doa orang yang baru datang haji
haji indonesia 2

Doa Orang yang Baru Datang Dari Haji

Berdo’a untuk suatu kebaikan tidak dipermasalahkan adalam agama, karena berdo’a sendiri merupakan anjuran dari Allah swt. sebagaimana dalam firmannya:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya: “Berdo’alah kepadaku niscaya aku akan mengabulkannya” (QS. Al Mu’min: 60)

Sekalipun demikian ada anjuran berdo’a dari Allah swt pemilik Syariat, masih saja ada sebagian kelompok dalam Islam mempersoalkan do’a jika tidak ada contoh dari Nabi saw.

Begitu juga tradisi masyarakat Indonesia yang meminta doa kepada kepada orang yang baru datang dari tanah suci Makkah dalam rangka ibadah Haji atau Umroh, hal ini juga dipersoalkan oleh sebagian kelompok Islam yang tekstual. Alasannya karena praktek meminta do’a kepada orang yang baru pulang dari Haji tidak ada praktek secara khusus dari Nabi Muhammad saw.

Namun bagaimana menurut ulama’ Fiqh ?

Di dalam ilmu Ushul Fiqh dikenal istilah lafadz Mutlak – Muqayyad. Lafadz Mutlak merupakan lafadz yang diungkapkan tanpa batas secara khusus. Seperti sangsi Dzihar pada lafadz:

عِتْقَ رَقَبَةٍ

Artinya: “Memerdekakan budak”

Raqabah (budak) dalam ayat di atas bersifat mutlak, yang penting budak, apakah budak mu’min atau kafir sah dijadikan sangsi Dzihar. Sebab itu sebagian ulama’ membolehkan memerdekakan budak kafir sebagai sangsi dari perbuatan Dzihar.

Sementara lafadz Muqayyad adalah lafadz yang maknanya sudah terbatas. Seperti sangsi pembunahan seseorang yang dilakukan dengan keliru yaitu ayat:

وَمَن قَتَلَ مُؤْمِناً خَطَئاً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ

Artinya: “Barang siapa yang membunuh orang mu’min dengan keliru, maka sangsinya memerdekakan budah yang mu’min”

Kata raqabah pada ayat kedua ini sudah dibatasi dengan kata mu’minah, sebab itu, maka sangsi pembunuhan di atas tidak cukup jika dibayar dengan budak kafir. Lafadz yang demikian disebut dengan lafadz Muqayyad.

Jika kita melihat ayat tentang do’a di atas, Allah swt menganjurkan umat manusia berdo’a kepadanya secara mutlak, tidak dipaksa untuk harus sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi saw. Sehingga tetap dibenarkan berdo’a kebaikan apa saja kepada Allah swt. Apakah dari orang yang haji atau pun bukan.

Sebab itu ulama’ juga menilai sunnah bagi orang yang baru datang dari ibadah haji mendo’akan orang lain, apakah ia diminta berdo’a atau pun tidak. Dalam kitab Hasyiyah Al Bujairomi disebutkan:

وَيُنْدَبُ لِلْحَاجِّ اَلدُّعَاءُ لِغَيْرِهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَإِنْ لَمْ يُسْأَلْ وَلِغَيْرِهِ سُؤَالُ الدُّعاءِ مِنْهُ بِهَا

Artinya: “Sunnah bagi orang yang datang dari haji mendo’akan orang lain dengan ampunan, begitu juga sunnah bagi orang lain untuk meminta do’a kepadanya”

Kesimpulan ulama’ Fiqh inilah yang dijadikan dasar masyarakat Indonesia dalam melanggengkan tradisi meminta do’a kepada orang-orang yang baru datang dari ibadah haji atau umrah.

 

Wallahu a’lam

 

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aliran sesat

Masyarakat Harus Mengetahui Kesesatan Wahabi (4) : Hati-Hati dengan Jargon Kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi

Jargon Wahabi “Kembali kepada al Qur’an dan Sunnah Nabi” sepintas memang benar dan bagus. Karena …

aliran sesat

Masyarakat Harus Mengetahui Kesesatan Wahabi (3) : Wahabi Beraqidah Mujassimah dan Musyabbihah

Mujassimah adalah berkeyakinan bahwa Allah swt terdapat jizim (anggota tubuh) sekalipun jizim tersebut tidak sama …