doa nabi
doa nabi

Hukum Beristighasah ( 3 ) : Beristighasah kepada Orang Mati, Ini Dalilnya !

“Perbuatan yang paling bodoh yaitu meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati” , begitu redaksi yang disampaikan Salafi Wahabi untuk umat Islam yang terbiasa dengan beristighasah atau meminta pertolongan kepada para Nabi, awliya’ dan orang-orang shalih lainnya yang sudah meninggal dunia. Beristighasah kepada orang mati menurut mereka merupakan perbuatan yang sangat konyol. Mengapa tidak ? Orang mati tidak mampu mengurusi dirinya sendiri kok malah diminta mengurusi urusannya orang lain.

Sholih Fauzan juga menyebutkan bahwa beristighasah kepada orang mati merupakan syirik yang sangat besar. Dalam kitabnya ia berkata:

فَالْاِسْتِغَاثَةُ بِالْمَخْلُوْقِ فِيْمَا لَا يَقْدُرُ عَلَيْهِ كَالْاِسْتِغَاثَةِ بِالْأَمْوَاتِ وَالْغَائِبِيْنَ شِرْكٌ أَكْبَرُ لِأَنَّهُ يَسْتَغِيْثُ بِمَنْ لَا يَقْدُرُوْنَ عَلَى شَيْءٍ أَبَداً

Artinya: “Meminta pertolongan terhadap makhluk yang tidak mampu memberikan pertolongan seperti minta tolong terhadap orang yang sudah mati atau makhluk yang ghaib, adalah perbuatan syirik yang besar, karena orang tersebut minta tolong kepada makhluk yang selamanya tidak mampu memberikan pertolongan”[1]

Statetmen-statetmen ini yang mereka lontarkan menunjukkan bagaimana mereka tidak memiliki banyak literatur hadits. Padahal banyak hadits yang menjelaskan tentang ulama’ Salaf melakukan istighasah atau permintaan tolong kepada Nabi Muhammad saw ketika sudah wafat. Di antaranya seperti yang diriwayatkan Malik Dar:

أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ , فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ اسْتَسْقِ لأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوا فَأَتَى الرَّجُلَ فِي الْمَنَامِ فَقِيلَ لَهُ ائْتِ عُمَرَ فَأَقْرِئْهُ السَّلامَ وَأَخْبِرْهُ أَنَّكُمْ مُسْتَقِيمُونَ وَقُلْ لَهُ عَلَيْك الْكَيْسُ عَلَيْك الْكَيْسُ فَأَتَى عُمَرَ فَأَخْبَرَهُ فَبَكَى عُمَرُ ثُمَّ قَالَ يَا رَبِّ لاَ آلُو إلاَّ مَا عَجَزْت عَنْهُ

Artinya: “Musim peceklik datang pada masa khalifah Umar bin Khattab ra. Lalu seorang laki-laki mendatangi makam Nabi Muhammad saw lalu ia berkata: Ya Rasulallah, mintakkanlah hujan untuk umatmu ini, karena mereka sungguh-sungguh akan binasa. Lalu laki-laki tersebut didatangi oleh Rasulullah saw dalam mimpi, dan berkata: Datanglah kepada Umar, sampaikan salamku padanya dan kabarkan bahwa kalian akan dituruni hujan, dan katan juga padanya, bersungguh-sungguhlah dalam melayani umat. Kemudian laki-laki tersebut mendatangi Umar dan menyampaikan pesan Rasulullah saw kepadanya. Lalu Umar menangis dan berkata: Wahai Tuhanku, akan aku kerahkan seluruh kemampuanku kecuali apa yang aku tidak mampu” (HR. Ibn Abi Syaibah)

Seandainya meminta kepada orang yang sudah meninggal ini perbuatan syirik, niscaya laki-laki tersebut sudah syirik. Dan pastinya Nabi saw dan sahabat Umar ra akan menegur kepada laki-laki tersebut. Namun faktanya, justru Nabi saw menerima do’a laki-laki itu.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Tidak Boleh Melangkahi Pemimpin

Tentang beristighasah kepada orang yang sudah mati, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki menjelaskan: “Tidaklah kafir bagi orang yang beristighasah, kecuali ia meyakini bahwa yang menciptakan dan yang mengadakan adalah selain Allah. Tentang persoalan beristighasah kepada orang hidup atau yang sudah mati itu tidak penting. Jika meyakini selain Allah yang mengadakan sesuatu tentu hukumnya kafir, berbeda dengan Mu’tazilah. Tetapi jika meyakini selain Allah swt sebagai penyebab dan usaha terwujudnya sesuatu, maka sama sekali yang demikian tidak kafir” [2]

Dengan demikian pada dasarnya beristighasah kepada orang yang hidup dengan yang mati sama saja. Lebih-lebih banyak juga riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah saw dan orang-orang shalih lainnya hidup di alam kubur dan mendengar pembicaraan orang yang masih hidup. Hanya saja, orang yang hidup tidak mampu mendengar apa yang dikatakan mereka. Namun yang terpenting adalah istighasah sangat berkaitan dengan I’tiqad (keyakinan). Jika meyakini selain Allah swt yang mewujudkan pertolongan, maka tidak ada bedanya beristighasah kepada orang hidup atau orang mati, tetap hukumnya sama-sama kafir. Tetapi jika hanya dijadikan sebagai penyebab dikabulkannya do’a, maka tidak ada alasan untuk mengkafirkannya.

Wallahu a’lam


[1] Shalih Fauzan, ‘Iantul Mustafid, Juz 1, Hal 193

[2] Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki, Mafahim Yajibu An Tushahhah, Hal 203

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aswaja

Mengenal Aliran Mujassimah (1) : Siapakah Yang Dimaksud Mujassimah ?

Istilah Mujassimah sebenarnya sudah lama. Bahkan ulama genarasi tiga abad yang pertama telah membahas tentang …

lagu ya thaybah

Lagu Ya Thaybah Syirik, Benarkah ?

Beberapa hari yang lalu, warganet dibuat gemas dengan ujaran artis Five Vi tentang lagu Ya …