Gus Baha
Gus Baha

Gus Baha: Keberagaman Sunatullah, Berbeda Itu Bukan Berarti Musuh

Jakarta – Keberagaman harus dijaga dengan baik supaya hadir kenyamanan dan persatuan di tengah-tengah masyarakat. Hal itu ditekankan oleh KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) pada Harlah ke-49 PPP, Rabu (5/1/2022). Ia meminta  agar kader PPP menjaga keberagaman dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Keberagaman adalah sunnatullah, dalam tradisi para ulama berbeda itu sebuah pengetahuan, beda itu bukan berarti musuh, menghargai perbedaan dan menjaga keberagaman bagian dari ajaran para ulama,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (7/1/2022).

Gus Baha mengatakan politik bukan hal asing bagi umat Islam. Menurutnya, banyak kiai dan ulama yang memberi teladan cara berpolitik yang baik. Seperti almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) yang diyakini mempunyai manhaj atau metode yang bersanad ke Wali Songo hingga Rasulullah SAW.

Salah satu cara berpolitik yang baik menurut Gus Baha yaitu terus berusaha bersama berbagai pihak dengan niat untuk memperbaiki apa yang kurang ideal menjadi ideal, serta hal-hal yang kurang baik menjadi lebih baik.

“Saya pernah menulis naskah ketika Mbah Moen masih sugeng (sehat), sering saya konfirmasikan dan saya mintakan fatwa sama beliau. Di antara orang baik adalah berbuat baik kepada siapa pun. Kita ini ibarat bengkel motor, jika tidak bisa menerima motor rusak tidak usah jadi bengkel, jadi dealer saja,” ujar Gus Baha.

Gus Baha juga menjelaskan Mbah Moen sering mengulang suatu ayat. “Allah saja memperlakukan orang yang zalim dengan 2 cara. Pertama yaitu dengan menyiksa, karena itu hak prerogatif Allah sebagai Tuhan. Lalu yang kedua Allah sebagai pemberi taubat,” ungkapnya.

“Jadi, jangan sampai kita ini memvonis orang buruk, ternyata Allah memberi dia taubat. Dulu orang-orang yang banyak memusuhi Rasulluah yang dikira akan su’ul khotimah ternyata banyak menjadi Ashabu Rasulillah (sahabat Rasulullah), seperti Sayyidina Umar dan sahabat-sahabat yang lain,” lanjut Gus Baha.

Gus Baha melanjutkan, setelah akal manusia mengantarkan iman kepada Allah, maka tugas berikutnya adalah berperilaku simpatik. “Kita punya akal, akal kita merumuskan menemukan Tuhan. Kedua, akal kita gunakan supaya berperilaku simpatik kepada manusia,” tutur dia.

Gus Baha mengingatkan untuk merebut kemenangan atau mendapatkan simpati, agar menggunakan cara yang baik. Sebab kemenangan dalam bentuk apa pun, asal dilakukan dengan cara yang baik tidak akan menghilangkan status kesalehan seseorang.

“Di antara sifat para Nabi diberikan Mulkan Adzima (kekuasaan yang besar). Tentu besar itu bisa dengan arti menang demi kebaikan. Ada satu antitesis pada akhirnya yang menjadi akhir dari perjuangan di antaranya adalah kemenangan,” paparnya.

Dikatakan Gus Baha, para ulama dan tokoh terdahulu yang memiliki kebesaran hati dalam mengelola kompetisi menjadi sebuah simpati. Hal itu menurutnya juga dilakukan oleh para ulama di Tanah Air, termasuk Mbah Moen.

“Tugas kita sebagai manusia harus berperilaku simpatik, awal orang mengikuti kita itu karena simpatik dengan kita. Karena pada dasarnya manusia itu adalah budak kebaikan. Yang harus kita hindari dalam kompetisi adalah pertumpahan darah. Ulama berpolitik, itu seni untuk menghindari pertumpahan darah,” tegasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

TGB Zainul Majdi

Agama Paling Sering Didzalimi Jelang Kontestasi Politik

Surabaya – Mahasiswa dan generasi muda diminta untuk menjaga toleransi dan tidak termakan isu agama …

KH Abun Bunyamin

Gagasan Sesat Fikir, Khilafah Hanya Cara Adu Domba Untuk Tujuan Politik

Purwakarta – Kelompok pengusung ideologi khilafah selalu memanfaatkan momentum untuk dan melancarkan propagandanya. Bahkan, kondisi …