malam nisfu sya'ban
malam nisfu syaban

Dalil Nisfu Sya’ban (2) : Apa Saja Amalan Malam Nisfu Sya’ban? Bid’ahkah?

Dalam tulisan sebelumnya dari ringkasan tulisan yang sangat berharga dari Ust Ma’ruf Khozin yang menyangkal banyak hal dari anggapan bid’ah secara serampangan terhadap momen nisfu Sya’ban dan amalannya menunjukkan tidak ada keraguan tentang keistimewaan malam nisfu Sya’ban. Berbagai hadist shahih telah menegaskan keagungan malam tersebut.

Persoalannya adalah apakah amalannya bagian dari yang disunnahkan atau perbuatan bid’ah? Jika memuliakan malam nisfu Sya’ban dianggap bid’ah tentu saja telah mengingkari pernyataan Nabi terhadap kemuliaan malam tersebut. Persoalan cara memuliakannya adalah ijtihad para sahabat, tabiin dan ulama salaf. Jika Nabi bersabda bahwa malam nisfu Sya’ban adalah muliah malam turunnya rahmat dan ampunan, tentu tidak akan disia-siakan hanya dengan berdiam diri. Bagaimana mengharapkan rahmat dan ampunan hanya berdiam diri tanpa menganggungkan dengan amalan dan ibadah?

Karena ada hadist kemuliaan malam tersebut, dalam catatan beberapa ulama, pertama kali yang mempopulerkan amaliyah di malam nisfu adalah kalangan tabiin dari Syam. Artinya, bukan tidak ada landasan (atsar) sama sekali terhadap amaliyah dalam memuliakan hal tersebut. Kalangan sahabat pun sudah mengetahui kemuliaan malam nisfu Sya’ban, tetapi belum mengamalkannya karena persoalan sibuknya penaklukan Syam. Namun, bukan berarti amalan tersebut bid’ah karena sudah ada dari kalangan tabi’in yang memulai.

Dari ijtihad para tabiin inilah amaliyah malam nisfu Sya’ban kemudian popular hingga hari ini. Ulama bashrah (Irak) kebanyakan menerimanya walaupun Ulama Hijaz (Makkah dan Madinah mengingkarinya. Ulama Salaf pun Sebagian mengamalkan amaliyah untuk memuliakan malam ini.

Pada intinya, persoalan amaliyah adalah sebuah ijtihad para tabiin dan ulama salaf dalam menangkap pesan Nabi tentang kemuliaan malam nisfu Sya’ban. Karena itulah, sangat tidak arif dan bijak membid’ahkan amaliyah malam nisfu Sya’ban dengan alasan tidak ada amalan khusus. Sesungguhnya sandaran dalilnya adalah kemuliaan malam nisfu Sya’ban yang tidak diragukan lagi dalilnya. Lalu apa saja amalannya

Baca Juga:  Memahami Al-Quran sebagai Mukjizat Terbesar dan Abadi

1. Membaca Yasin

Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al Buni. Ijtihad ini sesungguhnya dilandasi tentang hikmah dan manfaat surat yasin. Persoalan membaca tiga kali satu kali atau sebagainya memang tidak ada tuntunan khusus.

Membaca al-Quran dan berdzikir istigfar pun sebagai bentuk permohonan ampunan juga tidak masalah. Namun, karena kebanyakan ulama menganjurkan untuk surat yasin bukan berarti itu sebagai bid’ah. Ulama adalah pewaris Nabi dalam menerjemahkan tuntunan Islam.

2. Shalat sunnah mutlak

Tidak ada shalat sunnah nisfu Sya’ban. Cukup jelas tentang hal itu dan ulama sepakat tidak ada pengkhususan shalat tersebut. Shalat khusus Nisfu Sya’ban menurut Imam Nawawi adalah bid’ah. Namun, memperbanyak salah sunnah mutlak di malam itu adalah sebuah perkara yang baik.

Ibnu Taimiyah pun berkata bahwa keutamaan malam Nishfu Sya’ban diriwayatkan dari hadis-hadis marfu’ dan atsar (amaliyah sahabat dan tabi’in), yang menunjukkan bahwa malam tersebut memang utama. Dan sebagian ulama Salaf ada yang secara khusus melakukan salat sunah (mutlak) di malam tersebut.

Ketika ditanya persoalan shalat malam nisfu Sya’ban beliau menjawab : Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul- kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuatan bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú’ Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469).

3. Puasa Sunnah

Puasa di hari ke 15 bulan Sya’ban atau siang hari Nishfu Sya’ban ada yang menyatakan bidah, namun tidak demikian menurut mayoritas para ulama. Puasa pada hari Nishfu Sya’ban tidaklah dilarang. Sebab termasuk hari- hari purnama (tanggal 13-14-15 Hijriyah) yang dianjurkan untuk berpuasa di setiap bulan.

Baca Juga:  Berharap Ramadhan Tahun Ini Bebas Covid-19, Bagaimana Caranya?

Pada akhirnya, malam nisfu Sya’ban itu adalah malam mulia dan tidak ada yang meragukan itu berdasarkan hadist Nabi. Persoalan bagaimana orang memuliakan dengan hasil ijtihad ulama dan mengikutinya adalah sebuah kebaikan. Malam turunnya rahmat dan ampunan sebagaimana dijanjikan Nabi tentu tidak akan dilewatkan begitu saja tanpa amalan. Bahkan bersedakahpun bisa dijadikan amalan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan di malam tersebut.

Semoga kita mendapatkan kemuliaan malam nisfu Sya’ban.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

buya syafii maarif

Mengenang Buya Syafii Maarif : Tokoh Sederhana yang Teguh Memegang Prinsip Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan

Sejatinya, teramat sulit untuk menuliskan judul tentang sosok inspiratif Buya Syafii Maarif. Bukan karena kekurangan …

Buya Syafi'i Ma'arif

Selamat Jalan Guru Bangsa, Selamat Jalan Buya Syafi’i Maarif Sang Teladan Umat

Jakarta – Buya Syafi’i Ma’arif kembali ke Haribaan Allah SWT dalam kesederhanaan, seorang guru bangsa …