itikaf
itikaf

Mengejar Lailatul Qadar dengan Beri’tikaf? Pahami Niat, Hukum, dan Tata Caranya

Tak terhitung jumlah berapa fadhilah dan kekhasan bulan Ramadan yang akan Allah berikan kepada muslim yang shaimin wa shaimat, ibadah sunnah sepadan dengan ibadah fardhu, dan pahala ibadah fardhu menjadi double hingga tujuh puluh kali lipat. Demikian juga amalan ibadah lainnya, mengalami deflasi besar-besaran saat dilakukan di malam bulan Ramadan (qiyam al-lail), apalagi menjelang pemburuan Lailatul Qadar di sepuluh terakhir bulan Ramadan terutama di malam-malam ganjilnya.

I’tikaf menjadi ibadah favorit untuk mencari dan menggapai Lailatul Qadar dengan tergiur dengan  begitu besar dan banyaknya pahala yang Allah janjikan bagi orang yang beri’tikaf. Di Indonesia, i’tikaf ramai dilakukan,  biasanya saat sepuluh malam terakhir, terutama di malam-malam ganjilnya, umat muslim berangkat ke masjid umum atau pun masjid jami’ untuk melakukan ibadah i’tikaf yang diisi dengan berbagai macam ketaatan. Ada yang dzikir, ada pula yang membaca al-Qur’an. Ada yang shalat tasbih, ada pula yang shalat hajat. Sesuai dengan keyakinan mereka.

Namun sayang, banyak kekeliruan yang kita temui saat beri’tikaf. Di antaranya adanya persoalan yang memalingkan dari tujuan ber’itikaf, misalnya di saat-saat malam ganjil tanggal 21, 23, 25,27 dan 29, banyak saudara kita yang berangkat dari rumah lengkap menggunakan busana muslim namun tujuan beri’tikafnya menjadi dilupakan sebab ia terlebih dahulu mampir diemperan-emperan jalan yang diisi oleh para pedagang yang bermacam-macam barang dagangannya di ssekitar masjid atau alun-alun untuk berbelanja atau sekedar melihat-lihat saja.

Lantas bagaimana sesungguhnya I’tikaf itu?

Definisi I’tikaf

I’tikaf esensinya adalah “ Berdiam diri di dalam masjid dengan niatan mendekatkan diri kepada Allah “

Keutamaan I’tikaf

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama bersabda :

Baca Juga:  Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

من مشى فى حاجة اخيه كان خيرا له من اعتكاف عشر سنين ومن اعتكف يوما ابتغاء وجه الله عزوجل جعل الله بينه وبين النار ثلاث خنادق كل خندق ابعد مما بين الخافقين

“Barangsiapa yang berjalan kaki di dalam membantu keperluan saudara muslimnnya, maka itu lebih baik baginya dari pada I’tikaf sepuluh tahun lamanya. Dan barangsiapa yang beri’tikaf satu hari karena mengharap ridha Allah Swt, maka Allah menjadikan di anatara dia dan api neraka jarak sejauh tiga parit. Jarak setiap parit dari parit lainnya jaraknya sejauh langit dan bumi”.” HR: Thabrani, 2423 

Hadits lain menyebutkan:

من اعتكف عشرا فى رمضان كان كحجتين وعمرتين

Barang siapa yang melakukan I’tikaf sepuluh hari/malam di bulan Ramadan maka seperti melakukan dua kali ibadah haji dan dua kali ibadah umrah. HR. Baihaki: 3794

Hukum I’tikaf

Hukum I’tikaf bisa bermacam, Pertama, WAJIB, jika dinadzarkan. Kedua, SUNNAH, dan inilah hukum asalnya dan lebih dtekankan lagi di bulan Romadhan. Ketiga, MAKRUH, Yaitu I’tikafnya perempuan yang masih memiliki body aduhai dengan idzin suami dan aman dari fitnah.keempat, HARAM tapi sah yaitu I’tikafnya perempuan tanpa idzin suami atau dengan idzin suami tapi tidak aman dari fitnah. Kelima, Haram dan tidak sah yaitu I’tikafnya orang yang junub atau perempuan yang haidh.

Syarat I’tikaf

Pertama, Niat. dalam hati

نويت الاعتكاف في هذا المسجد لله تعالى

Nawaitul I’tikafa fi hadzal masjidi lillahi ta’ala

“ Saya niat I’tikaf di masjid ini karena Allah Ta’ala “

Kedua, Suci dari hadats besar.

Ketiga, Berakal. Jika di tengah-tengah I’tikaf dia menjadi gila, maka batal I’tikafnya.

Keempat, beragama Islam, karena I’tikaf syari’at Islam

Baca Juga:  Fikih Gender (6) : Gejolak Asmara antara laki laki dan Perempuan dalam Islam

Kelima, Berdiam diri minimal seukuran tuma’ninah sholat lebih sedikit ( Sekitar 5 detik )

Keenam, Berada di dalam masjid. Maka tidak sah I’tikaf di mushollah, pesantren, ataupun di rumah

Bagaimana dengan perempuan yang tidak bisa secara teori melakukan I’tikaf di masjid? Bisakah ia beri’tikaf dalam rumah?

Khusus bagi kaum hawa yang tidak beri’tikaf di masjid, masih bisa ber’itikaf di dalam rumah dan pahalanya pun sama sebagaimana I’tikaf di dalam masjid. Dalam pandangan madzhab Hanafiyah, qaul mu’tamad (pendapat yang kuat) dan boleh diikuti mengingat situasi dan kondisi sekarang ini bagi wanita yang keluar dari rumah sering terjadi fitnah. “ perempuan sah beri’tikaf dalam rumah jika memiliki kamar khusus untuk beribadah“.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

doa iftitah

Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

“iini wajjahtu itu, kalau Anda teliti kitab haditsnya, itu bukan doa iftitah, tapi doa setelah …

akhlak

Ciri Gagal Beragama : Mementingkan Iman dan Syariat, Mengabaikan Akhlak

Di negeri yang seratus persen menjalankan agama secara kontinu, namun ironis, Tindakan korupsi makin menjadi …