikap Nabi Kepada Orang yang Hobi Mengumpat dan Mencaci

Mendengar perkataan yang keluar dari muridnya itu, Nabi Isa segera menjawab, “Betapa putihnya anjing itu.” Beliau lalu menasihati mereka agar tidak mencela anjing tersebut.

Nabi Isa ‘alaihis salam telah menampar kita semua karena beliau sangat berhat-hati dalam menjaga lidah untuk tidak mengeluarkan kata-kata buruk, sekalipun itu kepada binatang. Betapa celakanya kita karena mudah marah, lalu mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar.

Jaga Lisan, Jangan Mencaci-maki

Mencaci-maki, juga melaknat saudara sesama Muslim bukanlah sifat seseorang Mukmin yang sempurna imannya. Banyak petunjuk dari Alquran dan hadis tentang hal ini. Salah satunya sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيْءِ

Yang bermakna: “Seorang Mukmin yang sempurna imannya bukanlah seorang pencaci, pelaknat, bukan pula orang yang berkata keji dan kotor” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Demikianlah uraian singkat ini. Melalui tulisan ini, penulis mengajak kepada seluruh umat Islam untuk senantiasa memperhatikan ajaran-ajaran Islam yang luhur. Juga mengajak untuk menghentikan kebiasaan saling mencela, menghina, mengolok-olok, melabeli sesama muslim dengan sebutan buruk dan sejenisnya. Hentikan semua itu, baik di dunia nyata maupun maya. Karena mencela adalah laku yang dilarang oleh Islam.

Terakhir, penulis terngiyang-ngiyang oleh dialog Nabi Musa dengan Allah swt. Ketika itu, Nabi Musa melontarkan sebuah pertanyaan. “Ya Allah, Engkau telah menciptakan manusia dan memelihara mereka dengan nikmat-Mu. Mengapa di akhirat kelak, Engkau memasukkan mereka ke dalam neraka?”

Kira-kiran, Allah akan menjawab seperti apa? Dalam dialog tersebut, Allah tidak langsung menjawab pertanyaan Nabi Musa, namun Allah justru meminta Nabi Musa untuk menanam sebuah pohon.

Baca Juga:  Bahaya Sombong karena Merasa Paling Pintar

Nabi Musa segera memenuhinya, yakni menanam sekaligus merawat pohon itu dengan baik hingga sampai pada masa panen. Setelah itu, Allah bertanya kepada Nabi Musa: “Bagaimana hasil pohon yang kau tanam?” Nabi Musa bergegas menjawab: “Semuanya sudah aku jalankan. Pohon pun berbuah dan sudah saya panen.”

Lalu Allah meneruskan pertanyan: “Apakah dari hasil (panen) tersebut ada yang kamu buang?” Nabi Musa menjawab: “Tentu ada, yaitu yang tidak baik hasilnya (busuk) itulah yang aku buang, Ya Allah.” Allah pun menjawab: “Begitu juga Aku, akan membuang dan memasukkan hamba-hamba-Ku yang tidak baik ke dalam neraka.”

Jadi, orang yang masih suka mencela dan sejenisnya itu bisa dengan mudah masuk dalam hamba yang tidak baik. Jika demikian yang terjadi, maka neraka adalah tempatnya. Tentu kita tidak menghendakinya bukan? Karena itu, jaga lisan!!!

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About faedurrohman M.Pd.I

Avatar
Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, aktif bergerak di bidang dakwah kultural dan struktural.