Wanita Taliban
Wanita Taliban

Demi Cairkan Aset Bank Sentral, Taliban Rilis Dekrit Tentang Hak-hak Wanita

Kabul – Taliban merilis dekrit yang isinya menginstruksikan jajaran kementerian Afghanistan untuk mengambil tindakan serius terkait hak-hak wanita. Namun dekrit itu tidak menyebut soal akses anak perempuan ke sekolah. Dekrit itu mengatasnamakan pemimpin tertinggi mereka, Hibatullah Akhundzada.

Dilansir AFP, Jumat (3/12/2021), dekrit itu dirilis setelah Taliban mengambil alih kekuasaan sejak pertengahan Agustus lalu dan kini berupaya mencairkan akses terhadap aset Bank Sentral Afghanistan dan bantuan internasional senilai miliaran dolar yang ditangguhkan saat pemerintahan Afghanistan kolaps.

“Kepemimpinan Emirat Islam (sebutan Afghanistan di bawah Taliban-red) mengarahkan semua organisasi terkait untuk mengambil tindakan serius untuk menegakkan hak-hak wanita,” bunyi dekrit tersebut.

Dekrit itu fokus membahas hak perkawinan dan hak para janda, dengan menyatakan bahwa ‘tidak ada yang bisa memaksa wanita untuk menikah secara paksa atau di bawah tekanan’ dan bahwa janda berhak atas bagian yang tetap yang jumlahnya tidak disebutkan dari warisan suaminya.

Dekrit itu menginstruksikan Kementerian Kebudayaan dan Informasi Afghanistan untuk mempublikasikan materi soal hak-hak wanita ‘untuk mencegah penindasan berkelanjutan’.

Penghormatan hak-hak wanita telah berulang kali disebutkan oleh para donatur internasional sebagai syarat memulihkan bantuan.

Namun dekrit pemimpin Taliban itu tidak menyebut soal pendidikan menengah untuk anak perempuan, yang kini ditangguhkan, maupun soal akses pekerjaan untuk perempuan, yang dilarang bekerja di sektor publik sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan.

Hak-hak wanita sangat dibatasi selama Taliban berkuasa dua dekade lalu, antara tahun 1996-2001. Saat itu, wanita dipaksa memakai burqa, hanya diperbolehkan keluar rumah jika didampingi pendamping laki-laki dan dilarang bekerja juga bersekolah.

Sementara itu, Akhundzada jarang muncul ke publik sejak menjadi pemimpin tertinggi Taliban tahun 2016, usai pendahulunya tewas dalam serangan drone Amerika Serikat (AS). Pada 30 Oktober lalu, Taliban merilis rekaman audio berdurasi 10 menit yang diklaim sebagai pidato Akhundzada di sebuah madrasah di Kandahar.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Wapres HUT ke 45 MUI

Fatwa MUI: Terorisme Bukan Jihad, Terorisme Haram!

Jakarta – Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa aksi terorisme bukan jihad, terorisme …

Cak Islah Bahrawi

Tolak UU Buatan Manusia, Islah Bahrawi: Teroris Hanya Mau Jalankan Hukum Syariah

Jakarta –  Kelompok teroris menganggap Undang-undang harus menggunakan hukum syariah yang dalam pemahamannya sebagai buatan …