Habib Luthfi Lampung
Habib Luthfi Lampung

Habib Luthfi: Jangan Gampang Menuduh dan Mengatakan Syirik pada Orang Lain

Lampung Selatan –Gampang menuduh dan mengatakan syirik pada orang lain adalah hal yang tidak patut dilakukan umat Islam. Hal itu diungkapkan Rais Aam Idarah Aliyah JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah) Maulana Habib Luthfi bin Yahya saat pelantikan pengurus Idarah Wustha JATMAN Provinsi Lampung 2019-2024 di Pesantren Darul Maarif Banjar Negeri, Natar, Lampung Selatan, Senin (10/2/2020) malam.

“Syirik itu letaknya di i’tiqad (keyakinan) dan tempatnya i’tiqad di hati,” ujar Habib Luthfi dikutip dari laman nu.or.id.

Ia memberi contoh bagaimana saat ini ada sebagian kelompok yang dengan gampangnya menuduh orang yang ziarah kubur dengan kata syirik. Padahal hanya yang melakukan ziarah dan Allah-lah yang tahu apa yang ada di dalam hatinya.  

“Memperingatkan (orang ziarah) boleh dengan hati-hati jangan sampai melakukan kesyirikan. Tapi kalau nuding (sudah melakukan kesyirikan) itu yang nggak bener,” tegasnya.  

Menurut Habib Luthfi, para ulama terdahulu khususnya tarekat sudah memikirkan bagaimana umat senantiasa menjadi pribadi yang saleh dan memiliki kesucian hati dan prilaku. Para ulama selalu memandang orang lain dengan cara yang baik dan penuh husnuzan (berbaik sangka).  

Di sinilah menurutnya peran tarekat yang mengedepankan kelembutan hati dan kedekatan diri dengan sang Khalik. Tarekat mengupayakan pembersihan diri dari sifat-sifat sombong, takabur, dengki, hasad dan sejenisnya.    

Habib Luthfi menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan tarekat. Banyak kesimpangsiuran dan perbedaan dalam memahami tarekat dan sekaligus ada yang merasa tarekatnya lebih baik dari yang lain.  

“Inti tarekat adalah Lailaha Illallah Muhammadurrasulullah. Ini adalah alat pemersatu. Tarekat manapun tidak pernah meninggalkan zikir. Luasnya kalimat ini (tauhid) tidak terukur,” jelas anggota Wantimpres ini.

Baca Juga:  Hidayah Islam dalam Cerita Sekjen LPOI/LPOK: Puasa, Gemetar dan Pingsan Dengar Azan, Dituntun Wudlu dan Salat Sebelum Mualaf

Habib Luthfi mengibaratkan kalimat tauhid seperti lautan dan tarekat seperti kapal yang berlayar di lautan. Berbagai jenis kapal baik besar maupun kecil dengan keistimewaannya masing-masing berjalan di laut yang sama.  

“Kapal boleh berbeda, kapal boleh terpisah, tapi laut tak bisa dibedakan. Begitu juga bendera boleh banyak tapi ingat, merah putih cuma satu. Setuju?,” katanya dijawab setuju oleh jamaah yang hadir dari berbagai penjuru Lampung.  

Wakil Gubernur Lampung Hj Chusnunia Halim menegaskan Pemerintah Provinsi Lampung akan senantiasa mendukung kegiatan keagamaan khususnya ormas yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka yakni Nahdlatul Ulama.   

“NU adalah perekat NKRI. Utuhnya NKRI betul-betul nyata merupakan sumbangsih salah satunya dari Nahdlatul Ulama. NKRI bisa bersatu yang jadi lemnya adalah keluarga besar NU,” katanya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Dr Moch Syarif Hidayatullah

Mimbar Agama Disalahgunakan Untuk Ideologisasi, Agitasi, dan Politisasi Bukan Hal Baru

Bogor – Mimbar agama menjadi sarana paling efektif untuk menyampaikan banyak hal, paling khusus soal …

bendera arab

Hilal Telah Nampak, Arab Saudi Putuskan Idul Adha 9 Juli, Wukuf di Arafah Tepat Hari Jumat

RIYADH — Hilal Dzulhijjah telah nampak terlihat sehingga Kerajaan Arab Saudi memutuskan untuk menetapkan tanggal …