spirit doll
spirit doll

Hati-Hati dengan Spirit Doll, Ini Dampak Hukumnya !

Bermain boneka bukan lagi permainan baru, sejak masa Nabi saw, bermain boneka sudah ada. Misal Sayyidah Aisyah ra yang memiliki boneka sebagaimana dalam disebutkan dalam Shahih Bukhari:

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي فَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي

Artinya: “”Aku pernah bermain bersama anak-anak perempuan di dekat Nabi saw, dan aku juga mempunyai teman-teman yang biasa bermain denganku, apabila Nabi saw masuk, mereka bersembunyi dari beliau. Sehingga beliau memanggil mereka supaya bermain bersamaku” (HR. Bukhari)

Membiarkannya Nabi saw terhadap Sayyidah Aisyah ra bermain boneka kemudian  mayoritas ulama’ Fiqh menyimpulkan tidak bermasalah bermain boneka untuk anak kecil begitu juga membuatnya[1].

Tapi ini bukan lagi masalah bermainnya, tapi memberlakukan boneka layaknya manusia karena meyakini memberikan kebaikan, bukan sekedar hiburan belaka. Dan bukan lagi boneka sebagai permainan anak-anak tetapi sebagai ritual mendatangkan keberuntungan. Inilah yang disebut dengan Spirit Doll yang hampir menjadi tradisi baru di Indonesia.

Spirit Doll adalah boneka yang diberlakukan layaknya bayi; diberi makan, minum, pakaian dan sebagainya. Menariknya, yang memelihara boneka Spirit Doll ini bukan lagi anak kecil, tetapi orang-orang dewasa. Bahkan yang banyak menggandrunginya adalah dari kalangan artis dan selebritis. Karena meyakini boneka tersebut dapat memberikan kebaikan dalam hidupnya.

Membahas Spirit Doll setidaknya melihat dari dua sudut masalah; Pertama, Memelihara Spirit Doll, dan Kedua, Meyakini boneka tersebut memberikan keberuntungan.

Pada dasarnya membuat boneka hukumnya haram, begitu juga memainkannya, sebab Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar, patung atau bentuk-bentuk yang menyerupai hewan, di antaranya seperti boneka[2]. Hanya saja ulama’ mengecualikan terhadap boneka yang dimainkan oleh anak-anak kecil, yang demikian hukumnya boleh karena ada kebutuhan sebagai latihan dalam belajarnya[3].

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Tanggung Jawab Berbanding Maslahat

Lalu pada Spirit Doll kebutuhan apa sekiranya seseorang memelihara boneka tersebut ? Faktanya, pernyataan orang-orang yang memelihara Spirit Doll bukan karena ada faktor keterpaksaan yang mendorong orang tersebut harus memeliharanya. Sehingga keringanan yang berlaku kepada anak kecil, sudah tercabut sebab tidak ada alasan lagi. Dalam Kaidah Fiqh dijelaskan:

اِذَا زَالَتِ الْعِلَّةُ عَادَ الْمَعْلُوْلُ

Artinya: “Apabila sudah hilang illat suatu hukum, maka persoalan tersebut kembali kepada hukum asalnya” [4]

Dalam aspek ini maka jelas membuat serta memelihara Spirit Doll hukumnya haram.

Kemudian, apabila meyakini Spirit Doll dapat memberikan keberuntungan ini, maka jelas ini merupakan kesyirikan yang nyata. Sebab tidak ada satu dzat pun yang bisa memberikan manfaat dan mudharat selain Allah swt. Di dalam Al Qur’an disebutkan:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ

Artinya: “Katakanlah olehmu Muhammad: Aku tidak memiliki manfaat untuk diriku begitu juga mudharat kecuali dengan kehendak Allah” (QS. Al A’raf: 188)

Seandainya ini dijadikan sebagai perantara untuk memperoleh hajatnya, maka setidaknya ada sudut pandang kelebihan dari boneka tersebut, semisal kemulyaan karena pernah berkaitan dengan orang-orang mulya, seperti baju, rumah dan makam para Nabi dan waliyullah. Lantas pada Spirit Doll, kemulyaan dari aspek apa yang ada ?

Kemudian yang paling terpenting di dalam tawassul, tidak boleh sampai meyakini benda yang dijadikan wasilah adalah yang memberikan kebaikan, harus tetap berkeyakinan Allah swt yang memberikan kebaikan. KH. Muhyiddin Abdus Shamad berkata:

وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَعْتَقِدَ الْمُسْلِمُ أَنَّ الْأَعْيَانَ تَجْلِبُ الْبَرَكَةَ بِنَفْسِهَا

Artinya: “Orang muslim tidak boleh berkeyakinan bahwa benda tersebut yang memberikan kebaikan”[5]

Kenyataannya, mereka merawat Spirit Doll layaknya anaknya sendiri semata-mata karena berkeyakinan boneka tersebut memberikan keberuntungan. Bukan meyakini Allah swt yang memberikan keberuntungan karena mencintai boneka tersebut.

Baca Juga:  Fikih Toleransi (5): Menerima Hadiah dari Non Muslim

Maka kesimpulannya sudah jelas, memelihara Spirit Doll hukumnya tidak hanya sekedar haram tetapi sudah masuk ke dalam jurang kesyirikan.

[1] Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz 12, Hal 112

[2] Sulaiman al Bujairomi, Tuhfatu Al Habib Ala Syarhi Al Khatib, Juz 4, Hal 226

[3] AL Qalyubi, Hasyiyata al Qalyubi, Juz 3, Hal 298

[4] Muhammad Mahmud al Hariri, Al Madkhal Ila Al Qawaidi Al Fiqhiyah, Hal 121

[5] Muhyiddin Abdus Shamad, Al Hujaju Al Qat’iyah, Hal 160

Bagikan Artikel ini:

About Ernita Witaloka

Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember Takhassus Fiqh Siyasah

Check Also

etika dakwah

3 Etika Dakwah yang Harus Dipegang Oleh Da’i

Berdakwah merupakan anjuran dalam Islam. Anjuran ini berlaku secara umum baik kepada laki-laki atau perempuan, …

mendoakan non muslim

Begini Hukum Mendoakan Non Muslim Yang Sudah Mati

Sejak pertamakali Islam menginjakkan ajarannya di Nusantara ini, hubungan emosional antar umat tetap saja terjaga. …