hadiah dari non muslim
hadiah dari non muslim

Fikih Toleransi (5): Menerima Hadiah dari Non Muslim

Rasulullah adalah manusia paling sempurna dalam segala aspek kehidupannya; paling sempurna ibadahnya, pribadi yang paling baik relasinya antar sesama manusia tanpa membedakan jenis kelamin, warna kulit, ras dan golongan, muslim maupun non muslim. Keluhuran pribadi dan akhlak Rasulullah adalah teladan yang harus menyala dalam setiap jiwa muslim.

Untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah kita harus banyak membaca riwayat dan kisah-kisah teladan beliau. Tidak lain tujuannya, karena keimanan seseorang lebih dominan ditentukan oleh seberapa mulia akhlaknya. Pesan beliau, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”.

Di antara teladan Rasulullah yang patut ditiru adalah sikap tolerannya kepada non muslim, yaitu disaat beliau dengan senang hati menerima hadiah atau pemberian dari non muslim.

Hadis riwayat Imam Bukhari mengisahkan Rasulullah pernah menerima hadiah dari Zainab binti al Harits, perempuan Yahudi istri salam bin misykam pada perang Khaibar. Pada saat itu, setelah perang Khaibar selesai dan kemenangan ada di pihak umat Islam, Zainab binti Harits menghadiahkan daging domba panggang yang telah ditaburi racun paling mematikan.

Rasulullah sempat ragu. Namun Zainab binti Harits meyakinkan beliau bahwa daging domba panggang tersebut adalah hadiah, bukan sedekah. Kemudian beliau menerima hadiah tersebut tanpa curiga sedikitpun. Bersama para sahabatnya beliau menyantap hidangan tersebut. Namun, disaat akan menyantap bagian paha depan beliau menyadari adanya racun di daging tersebut. Satu riwayat mengatakan Nabi dibertahu oleh tulang domba yang ada di tangannya bahwa (setelah mendapat wahyu dari Allah) bahwa daging tersebut beracun.

Beliau langsung melarang para sahabat memakan hidangan hadiah Zainab, namun sayang Bisyr bin Barra’ terlanjur menelannya, ia tewas. Kepada Zainab beliau bertanya kenapa melakukan hal tersebut. Ternyata Zainab menaruh dendam sebab beberapa orang terkasihnya tewas dalam perang Khaibar. Alasan lain, kalau benar Rasulullah seorang nabi dan rasul tentu akan selamat dari makanan beracun tersebut. Akhirnya Nabi memaafkan perbuatan Zainab. Zainab kemudian memeluk agama Islam. Seperti dikisahkan oleh Ibnu Hajar al ‘Asqalani dalam kitabnya Fathu al Bari Syarah Shahih Bukhari.

Baca Juga:  Pilih Qadha' Ramadan atau Puasa Sunnah Syawal?

Hadis ini kemudian dijadikan hujjah oleh ulama fikih tentang bolehnya menerima hadiah dari non muslim. Ibnu Qudamah dalam kitabnya al Mughni menyatakan, ulama fikih sepakat boleh menerima hadiah dari non muslim, sekalipun diberikan oleh kafir harbi.

 

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

negara islam

Fikih Politik (2): Bentuk Ideal Pemerintahan Negara dalam Islam

Ada dua tokoh yang sering dijadikan rujukan ketika membicarakan politik Islam. Yakni al Mawardi dan …

kriteria pemimpin

Fikih Politik (1): Kriteria Pemimpin dalam Islam

Tahun politik aromanya telah tercium. Pilpres 2024 mulai menjadi obrolan utama. Di media massa, di …