teroris
teroris

Hati-hati! Inilah Daftar Kitab Rujukan Kelompok Teroris

Perlu diketahui dulu, Islam tidak pernah mengajarkan terorisme. Toh kalau selama ini ada pelaku terorisme yang mengaku beragama Islam itu tidak lebih hanya untuk cuci tangan dari perbuatan tak berperikemanusiaan tersebut. Tidak ada paksaan dalam Islam, tak pula Islam mengajarkan kekerasan, terorisme, apalagi meledakkan bom untuk membunuh orang lain. Dalam Kalam Allah ataupun hadis Nabi tidak ada satupun yang memerintah demikian.

Tapi kenyataannya ada kok umat Islam yang menjadi teroris? Benar, faktanya memang ada. Mereka korban doktrin jihad “palsu” atas nama Islam. Keluguan dan kedangkalan ilmu agama dan nalar pikir mereka dimanfaatkan oleh kelompok yang sebenarnya bertujuan untuk merusak agama Islam.

Kenapa bisa semudah itu orang percaya doktrin sehingga rela menumbalkan dirinya untuk mati? Para teroris itu punya banyak cara. Di antaranya dengan menulis kitab atau buku berbahasa Arab yang isinya seolah-olah adalah hukum Islam yang benar. Tentang jihad yang dimaknai asal bunuh orang kafir dan orang yang tak sehaluan.

Banyak buku yang dijadikan sandaran kelompok teroris dan juga ditulis oleh tokoh jaringan terorisme global dalam rangka menjustifikasi tindakan teror yang mereka doktrinkan sebagai jihad. Di antara beberapa buku memang tidak bicara secara langsung berbicara tentang doktrin teror tetapi sebagai motivasi dan landasang untuk meradikalisasi individu/kelompok teroris.

Dan di antara buku yang menjadi rujukan kelompok teroris dalam mendoktrin para pengikutnya adalah Ma’alim fi al Thariq karya Sayyid Qutub, Al Wala’ wa al Barra’ disusun oleh pimpinan al Qaeda Dr. Aiman al Zawahiri, Ayat al Rahman fi Jihad al Afghan ditulis oleh Abdullah Azzam, Al Irhab min al Islam wa man Ankara Dzalika Faqad Kafara dan buku al ‘Umdah fi I’dad al ‘Uddah karya Sayyid Imam atau Abdul Qadir bin bin Abdul Aziz, Da’wah al Muqawamah al Islamiyah al ‘Alamiyah yang ditulis oleh pentolan al Qaeda Abu Mus’ab al Suri, Idarah al Tawahhusi karya Abu Bakar Naji, seorang yang diangkat sebagai ulama oleh al Qaeda, dan paling berbahaya adalah buku  Masail min Fiqh al Jihad ditulis oleh Abu Abdullah al Muhajir dari Mesir.

Baca Juga:  Pentingnya Toleransi dan Menjaga Silaturahmi Prespektif KH. Hasyim Asy’ari

Buku yang disebut terakhir memiliki daya pikat menipu luar biasa yang mampu menghipnotis seseorang yang ilmu agamanya masih lugu dan dangkal, dan menjadi sihir yang sangat mempengaruhi jiwa kotor yang dipenuhi nafsu duniawi. Buku setebal 600 halaman tersebut isinya sangat mengerikan. Pada permulaan saja sudah membahas “Memenggal kepala orang kafir adalah sah”, “boleh memutilasi tubuh korban”, bunuh diri juga perintah agama, dan ada pula bahasan “darah semua orang kafir adalah halal”.

Tampak di sini, buku-buku yang lain sebenarnya tak jauh beda, mereka benar-benar melakukan distorsi terhadap ajaran agama Islam yang telah digariskan oleh Nabi. Maksudnya tidak lain untuk mengabsahkan tindakan kejam terorisme dengan menjual agama Islam.

Kesalahan paling menyolok dalam buku ini adalah ketika mengatakan bolehnya membunuh orang kafir secara mutlak, baik warga sipil, anak-anak, wanita, orang tua, pendeta, dan siapa saja yang penting kafir.

Jauh bukan dari ajaran Nabi? Ya, benar. Ini jihad gila, konsep jihad yang yang memang dibuat-buat untuk suatu kepentingan. Karena ambisi duniawi hasutan setan dan dalam upaya merusak agama Islam. Dan, bagi yang percaya berarti termasuk tipe manusia berwatak retak.

Apa solusinya supaya generasi Islam khususnya di Indonesia selamat dari jebakan kaum teroris? Tidak susah, pesantren-pesantren tradisional yang diprakarsai oleh para ulama pengusung Ahlussunah wal Jama’ah solusi paling jitu. Menyebut yang paling dominan adalah pesantren NU dan Muhammadiyah. Dua organisasi paling diminati oleh umat Islam Nusantara karena sifatnya yang mencerminkan Islam yang rahmatan lil’alamin.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

khilafiyah

Menyoal Khilafiyah : Kenapa Dalilnya Sama, Tetapi Hukumnya Beda?

Kata Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam kitabnya al Sawa’iq al Mursalah, “Terjadinya perbedaan di kalangan …

Ustad Adi Hidayat

Soal Adi Hidayat dan Imam al Zuhri : Kasus Sama, Endingnya Beda

Adi Hidayat kembali berulah. Setelah sebelumnya menyatakan doa iftitah tidak ada dalil hadisnya, kali ini …