doa

Hukum Beristighasah ( 2 ) : Beristigahasah kepada Selain Allah, Bagaimana Hukumnya ?

Banyak redaksi-redaksi do’a yang isinya secara lafdzi meminta pertolongan kepada selain Allah swt. di antara redaksi tersebut yaitu seperti yang lumrah dibaca oleh warga Nahdhiyin manakala tertimpa musibah atau kesulitan:

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ

Artinya: “Ya Allah, semoga memberikan shalawat kepada gusti kami, namanya Muhammad. Sungguh-sungguh telah sempit usahaku, maka pertemukanlah wahai Rasulullah”

Do’a tersebut dikenal dengan nama shalawat Mukhathab. Isi shalawat tersebut sebenarnya beristighasah kepada Nabi Muhammad saw. untuk diberikan jalan yang mudah manakala segala usaha sudah tidak juga memperoleh hasil.

Istighasah dengan redaksi seperti di atas, sering kali dipersoalkan oleh kelompok Salafi Wahabi. Mereka menganggap ini adalah perbuatan syirik karena meminta pertolongan kepada selain Allah swt. Padahal, tidak ada satu dzat pun selain Allah swt yang dapat memberikan kebaikan. Berarti orang-orang yang beristighasah dengan cara seperti demikian, telah syirik dalam aspek tauhid Rububiyah.

Benarkah demikian hukumnya ?

Tentu tidak. Seandainya beristighasah kepada selain Allah swt merupakan perbuatan syirik, maka banyak ulama’ Salaf telah syirik terlebih dahulu, begitu juga Rasulullah saw sendiri.

Anas bin Malik ra mengisahkan bahwa di zaman Rasulullah saw, penduduk Madinah pernah dilanda kemarau panjang. Pada suatu hari, tatkala Rasulullah saw sedang berkhutbah, seorang laki-laki bangun dan berkata: “Telah binasa binatang ternak, telah binasa kehidupan, maka mintalah kepada Allah agar Ia menurunkan hujan kepada kita”. Lalu Rasulullah saw menjulurkan tangannya dan berdo’a.  

Riwayat Anas bin Malik ra tersebut mengisahkan tentang seorang laki-laki yang meminta pertolongan kepada Nabi Muhammad saw karena saat itu tertimpa musibah kemarau panjang, dan tidak langsung memina kepada Allah swt. Seandainya meminta pertolongan kepada selain Allah swt dianggap perbuatan syirik, maka sahabat tersebut berarti telah syirik. Namun faktanya, justru Nabi Muhammad saw mengabulkan permintaannya.

Baca Juga:  8 Hal yang Disunnahkan Menyambut Idul Fitri

Imam Bukhari meriwayatkan hadits dalam kitabnya dari Abdullah bin Umar ra:

إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُو يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الأُذُنِ فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوا بِآدَمَ ثُمَّ بِمُوسَى ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Sesungguhnya matahari akan mendekat kepada manusia di hari kiamat kelak, sehingga keringat sebagian orang keluar hingga mencapai separuh telinganya, ketika mereka berada pada kondisi seperti itu, mereka meminta pertolongan kepada Nabi Adam as, kemudian Nabi Musa as dan kemudian Nabi Muhammad saw” (HR. Bukhari dan lainnya)

Hadits lain diriwayatkan oleh al Thabari dari Ibn Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda;

إِنَّ لِلّهِٰ مَلَائِكَةً فِي الْأَرْضِ سِوَى الْحَفَظَةِ يَكْتُبُوْنَ مَا سَقَطَ مِنْ وَرَقِ الشَّجَرِ فَإِذَا أَصَابَ أَحَدُكُمْ عَرْجَةً بِأَرْضٍ فَلَاةٍ فَلْيُنَادِ أَعِيْنُوْا عِبَادَ اللهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah swt memiliki para malaikat di bumi selain malaika Hafadzah, mereka yang menulis daun-daun yang berguguran. Maka jika seseorang  kalian ditimpa kesulitan di suatu padang maka hendaklah menyeru: Tolonglah aku wahai hamba Allah” (HR. Al Thabari)

Riwayat-riwayat shahih di atas cukup rasanya sebagai bukti bahwa beristighasah kepada selain Allah swt bukanlah perbuatan yang dilarang dalam Islam, melainkan anjuran yang disunnahkan. Adapun klaim syirik dari Salafi Wahabi selama ini, menunjukkan minimnya mereka terhadap literatur hadits dan kemampuan memahami maqashid assyar’iyah. Jelaslah apa yang mereka katakan tentang beristighasah kepada selain Allah swt adalah syirik merupakan perbedaan aqidah mereka dengan Rasulullah saw, para sahabat dan umat Islam.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember