doa nabi
doa nabi

Hukum Beristighasah (1) : Inilah Hukum dan Dalilnya !

Di antara ciri khas Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu senang berisitighasah. Istighasah sendiri artinya ialah meminta pertolongan ketika dalam keadaan susah, baik kepada Allah swt, para Nabi, awliya’ atau orang-orang shaleh lainnya. Istighasah hakikatnya adalah do’a. Hanya saja, do’a digunakan untuk permintaan secara umum, baik dalam keadaan susah atau tidak. Sementara istighasah lebih khusus kepada kondisi susah saja.

Istighasah adalah perbuatan ibadah yang disyariatkan oleh agama. Di dalam al Qur’an disebutkan:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Artinya: “ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” (QS. Al Anfal: 9)

Ayat ini menjelaskan tentang Rasulullah saw yang meminta pertolongan kepada Allah swt pada saat berkecamuknya perang Badar. Kekuatan umat Islam tidak seimbang dengan kekuatan musuh, dimana kekuatan musuh dari kafir Quraisy saat itu sekitar tiga kali lipat dibanding kekuatan umat Islam.

Ayat lain yang juga menunjukkan disyariatkannya istighasah yaitu:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Artinya: “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan (QS. An Naml: 62)

Oleh ulama’, kedua ayat di atas dijadikan dalil akan kesunnahan melakukan istighasah ketika terjadi kesulitan pada orang tersebut.

Dalam riwayat Ibn Mas’ud ra juga disebutkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا نَزَلَ بِهِ هَمٌّ أَوْ غَمٌّ قَالَ: يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

Artinya: “Apabila datang kegelisahan dan kesedihan kepada Rasulullah saw, maka ia berdo’a: Wahai dzat yang maha hidup yang maha kekal, berkat rahmat_Mu saya memohon pertolongan” (HR. Al Hakim)

Hadits tersebut jelas-jelas mengajarkan kepada umat Islam untuk meminta pertolongan kepada Allah swt manakala ditimpat musibah atau kesulitan.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Pengikut Harus Ikut

Hukum Bertawassul

Di dalam kitab al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, membagi hukum bertawassul kepada empat macam:

1. Mubah, yaitu meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup dan orang tersebut mampu menolongnya.

2. Sunnah, yaitu apabila meminta pertolongan kepada Allah atau sifat-sifat Allah manakala terjadi kesusahan.

3. Wajib, yaitu meminta pertolongan kepada seseorang yang mana seandainya ia tidak minta pertolongan, maka akan terjadi bahaya kepada orang tersebut. Contohnya, seseorang yang diancam akan dibunuh, sementara ada orang yang mampu menghalangi dari apa yang diancamkannya tersebut. Maka orang tersebut wajib meminta pertolongan kepadanya.

4. Haram, yaitu meminta pertolongan kepada orang yang tidak mungkin bisa menolongnya, dan tidak bertujuan untuk meminta kepada Allah swt. Bahkan sebagian ulama’, menyebutkan istighasah yang semacam ini sudah masuk kepada perbuatan syirik[1].

Itulah dalil beserta hukum yang berkaitan dengan istighasah. Umat Islam melakukan amaliyah ini semata-mata karena anjuran dalam agama, bukan karena hawa nafsu semata. Oleh karena itu, amaliyah istighasah terus dilestarikan khususnya warga Nahdhiyin yang menjaga erat-erat ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang merupakan sebenarnya agama Islam.

Wallahu a’lam


[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Juz 4, Hal 22-28

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

lagu ya thaybah

Lagu Ya Thaybah Syirik, Benarkah ?

Beberapa hari yang lalu, warganet dibuat gemas dengan ujaran artis Five Vi tentang lagu Ya …

aswaja

Benarkah Abu Hasan Al Asy’ari Meyakini Allah Swt Berada di Arsy ?

Sudah berabad-abad lamanya, umat Islam yang sampai pada kita saat ini mayoritas bermadzhab Asya’iroh, yaitu …