santri mengikuti kajian kitab kuning di pondok pesantren nurul
santri mengikuti kajian kitab kuning di pondok pesantren nurul

Ingin Selamat, Jangan Belajar Tanpa Guru Mumpuni, Ini Alasannya

Jakarta – Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dimulai dari sejak lahir hingga wafat, karena dengan bekal ilmu seorang muslim akan selamat didunia maupun diakhirat kelak, oleh karena itulah dalam menuntut ilmu harus melalui guru yang bersambung sanadnya hingga rasulullah, tidak bisa sembarangan terlebih belajar sendiri, maka seorang guru atau ulama yang bersanad dan faqih menjadi keharusan agar selamat dan tidak salah dalam memahami ilmu agama.

Kewajiban menuntut ilmu didasarkan dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda sebagai berikut:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah)

Melansir laman askthescholar.com dan dikutip dari laman detik.com Senin, (10/01). ulama asal Kanada Syekh Ahmad Kutty mengatakan, namun demikian apakah kewajiban menuntut ilmu itu boleh dilakukan asal tanpa ada bimbingan dari seorang guru atau ulama yang mumpuni dan bersanad? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Syekh Ahmad Kutty mengutip riwayat berikut:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ.

قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ.

قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah ﷺ. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

Dia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”

Rasulullah ﷺ menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkannya.

Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”

Dia bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi ﷺ menjawab, ”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”

Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab, ”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no 8]

Pelajaran yang harus kita petik dari kisah di atas adalah bahwa kita harus mempelajari agama kita dari sumber yang benar. itulah sebabnya Nabi bersikeras untuk mengajar para sahabatnya. Oleh karena itu, pada masa sahabat pria dan wanita belajar Islam langsung dari lisan Nabi Muhammad, yang kemudian menyebarkannya kepada orang lain.

Para sahabat Nabi selalu berusaha mempelajarinya dengan cara yang benar dari Nabi, jika mereka tidak hadir, mereka akan mempelajarinya dari orang-orang yang ada di sekitar. Nabi memberi tahu mereka yang hadir di sekitar, biarkan mereka yang hadir mengajarkannya kepada mereka yang tidak hadir.

Itulah dasar transmisi pengetahuan, sesuai  metode yang diteladankan Nabi Muhammad  ﷺ adalah bahwa kita harus belajar dari yang berilmu. Oleh karena itu, tugas kita untuk belajar agama dari mereka yang memenuhi syarat dan terlatih untuk menyampaikan.

Ibnu Sirin berkata, “Ilmu ini (tidak terpisahkan dengan) agama,  perhatikan dari siapa kamu mempelajarinya!”

Jadi, sebelum memilih seorang guru, perlu bertanya, Apakah orang ini memenuhi syarat untuk mengajar? Apakah dia memiliki kemampuan untuk mengajar? Apakah dia juga orang yang berintegritas yang mempraktekkan apa yang dia ajarkan? Setelah memastikan fakta-fakta ini, seorang muslim dapat mempelajari secara langsung atau online.

Namun, belajar langsung dari guru adalah cara yang ideal. Dalam konteks ini, ada baiknya untuk merenungkan pernyataan Imam Malik berikut ini. “Saya mendengar tujuh puluh orang duduk di dekat pilar-pilar ini (dia berkata sambil menunjuk ke pilar-pilar masjid Nabi yang berbeda) semua orang akan berkata, Rasulullah bersabda demikian. Tapi saya tidak pernah repot-repot untuk mentransmisikan hadis dari mereka, bukan karena saya meragukan kesalehan mereka, tetapi karena mereka tidak ahli dalam hadits.”

Jadi, saat memilih seorang guru, seseorang juga harus melihat apakah dia memiliki keahlian untuk mengajar mata pelajaran tertentu yang dia ajarkan juga.

Kami mengikuti aturan ini ketika kami mempelajari semua cabang pengetahuan. Ironisnya, hal itu tidak kita terapkan ketika memulai studi Islam. Kami tidak pernah repot-repot meminta bukti, kita terbawa oleh pidato atau ketenaran atau kharisma.

Pelanggaran aturan di atas telah menimbulkan konsekuensi serius, Seperti yang dikatakan Imam Hasan Al Bashri, “Mereka yang bertindak tanpa pengetahuan yang baik akan berakhir dengan menghancurkan lebih dari yang mereka bangun.” Dia bermaksud mengatakan bahwa kurangnya pengetahuan yang baik adalah akar penyebab ekstremisme dalam Islam.

Kita dapat memverifikasi fakta ini ketika kita melihat kekacauan dan kekerasan yang dilakukan oleh para pemimpin yang tidak terlatih seperti itu di seluruh negara Islam.

 

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

TGB Zainul Majdi

Agama Paling Sering Didzalimi Jelang Kontestasi Politik

Surabaya – Mahasiswa dan generasi muda diminta untuk menjaga toleransi dan tidak termakan isu agama …

KH Abun Bunyamin

Gagasan Sesat Fikir, Khilafah Hanya Cara Adu Domba Untuk Tujuan Politik

Purwakarta – Kelompok pengusung ideologi khilafah selalu memanfaatkan momentum untuk dan melancarkan propagandanya. Bahkan, kondisi …