al azhar
al azhar

Fatwa Ulama Besar Al-Azhar Mesir tentang Virus Corona sebagai Udzur Shalat Jum’at dan Shalat Berjamaah

Ikatan Ulama Besar al-Azhar (Kibar Ulama Al-Azhar) Mesir menggelar rapat pada Ahad, 15 Maret 2020. Rapat atau Bahtsul Masail itu memutuskan, secara fiqih boleh tidak melakukan shalat Jum’at dan shalat berjamaah sebagai tindakan preventif (saddu al dzari’ah) penyebaran virus Corona.

Fatwa Ulama besar al-Azhar ini menitikberatkan pada maslahat dan hajat hidup orang banyak atau dharuriyat al khamsah. Virus Corona sebagai illatnya karena berpotensi menjadi ancaman yang mematikan. Oleh karena itu, konsep maqashid al syariah yang salah satu tujuannya adalah menjaga jiwa (hifdzu Al Nafs) menjadi penting untuk didahulukan.

Titik tekannya menurut sidang para ulama Al-Azhar tersebut, karena virus Corona menyebar dengan cepat dan menjadi wabah global (pandemi). Para ulama juga menganjurkan bagi orang-orang yang sedang sakit maupun kelompok lansia untuk tetap tinggal di rumah dan mematuhi himbauan dari otoritas kesehatan di masing-masing daerah.

Dalam gelar pembahasan tersebut, para ulama besar al-Azhar menyatakan bahwa sebab (udzur) yang membolehkan tidak menunaikan shalat Jum’at dan shalat berjamaah ada dua. Yakni, khawatir dan sakit.

Mereka mendasarkan keputusan ini berdasar pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang menjelaskan bahwa udzur shalat adalah sakit dan takut. Maka, virus corona yang memang sangat mengkhawatirkan menjadi illat bolehnya tidak melaksanakan shalat Jumat dan shalat berjamaah.

Argumentasi berikutnya adalah hadis Nabi:

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «من أكل ثومًا أو بصلًا فليعتزلنا أو قال: فليعتزل مسجدنا وليقعد في بيته”

“Dari Jabir bin Abdullah RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Orang yang makan bawang putih atau bawang merah, maka jauhkanlah diri kalian dari kami (dalam riwayat lain: dari masjid kami), dan menetaplah di rumah.” (H.R al-Bukhari)

Baca Juga:  Argumen Agama: Mencegah Lebih Baik dari Mengobati

Dengan metode qiyas, para pembesar ulama al Azhar tersebut memakai hadist di atas sebagai penguat argumennya. Konteks hadis tersebut menyatakan, Nabi Muhammad pernah meminta seseorang untuk keluar dari masjid dan shalat di rumah saja karena ia baru saja makan bawang. Hal ini karena aroma makan bawang membuat mulut mengeluarkan bau yang tidak enak sehingga akan menggangu jamaah yang lain.

Sedangkan soal adzan, para ulama al-Azhar tetap menganjurkan. Adzan tetap harus berkumandang sebagaimana biasa. Hanya saja, menurut mereka, muadzdzin menambahkan kalimat “Shallu fi buyutikum” (shalatlah di rumah masing-masing).

Lebih lanjut ulama al-Azhar meminta umat Islam untuk berdoa supaya wabah Corona cepat diangkat oleh Allah. Sehingga kehidupan kembali berjalan normal dan bisa melaksanakan ibadah dengan tenang.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

kepanitian kurban

Kepanitiaan Kurban, Apa Saja Tugasnya?

Tidak berapa lama lagi Idul Adha atau Idul Qurban tiba. Umat Islam seluruh dunia sangat …

puasa dzulhijjah

Istri Puasa Sunnah 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Tanpa Ijin Suami, Inilah Pendapat Ulama Madzhab

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah disebutkan dalam al …