Perempuan Afghanistan
Perempuan Afghanistan

Perempuan Afghanistan Tolak Terapkan Aturan Taliban Terkait Pemakaian Burqa

Kabul – Taliban telah mengeluarkan dekrit yang memerintahkan semua perempuan di Afghanistan menggunakan burqa atau pakaian yang menutup kepala hingga ujung kaki, ketika keluar rumah. Namun perintah itu ditentang bahkan diabaikan oleh sebagian perempuan Afghanistan di Kabul.

Seorang perempuan yang meminta diidentifikasi dengan satu nama, yaitu Arooza sangat marah sekaligus takut ketika Taliban berpatroli di pusat perbelanjaan pada Minggu (8/5/2022). Saat itu, Arooza dan seorang temannya sedang berbelanja di lingkungan Macroyan, Kabul.

Arooza yang berprofesi sebagai guru matematika tidak mengenakan burqa seperi yang diperintahkan oleh kepemimpinan Taliban. Dia memakai jilbab seperti biasa, dan mantel berwarna cokelat pucat.

Pemimpin garis keras Taliban, Hibaitullah Akhunzada, sebelumnya juga mengeluarkan dekrit yang menyarankan bahwa perempuan tidak boleh meninggalkan rumah kecuali ditemani oleh kerabat laki-laki. Akhunzada juga menguraikan serangkaian hukuman bagi kerabat laki-laki dari perempuan yang melanggar aturan tersebut.

Pada Minggu (8/5/2022), wanita di Ibu Kota Kabul mengenakan pakaian adat Muslim konservatif. Sebagian besar mengenakan jilbab tradisional, yang terdiri dari jilbab dan jubah panjang atau mantel. Tetapi hanya sedikit wanita Muslim yang menggunakan burqa.

“Wanita di Afghanistan memakai jilbab, dan banyak yang memakai burqa, tapi ini bukan tentang jilbab, ini tentang Taliban yang ingin membuat semua wanita menghilang.  Ini tentang Taliban yang ingin membuat kita tidak terlihat,” kata seorang perempuan di Kabul, Shabana.

Shabana mengenakan gelang emas cerah di balik mantel hitamnya, serta menutup kepalanya dengan kerudung hitam berhiaskan manik-manik.

Beberapa wanita berhenti untuk berbicara. Mereka semua menentang dekrit terbaru Taliban terkait penggunaan burqa. Seorang sarjana tamu di New York’s New School dan mantan dosen di Universitas Amerika di Afghanistan, Obaidullah Baheer, mengatakan, dekrit tersebut berusaha untuk menghapus seluruh gender dan generasi di Afghanistan.

Baca Juga:  Taliban Seret Keluar Rumah Seorang Penyanyi Di Afghanistan Lalu Dibunuh

“Ini mendorong keluarga untuk meninggalkan negara itu dengan cara apa pun yang diperlukan. Ini juga memicu keluhan yang pada akhirnya akan meluas ke mobilisasi skala besar melawan Taliban,” kata Baheer.

Setelah beberapa dekade perang, Baheer mengatakan, Taliban tidak perlu membuat rakyat Afghanistan puas dengan pemerintahan mereka. Menurut Baheer, banyak kesempatan yang disia-siakan oleh Taliban dengan cepat. Terutama untuk memperbaiki citra mereka di masa lampau.

Perintah menggunakan burqa adalah pukulan besar bagi hak-hak perempuan di Afghanistan, yang selama dua dekade telah hidup dengan relatif bebas sebelum Taliban kembali berkuasa pada Agustus tahun lalu. Bertepatan dengan mundurnya pasukan asing pimpinan Amerika Serikat (AS), setelah perang selama 20 tahun.

Pemimpin Taliban, Akhunzada jarang bepergian ke luar Kandahar dan cenderung tertutup. Dia menyukai elemen-elemen keras ketika Taliban berkuasa pada periode 1996-2001. Ketika itu, anak perempuan dan perempuan dilarang bersekolah, bekerja, dan memiliki kehidupan publik. Seperti pendiri Taliban Mullah Mohammad Omar, Akhunzada memaksakan ajaran Islam garis keras yang mengawinkan agama dengan tradisi suku kuno.

Para analis mengatakan, Akhunzada telah mengambil tradisi desa di mana anak perempuan dinikahkan saat pubertas, dan jarang meninggalkan rumah mereka. Akhunzada menyebut hal ini sebagai tuntutan agama.

Taliban telah terbagi menjadi dua golongan yaitu pragmatis dan garis keras. Hingga saat ini, kelompok garis keras dan pragmatis dalam gerakan tersebut menghindari konfrontasi terbuka.

Namun perpecahan semakin dalam pada Maret, ketika Akhunzada mengeluarkan keputusan bahwa anak perempuan usia sekolah menengah tidak diizinkan kembali ke kelas. Padahal sebelumnya, seorang pejabat senior Taliban mengatakan, semua anak perempuan akan diizinkan kembali ke sekolah.  Akhunzada menegaskan bahwa membiarkan anak perempuan remaja kembali ke sekolah telah melanggar prinsip-prinsip Islam.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Dr KH Adnan Anwar

Membangun Kebanggaan Nasional untuk Lawan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme

Jakarta – Semangat nasionalisme pada Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) menandakan rumusan identitas kebangsaan yang tidak …

uas ditolak masuk singapura berikut hal yang diketahui sejauh ini

Ormas Perisai Pendukung UAS Demo Kedubes Singapura Siang Ini

Jakarta – Penolakan Pemerintah Singapura terhadap Ustadz Abdul Somad (UAS) yang hendak memasuki wilayah Singapura …