nabi muhammad

Mengikuti cara berpakaian Nabi, tetapi sulit mengikuti perangai dan akhlaknya. Meniru cara makan Rasul, tetapi enggan meniru perilaku terpuji Nabi kepada sesama. Selalu makan kurma, tetapi lupa untuk selalu berderma. Jangan-jangan kita mengidap gagal fokus dalam meneladani Rasulullah.

Tidak bisa diragukan bahwa Nabi Muhammad tidak saja sebagai panutan, tetapi menjadi salah satu sumber hukum dalam Islam. Melalui perkataan (qauliyah), perbuatan (fi’liyah) dan pengakuan (taqririyah) Nabi berbagai hukum Islam disandarkan dan digali. Kedudukan Sunnah Nabi dalam pengambilan hukum Islam menempati posisi penting kedua setelah Qur’an.

Karena pentingnya posisi Nabi dalam Islam, umat Islam menjadikan seluruh kehidupan nabi yang berkaitan dengan agama sebagai sumber hukum sekaligus teladan. Kedudukan Sunnah nabi sebagai sumber hukum Islam tidak bisa diragukan lagi. Tidak ada perbedaan sedikitpun dari kalangan sahabat hingga ulama yang mengakui posisi Sunnah nabi sebagai sumber hukum Islam setelah Qur’an.

Saya ingin menegaskan bahwa dalam banyak hal umat Islam gagal fokus dalam meneladani Nabi Muhammad. Mereka mengira apapun yang dilakukan Nabi menjadi wajib dan mendapatkan pahala apabila mengikuti dan haram apabila meninggalkannya. Tentu saja ini menjadi sangat mengkhawatirkan karena kita jatuh dalam sesuatu yang sangat berlebihan dalam beragama.

Misalnya Nabi pernah berdagang apakah umat Islam wajib berdagang? Nabi memakai pakaian ala Arab apakah kita wajib memakainya? Nabi menganjurkan olahraga berenang, memanah, dan berkuda apakah kemudian haram olahraga di luar itu semua? Apakah karena Nabi sering makan kurma berarti makan kurman menjadi Sunnah?

Jangan-jangan kita gagal fokus dalam memahami dan meneladani Nabi. Hal yang fisik kemanusiaan dan sangat terikat dengan zamannya kita ikuti sebagai kewajiban, sementara  hal-hal yang penting dan fundamental dari akhlak Nabi seperti memaafkan, santun, ramah dalam berdakwah, sopan dalam berkata menjadi hal yang mudah ditinggalkan.

Karena itulah, Abdul Wahab Khalaf dalam kitab Ushul Fiqh membagi tiga kategori dari perkataan dan perbuatan Nabi yang bukan sebagai sumber hukum dan tidak wajib mengikuti. Pertama, sesuatu yang datang dari Nabi yang berkaitan dengan tabiat kemanusiaan seperti bangun, tidur, duduk, jalan, makan, minum. Semua hal tersebut bukan bagian dari hukum kecuali ada dalil lain yang menunjukkan hal itu untuk diikuti.

Kedua, sesuatu yang datang dari Nabi berdasarkan pengalaman pribadi, pengalaman dan pemikiran nabi dalam urusan keduniaan seperti perdagangan, pertanian, stratgei perang, resep obat dan lainnya. Perbuatan ini bukan bagian dari syariat dan tidak wajib diikuti. Nabi pernah melarang penduduk Madinah untuk tidak mengawinkan pohon kurma. Akibatnya, pohon kurma dimaksud mengalami gagal panen. Sehingga kemudian Rasul bersabda: “Kalian lebih tahu akan urusan-urusan duniamu.”

Dalam salah satu riwayat lain sebagian Sahabat dalam suatu peperangan bertanya kepada nabi tentang strategis penempatan pasukan pemanah, apakah ini merupakan wahyu atau pandangan Nabi sebagai strategi perang? Nabi berkata: tidak, ini bukan wahyu tetapi pandangan saya. Lalu sahabat memberikan pandangan alternatif strategi lain.

Ketiga, sesuatu yang datang dari Nabi dan ada dalil tentang kekhususan hanya untuk nabi. Dalam kasus ini perbuatan tersebut bukan teladan yang wajib diikuti dan bukan sumber syari’at secara umum. Hal ini misalnya pernikahan Nabi yang lebih dari empat, padahal Nash menunjukkan pembatasan istri dengan jumlah empat.

Hal ini mesti menjadi kesadaran umat Islam bahwa Nabi adalah manusia dengan aktifitas keseharian sebagaimana manusia biasanya. Nabi juga orang Arab dengan budaya dan kebiasaan Arab lainnya. Sisi lain Nabi adalah Rasul sebagai sumber hukum yang wajib diikuti.

Karena itulah, umat Islam harus cerdas meneladani Nabi dengan tidak fokus menyamakan diri dengan Rasul pada aspek kemanusaiaan dan kearabannya, tetapi melupakan unsur syariat dan akhlak Nabi yang sesungguhnya.

Dalam meneladani Nabi kita tetap berpegang pada satu kenyataan bahwa Nabi walaupun dijaga (ma’shum) dari dosa, tetapi Beliau tetap sebagai manusia. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ

Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. (QS: al-Kahfi: 110)

Inilah yang menjadi dasar dalam meneladani Nabi. Muhammad sebagai pembawa syariat Allah dan Muhammad sebagai manusia biasa. Sebagai pembawa syariat segala perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi merupakan sandaran hukum dan wajib diikuti oleh umat Islam. Namun, sebagai manusia biasa Nabi melakukan aktifitas layaknya manusia biasa yang tidak kewajiban untuk mengikutinya kecuali ada dalil yang menetapkan itu sebagai kewajiban dan bagian penting untuk meneladani.

Meneladani Nabi tentu saja menjadi keharusan umat Islam. Namun, gagal fokus berarti mengikuti hal ringan dan manusiawi dari Nabi yang tidak berkaitan dengan tasyri’, tetapi justru menanggalkan hal penting baik urusan ibadah maupun akhlak Nabi. Jadikan Nabi sebagai panutan dalam memperbaiki diri kita.  Jadikan Nabi sebagai idola untuk memperbaiki akhlak kita.