fikih perempuan

Tampilan dan Pakaian Sunnah ( 3 ) Begini Cara Wanita Berpakaian Yang Benar Menurut Islam

Pada dasarnya cara wanita berpakaian tidak berbeda dengan laki-laki. Artinya tidak ada aturan khusus dan cara yang begitu signifikan dalam tentang cara berpakian yang sunnah dan Islam. Kecuali karena ada faktor-faktor yang dapat merugikan kepada orang lain. Berangkat dari hal ini, maka Islam mengatur cara berpakaian untuk wanita untuk menghindari terjadinya mafsadah yang ditimbulkan dari cara berpakaiannya.

Adapun aturan cara wanita berpakaian menurut aturan Islam sebagai berikut :

1.    Menutup Aurat

Begitu juga pada laki-laki, aurat harus ditutup rapat. Hanya saja bedanya laki-laki dan wanita dari aspek sejauh mana aurat yang harus ditutupinya. Bagi wanita, bagian-bagian yang harus ditutupi yaitu seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. Hal ini berdasarkan ayat al Qur’an:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dariya” (QS. An Nur: 31)

Banyak ulama’ Salaf menafsirkan lafadz “ma dhahara minha” (yang biasa nampak darinya) adalah wajah dan telapak tangan. Ini pun yang dijadikan dasar oleh para ulama’ bahwa menutup wajah itu tidak wajib.

2.    Berpakaian dengan kain tebal, bukan kain tipis

Kewajiban berpakaian menggunakan kain tebal ini diperoleh dari mafhum mukhalafah (pemahaman sebaliknya) dari larangan menggunakan kain tipis. Dalam salah satu hadits disebutkan:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Artinya: “Dua golongan menjadi penduduk neraka yang belum aku pernah melihatnya, yaitu satu kaum memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakan untuk memukul orang, dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi sama dengan telanjang, berjalan lenggak lenggok, suka merayu, rambutnya disasak seperti punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak akan masuk syurga dan tidak akan mendapatkan baunya. Padahal, baunya syurga dapat didapat dengan cara seperti ini dan ini” (HR. Muslim)

Banyak ulama’ memberikan pemahaman tentang istilah kasiyah ariyah (pakaian tapi telanjang), yaitu wanita-wanita yang menggunakan pakaian tipis sehingga warna kulit tubuhnya tetap kelihatan. Sehingga berpakaiannya mereka sama saja dengan tidak berpakaian. Sebab itu, hukum berpakaian dengan kain yang tipis adalah haram karena masih belum memperoleh tujuan dari berpakaian tersebut.

Baca Juga:  Hukum Beristighasah ( 2 ) : Beristigahasah kepada Selain Allah, Bagaimana Hukumnya ?

3.    Longgar, bukan pakaian ketat

Pada hakikatnya, berpakaian ketat sama saja dengan kasiyah ariyah. Sekalipun warna kulitnya tidak tampak, tetapi pakaian ketat dapat memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tentu pakaian yang demikian tetap saja dapat memicu syahwat bagi laki-laki yang melihatnya. Sebab itu, Allah swt sangat murka dengan wanita yang berpakaian ketat sebagaimana hadits di atas.

Imam Nawawi mengatakan ada sebagian ulama yang memberikan pemahaman tentang kasiyah ariyah (pakaian tapi telanjang) dengan orang yang menutup badannya tetapi mempertontonkan lekuk tubuhnya. Pakaian yang dapat menonjolkan lekuk tubuh wanita jika pakaian tersebut ketat. Sebab itu hendaknya wanita menggunakan pakaian longgar.

4.    Tidak menyerupai laki-laki

Pada pakaian, ada yang secara khusus digunakan oleh laki-laki dan ada juga untuk perempuan. Misal laki-laki menggunakan sarung, sorban dan kopyah tetapi wanita menggunakan baju kebaya, dan pakaian khas wanita.

Di dalam agama Islam, dilarang laki-laki berpakaian layaknya wanita, begitu juga sebaliknya, wanita tidak boleh berpakaian layaknya laki-laki. Dalam hadits dijelaskan:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

Artinya: “Rasulullah saw melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari)

Secara umum, ini berlaku bagi laki dan wanita. Jadi tidak boleh bagi wanita menggunakan sarung atau sorban yang merupakan pakaian khas laki-laki, begitu juga laki-laki haram menggunakan kebaya.

5.    Tidak berlebihan

Berpakaian terlalu berlebihan termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam. Sebagaimana dalam hadits:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ ، وَلاَ مَخِيلَةٍ

Artinya: “Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bershadaqahlah kalian tapi tidak boleh berlebihan, dan karena sombong” (HR. Bukhari)

Larangan berpakaian berlebihan ini karena akan terkesan perbuatan sombong yang dilarang dalam Islam. Sebab itu, para ulama’ mengaitkan hadits ini dengan hadits-hadits lain yang berbicara tentang ketidak bolehan berbuat sombong. Karena bagaimana pun, sikap tersebut akan menyakiti hati muslim yang berekonomi rendah.

Baca Juga:  Apa Hukum Arisan dalam Islam? Inilah Penjelasannya!

Itulah cara wanita berpakaian yang perlu diperhatikan. Jika kita lihat dari aspek nash-nash di atas, kita akan memahami bahwa larangan tersebut karena ada dampak yang sangat besar seandainya tidak dilakukan. Misal akan memicu syahwat laki-laki sehingga berkeinginan melakukan senggama dengannya. Tetapi apa yang sudah terbiasa dilakukan oleh wanita dan tidak memiliki efek samping apapun, misal melilitkan ujung jilbabnya ke leher, tetapi masih dalam batas menutupi aurat rambut dan leher, atau membuka bagian wajah (tanpa cadar), jangan kemudian diklaim melanggar aturan Islam sampai-sampai disebut ahli neraka. Cukuplah katakan “dia tidak melakukan yang lebih utama”.

Orang yang ahli ilmu akan selalu menjaga lisannya agar tidak menyakiti orang lain. Sebab itulah dalam kitab-kitab fiqihnya ulama’ panutan Islam, perbuatan seseorang yang tidak persis dengan teks nash, tetapi tidak menentang dan tidak memiliki efek negatif baik bagi dirinya atau orang lain, dikatakan sebagai “khilaful awla” atau paling kasarnya dengan sebutan “makruh”.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aswaja

Mengenal Aliran Mujassimah (1) : Siapakah Yang Dimaksud Mujassimah ?

Istilah Mujassimah sebenarnya sudah lama. Bahkan ulama genarasi tiga abad yang pertama telah membahas tentang …

lagu ya thaybah

Lagu Ya Thaybah Syirik, Benarkah ?

Beberapa hari yang lalu, warganet dibuat gemas dengan ujaran artis Five Vi tentang lagu Ya …