diam
lisan cermin hati

Diam adalah Sikap Mahal di Era Bisingnya Media Sosial

Kita sudah masuk dalam dunia kebisingan yang setiap hari tidak lengkap tanpa mendapatkan informasi dan menyebar informasi. Media sosial menyajikan kehidupan yang seseorang merasa dirinya gatal untuk tidak berkomentar dan memposting sesuatu setiap hari.

Namun, tidak jarang, kita terpuruk dalam persoalan. Banyak orang yang terjerat hukum karena bermedia sosial. Mereka tidak mampu menahan diri untuk mencaci maki karena emosi melihat konten media sosial. Lalu, apa yang harus dilakukan di era kebisingan media sosial tersebut?

Diam adalah cara terbaik untuk sekedar menghela nafas agar pikiran lebih jernih. Jika tidak mampu mengelola emosi dan tidak mampu menyampaikan kebaikan, diam adalah pilihannya. Imam Al-Jalil Abu Muhammad bin Abi Zaid mengatakan bahwa diam termasuk satu dari empat etika kebaikan yang sangat utama dalam Islam, selain meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Selain itu Rasulullah berpesan apabila seseorang tak mampu berkata yang baik-baik, lebih baik diam. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Prinsip ini penting dipegang bagi pegiat media sosial hari ini. Jika dirasa tidak memberikan hal bermanfaat, tidak memposting dan komentar itu lebih baik dari pada menimbulkan masalah.

Diam merupakan perilaku netral. Jika dirasa informasi yang dipunyai masih kurang, daripada melakukan kesalahan, akan lebih baik bersikap diam supaya tidak menyulut kesalahan atau bahkan menjerumuskan manusia lain ke dalam kekeliruan. Seseorang muslim yang baik akan mampu menjaga segala ucapan dan perilakunya.

Lidah memang tak bertulang, tapi lidah juga mampu membuat seseorang merasa dibunuh karakternya, bahkan pembunuhan karakter terkadang dirasa lebih menyakitkan dibanding dibunuh secara fisik. Dalam al-Quran, al-Baqarah 191 disebutkan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Karena pembunuhan dengan lisan melalui fitnah dan hasutan akan berdampak sangat lama hingga dibersihkan namanya.

Sayyid Haidar Amuli mengungkapkan keutamaan diam seperti dikutip Jalaluddin Rakhmat, bahwa ketika seseorang menutup mulut untuk tidak bicara, berarti kita mengizinkan hati kita untuk bicara lebih banyak. Setiap manusia memiliki hati yang selalu mengajak kita berbicara.

Salah satu pembicaraan hati adalah mengecam perilaku-perilaku yang tidak baik. Namun sayangnya, jika mulut terlalu banyak berbicara, maka kita tak akan mampu mendengar suara hati nurani karena tersumbat oleh riuhnya suara yang keluar dari mulut kita sendiri.

Sebenarnya sikap diam akan mampu memperkecil resiko untuk kita tergelincir ke dalam kejahatan (adu domba, fitnah, kesalahan dalam pemahaman, dll) karena itu Rasulullah menyebutkan bahwa “Barang siapa yang diam, dia pasti selamat.”

Bagikan Artikel ini:

About Rufi Tauritsia

Check Also

mengemis online

Fenomena Mengemis Online, Bagaimana Menurut Islam?

Setiap manusia diberikan potensi kepada Allah untuk hidup mandiri. Kemandiriannya tersebut terbentuk dari akal pikiran …

depresi

Hati-hati dengan Sakit Jiwa, Benahi Hati dengan Berdzikir

Jangan sepelekan penyakit mental. Kesehatan mental juga sepenting Kesehatan fisik manusia. Jika gangguan mental terus …

escortescort