haji bawa anak
haji bawa anak

Haji Bawa Anak, Bagaimana Hukum dan Tata caranya

Ibadah haji merupakan salah satu dari lima rukun islam yang terdiri dari syahadat, shalat, zakat, puasa dan melakukan haji bagi yang mampu. Ibadah haji merupakan puncak dari rukun islam karena hanya bisa dilakukan di tanah suci makkah dengan waktu yang telah di tentukan.

Yang dimaksudkan dengan mampu untuk melakukan ibadah haji bukan hanya dinilai dari materi yang ia punya saja, namun juga waktu dan tenaga yang akan dikeluarkan ketika di tanah suci. Dalam menjalankan ibadah haji terdapat syarat-syarat yang harus di perhatikan juga dalam pelaksanaannya. Syarat-syarat yang mewajibkan seseorang berhaji ada lima, yaitu Islam, baligh, berakal, merdeka dan mampu.

Namun banyak kita jumpai ditanah suci orang tua yang membawa serta buah hatinya untuk beribadah haji di tanah suci. Meski banyak diantara anak-anak mereka yang belum baligh tetap dibawa serta orangtuanya untuk mendekatkan mereka pada Allah SWT dan ketauhidan.

Lalu, bagaimana hukum hajinya anak kecil yang belum baligh? Apakah hajinya tersebut dapat menggugurkan kewajiban haji baginya?

Ibnu Abbas RA meriwayat sebuah hadist dari Rasulullah, bahwasannya beliau bertemu dengan suatu rombongan di Rauha’, lalu Rasulullah bertanya: “ Kelompok siapa?” mereka menjawab: “ Orang-orang muslim.” Merekapun bertanya: “ Siapa kamu?” “ Utusan Allah” jawab Nabi saw. Seorang perempuan (di antara mereka) mengangkat anak kecil (menunjukkan) kepada Nabi saw. Lalu ia bertanya: “ Apakah (anak kecil) ini juga melaksanakan haji?’ Nabi Saw menjawab: “ iya, dan kamu pun mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).

Dilihat daru hadits diatas, ulama dikalangan Syafiiyyah, Malikiyyah dan Hanbaliah mengatakan bahwa anak kecil itu hajinya tetap sah, namun dianggap haji sunnah. Karena dengan haji yang ia lakukan belum menggugurkan kewajiban haji bagi dirinya. (Al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi, Al-Quds, Kairo, Juz 3, Halaman 110). Karena salah satu syarat wajibnya haji adalah telah memasuki usia baligh.

Baca Juga:  Tradisi Rokat dan Tolak Bala’ dari Covid 19, Ini Pandangan Fikihnya

Jika seorang anak belum mumayyiz, maka walinyalah yang wajib meniatkan ihram, mentalbiyahkan, tawaf dan sai bersamanya, wukuf di Arafah dan melontarkan jumrah untuknya. Bentuk ihram yang dilakukan oleh orang tua dari anak kecil yang belum tamyiz dengan mengucapkan di dalam hatinya, “Aku jadikan anak ini ihram” (Syarah Muslim 9/100)

Ibadah haji tidaklah wajib bagi anak kecil yang belum baligh. Mayoritas ulama mengatakan bahwa hajinya anak kecil itu tetap dihukumi sah, namun ibadah haji tersebut belum menggugurkan kewajiban haji karena ia tidak memenuhi satu syarat yakni baligh.

Ibadah haji yang dilakukan anak-anak dihukumi haji sunnah, bukan haji wajib. Jadi, ketika sang anak sudah menginjak baligh, tetap diwajibkan baginya untuk melaksanakan ibadah haji kembali, dengan catatan anak kecil itu melakukan rukun-rukun dan kewajiban haji dengan sempurna.

Selain meninjau dari segi fiqih, kita juga perlu meninjau dari segi realita yang ada di lapangan. Banyaknya kecelakaan yang terjadi pada Jemaah haji dewasa dan lansia, banyak dari mereka yang terinjak-injak ketika berdesak-desakan di beberapa tempat untuk beribadah. Sehingga banyak dari mereka yang wafat ketika menjalankan ibadah haji. Artinya, terlalu besar resiko dalam melaksanakan ibadah haji, dan anak kecil tidak akan memiliki pertahanan yang kuat dibandingkan orang dewasa. Alangkah baiknya jika faktor keamanan dan kekhusukan di tanah suci juga dijadikan prioritas supaya tidak mengganggu para Jemaah yang lainnya.

 

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

antrian haji

Antrian Haji dan Tanggungjawab Sosial Mengatasi Kemiskinan

Gairah haji masyarakat dari tahun ke tahun tidak pernah surut. Impian untuk melengkapi rukun Islam …

hajar aswad

Sejarah dan Penelitian Sains tentang Hajar Aswad

Batu Hajar Aswad merupakan batu yang memiliki nilai sejarah bukan hanya bagi agama Islam namun …