dakwah sunan ampel

Belajar Dakwah Sunan Ampel : Tidak Butuh Banyaknya Dalil, Tapi Keanggunan Adaptasi Bahasa

Selain kecakapan dalam ilmu agama, seorang dai sejatinya harus memiliki kecerdasan sosial dan budaya dalam menyampaikan pesan keagamaan. Tidak bisa serta merta penceramah hanya membanjiri ceramahnya dengan sejuta dalil, tetapi tidak mampu mengena dan menarik simpati. Karena itulah, Rasulullah pernah berkata kepada Sahabat Anas : aku diperintahkan berbicara dengan orang-orang sesuai kemampuan akal mereka.”

Strategi itulah yang digunakan oleh para pendakwah di nusantara yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Raden Rahmat atau biasa dikenal sebagai Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang sangat piawai dalam strategi dakwah kultural. Beliau merupakan putra dari Syeh Maulana Ibrahim yang dikenal sebagai Sunan Gresik.

Sunan Ampel merupakan pencetus kerajaan Islam yang pertama di pulau jawa sekaligus beliau juga menjadi pencetus dalam pembangunan masjid di kerajaan Demak. Salah satu metode dakwah yang diusung oleh sunan Ampel adalah metode dakwah moh limo. Yakni, moh main, moh minum, moh maling, moh madat, dan moh madon.

Ajaran moh limo inilah yang pernah dipakai Sunan Ampel dalam melakukan dakwah di kerajaan Majapahit dilakukan dengan sangat cepat sebelum kehancurannya. Berbekal dengan metode moh limo, para adipati dan juga prabu di kerajaan Majapahit mulai tersadar akan kelalaian mereka.

Ajaran moh limo menjadi refleksi bagaimana sejatinya berdakwah di tengah masyarakat tidak harus berbusa-busa dengan dalil, tetapi dengan bijak dan hikmah mengukur kemampuan masyarakat. Moh limo merupakan ajaran Islam yang diserap dalam bahasa lokal agar mudah diterima sesuai kadar akal dan budaya setempat.

Berikut Moh Lima yang menjadi ajaran Sunan Ampel.

1. “Moh Main” atau tidak mau main

Yang dimaksud dengan moh main di sini ialah dengan tidak mau berjudi. Tidak usah bertanya tentang dalil judi yang jelas hukumnya haram dalam Islam. Namun, perspektif judi harus dipahami sebagai sesuatu yang merugikan sehingga dilarang oleh agama.

Baca Juga:  Menelisik Cara Dakwah Sunan Ampel

Jika seseorang kalah dalam permainan judi, biasanya mereka menyisakan dendam dan rasa penasaran untuk menang dan akhirnya ketagihan. Merekapun mampu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta untuk dipertaruhkan di meja judi. Karena alasan inilah agama melarang kegiatan ini karena termasuk dalam perbuatan setan.

Jika ditinjau dari pengaruh judi untuk Negara jika masyarakat atau petingginya gemar berjudi, maka Negara tersebut tak akan jauh dari perilaku buruk seperti mencuri, merampok bahkan korupsi uang Negara.

2. “Moh Minum“, tidak mau minum yang memabukkan

Moh minum memiliki makna, tidak minum yang memabukkan. Sekali lagi tidak perlu ditanyakan dalil keharaman minum khamr. Namun, penjelasan bahwa minuman beralkohol mampu menghilangkan akal sehat sehingga bagi orang yang gemar menenggak minuman keras, maka ia tidak akan mampu membedakan baik dan buruk. Bahkan ketika seseorang sedang mabuk, mereka akan dengan mudah membocorkan rahasia kepada pihak lain yang mungkin dapat merugikan dirinya ataupun orang lain.

3. “Moh Maling ” yakni tidak mau mencuri maupun korupsi

Tidak usah ditanyakan tentang dalil pencuri yang jelas hukumannya dalam al-Quran. Namun, perbuatan ini harus dijelaskan sebagai perbuatan tercela yang mampu merugikan orang lain yang menjadi korbannya. Apalagi korban dari perbuatan pencurian tersebut merupakan orang miskin yang sudah lama mengumpulkan tabungannya.

Seandainya perilaku moh maling ini mampu diterapkan secara tegas dalam suatu negara, maka dalam Negara tersebut akan mengalami kejayaan dan kemakmuran. Namun sayangnya, banyak Negara yang tidak dengan serius menindak pelaku pencurian dalam suatu Negara, terlebih jika mereka merupakan pembesar dalam Negara tersebut yang telah melakukan korupsi.

4. “Moh Madat” yaitu mengisap candu

Madat  yang dimaksud disini ialah menghisap seperti halnya narkotika ataupun barang terlarang lainnya. Sesuatu yang dikonsumsi yang mampu menimbulkan pelemahan otak dan pikiran. Perlu diketahui sebenarnya narkotika lebih berbahaya dari minuman keras.

Baca Juga:  Sempat Dilarang, Ini Alasan Mengapa Hadits Dibukukan

Selain daya jual yang malah, narkotika juga memiliki daya rusaknya sangat hebat karena ia mampu mempengaruhi pusat saraf manusia. Karena alasan inilah, Sunan Ampel sangat melarang dan menghindari perilaku ini, karena jauh dari maslahah dan lebih banyak mudharatnya.

5. “Moh Madon” atau tidak mau berzina

Zina merupakan salah satu dosa besar dalam Islam. Tapi efek sosialnya, berzina dapat menghilangkan status keturunan? Anak dari hasil perzinahan tidak akan tahu siapa orang tua yang sesungguhnya, terlebih lagi jika pelaku perzinahan ini merupakan pekerja seks. Bukan hanya itu, maraknya penularan penyakit HIV banyak terjadi karena perbuatan zina karena seringnya gonta ganti pasangan.

Dakwah dengan cara mengadaptasi dalil dan hukum dalam bentuk kearifan lokal harus diperkenalkan akan mudah diserap oleh masyarakat. Ajaran agama bukan sesuatu yang baru datang dan sangat asing, tetapi menjadi norma sosial dan budaya masyarakat yang menjadi kebutuhan mereka.

Dakwah kultural inilah yang semestinya dimiliki oleh para penceramah. Bukan sedikit-dikit dalil yang membuat bingung masyarakat. Terpenting bukan kegagahan dalil, tetapi bahasa yang lugas dan mudah dipahami oleh masyarakat.

Bagikan Artikel

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum