kitab tarjuman
kitab tarjuman

Fikih Nusantara (13) : Kitab Tarjuman Karya Kiai Hamid Pamekasan

Penulisnya Kiai Hamid bin Itsbat Bin Ishaq. Dirunut dari nasabnya beliau masih keturunan Sunan Ampel dan Sunan Giri. Kitab ini awalnya adalah manuskrip, catatan-catatan tangan Kiai Hamid untuk disampaikan pada jama’ah pengajian. Pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan ini memang dikenal rajin menulis materi yang akan disampaikan setiap kali beliau akan mengisisi pengajian.

Manuskrip-manuskrip itu kemudian dikumpulkan dan diberi judul Tarjuman. Dalam bahasa Indonesia, Tarjuman berarti kompilasi. Kumpulan esai-esai yang memiliki keterhubungan antara satu dengan yang lain.

Adalah Kiai Abdul Hamid Baqir bin Kiai Abdul Majid bin Kiai Abdul Hamid bin Kiai Itsbat yang melakukan inisiatif pengumpulan naskah-naskah tersebut seperti ditulis dalam pengantar kitab ini. Dengan demikian, inisiatif ini dilakukan oleh cucu pengarang kitab ini.

Disebut juga dalam muqaddimah atau halaman pengantar, tujuannya adalah untuk meladeni permintaan para santri Banyuanyar dan untuk menjaga orisinalitas manuskrip-manuskrip Kiai Hamid karena banyak yang menyalin ulang dengan dengan tulisan tangan yang dikhawatirkan ada kesalahan.

Kiai Abdul Hamid Baqir dibantu Kiai Ahmad Faqih selama sebulan mengumpulkan naskah-naskah asli tulisan asli Kiai Hamid. Selesai seluruhnya pada tanggal 16 Jumadil Ula tahun 1394 H/tanggal 7 Juli 1974 M. Dan pada tanggal 1 Rabi’ul Akhir tahun 1400 H/17 Pebruari 1980 M kemudian dicetak dan biaya ditanggung oleh Kiai Nawawi bin Kiai Ahmad Nur Karang Sukun Sumenep. Hasilnya adalah kitab Tarjuman ini.

Kitab ini ditulis dengan aksara Arab Pegon berbahasa Madura. Berjudul lengkap Etjapan Tarjuman. Etjapan adalah ejaan bahasa Madura yang artinya bunga rampai. Tebalnya 126 halaman termasuk halaman judul dan pengantar.

Bagi orang Madura, khususnya masyarakat Pamekasan, kitab ini menjadi kitab favorit dikalangan awam sebab isinya yang praktis. Berisi perpaduan fikih dengan tasawwuf. Sama dengan kitab-kitab fikih berbahasa Melayu seperti kitab Sabil al Muhtadinnya Syaikh Arsyad al Banjari, kitab Parukunan karya Syaikh Jamaluddin al Banjari dan lain-lain.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (6): Kitab Majmu'at al Syari'at al Kafiyah li al 'Awam Karya Syaikh Sholeh Darat

Pertama sekali kitab ini membahas masalah tauhid, kemudian wudhu’ beserta pernak pernik yang mengitarinya, bab hadas, dua kalimat syahadat, shalat beserta wirid dan doa setelahnya dan seterusnya.

Dalam kitab ini juga diulas tentang etika hidup sebagai ejawantah dari nilai-nilai shalat. Tuntunan hidup yang sesuai dengan titah Tuhan dan Nabi. Diantara yang dibicarakan adalah takabur, dengki dan melakukan maksiat. Sifat-sifat tercela yang tidak mencerminkan muslim serta tidak jauh dari tujuan dan nilai-nilai ajaran agama, khususnya shalat sebagai ibadah yang dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.

Terakhir kitab ini membahas ilmu Tajwid secara lengkap. Sebab untuk menuju puncak kesempurnaan ibadah, seperti shalat, harus fasih membaca al Qur’an. Muslim harus berusaha sekuat daya mampunya untuk menguasai disiplin ilmu ini karena memiliki korelasi dengan fikih.

Secara rinci kitab ini terdiri dari 141 bab. Bab pertama membahas tauhid, bab 2 sampai 32 membicarakan shalat, bab 33 sampai bab 60 membincangkan akhlak dan tasawuf, puasa diterangkan pada bab 61 sampai bab 73, bab 74 sampai bab 82 membahas i’tiqad Ahlussunah wal Jama’ah. Bab berikutnya adalah nikah, zakat, waris dan tajwid.

Bagikan Artikel

About Ahmad Sada'i