alquran
Alquran

Hukum Menulis al Qur’an dengan Selain Bahasa Arab

Kenapa al Qur’an berbahasa Arab? Dalam al Shahibi fi Fighi al Lughah karya Ibnu Faris dijelaskan, dipilihnya bahasa Arab oleh Allah untuk membahasakan firman-Nya menjadi bukti keistimewaan bahasa Arab. Tidak ada satu bahasa pun yang ada di dunia ini yang setingkat dengannya.

Menurut Imam Sayuthi dalam kitabnya al Mazdar fi Ulum al Lughah, bahasa Arab memiliki kekayaan kosa kata dan keluasan dibandingkan bahasa-bahasa yang lain.

Sedangkan menurut Quraish Syihab, salah seorang ulama pakar tafsir Indonesia dalam karyanya Tafsir al Misbah, paling tidak ada dua alasan menurutnya kenapa bahasa Arab dipilih menjadi bahasa al Qur’an. Pertama, karena al Qur’an diturunkan di tanah Arab. Dan kedua, karena bahasa Arab merupakan bahasa dengan segudang kosa kata.

Oleh alasan ini, ulama beda pendapat soal boleh tidaknya menulis al Qur’an dengan selain bahasa Arab. Demikian juga membaca al Qur’an yang ditulis dengan bahasa ajami (bahasa selain bahasa Arab). Bagaimana pun, akan ada kesalahan pelafalan atau pengucapan huruf dan makhraj. Sebab dalam bahasa Arab salah huruf dan harakat akan berakibat perubahan pada arti.

Para ulama dari kalangan madhab Syafi’i, salah satunya diterangkan Ibnu Hajar dalam I’anatu al Thalibin, dengan tegas mengatakan haram menulis al Qur’an dengan selain bahasa Arab. Begitu juga membacanya dari tulisan selain bahasa Arab.

Walaupun ada ulama yang membolehkan menulis al Qur’an dengan selain bahasa Arab begitu juga membacanya dari selain bahasa tersebut, dengan alasan ada banyak orang yang bisa mengucapkan dengan baik dan benar, namun yang lebih hati-hati adalah pendapat madhab Syafi’i.

Selain alasan yang telah diuraikan, bila mengambil pendapat yang membolehkan akan banyak umat Islam yang akan malas belajar bahasa Arab. Akibatnya, seperti banyak kita jumpai saat ini, bahkan terjadi kepada para sebagian mubaligh, tidak bisa membaca al Qur’an dengan fasih.

Baca Juga:  Bolehkah Membakar Mayat yang Terjangkit Virus Menular?

Di samping itu, lemahnya penguasaan bahasa Arab akan berakibat pula pada terjadinya kesalahan ketika mengartikan ayat-ayat al Qur’an. Dan, ini juga sering dijumpai pada ustad-ustad yang tampil di media sosial ketika salah menafsirkan ayat al Qur’an.

Layak kiranya kita meniru orang-orang tua dulu yang begitu memperhatikan pendidikan anaknya supaya bisa membaca al Qur’an dengan baik. Di masjid-masjid, mushalla-mushalla, dan ada juga yang di rumahnya, sehabis maghrib anak-anak dididik secara inten. Setelah dewasa kemampuan mereka membaca al Qur’an dengan menggunakan bahasa Arab tidak diragukan. Mereka fasih membaca al Qur’an.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ahmad Sada'i

Avatar