dhau misbah
dhau misbah

Fikih Nusantara (28): Kitab Dhau’ Al Mishbah Karya Kiai Hasyim Asy’ari

Tidak banyak yang tahu terhadap risalah ini. Sebuah catatan singkat tentang fikih nikah yang ditulis oleh Kiai Hasyim Asy’ari pendiri NU. Judul lengkapnya, Dhau’ al Mishbah fi Bayani Ahkam al Nikah. Dalam bahasa Indonesia berarti “Cahaya lampu untuk menerangi dan menjelaskan hukum-hukum nikah.

Kitab ringkas yang tebalnya hanya 21 halaman ini hanya membahas hukum-hukum pernikahan saja.

Kiai Hasyim Asy’ari membagi pembahasan dalam kitab ini menjadi tiga topik utama. Pertama, hukum-hukum pernikahan. Akan tetapi, pada bagian ini Kiai Hasyim Asy’ari tidak menjelaskan hukum pernikahan sebagaimana layaknya kitab-kitab fikih klasik, yaitu sunnah, wajib, mubah, makruh dan haram. Beliau hanya menulis lima belas persoalan yang berhubungan dengan pandangan ulama-ulama tentang pernikahan.

Pada bagian kedua menjelaskan rukun-rukun nikah dan lain-lain. Disini pembahasannya sama dengan kitab-kitab fikih klasik. Tertera disini, rukun nikah ada lima, shighat (redaksi dalam akad), pengantin laki-laki, pengantin perempuan, wali dan dua orang saksi.

Yang menarik, disini penulis melengkapi pembahasan rukun nikah dengan dalil hadis dan argumen para ulama tentang rincian lima rukun nikah tersebut. Tanpa disadari, model penulisan seperti ini sebenarnya merupakan penjelasan sistematis terhadap instinbat hukum melalui metodologi ushuli. Kia Hasyim Asy’ari hendak mengatakan, inilah cara kerja para ulama sehingga sampai pada satu kesimpulan hukum.

Bagian ketiga adalah khatimah atau penutup. Namun lagi-lagi dibagian ini memiliki perbedaan dengan kitab-kitab fikih klasik. Walaupun judulnya penutup namun pembahasan masih mengulas tentang nikah. Yakni, mengurai kewajiban suami untu memenuhi hak-hak istri. Juga membahas hak-hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri.

Kitab atau risalah singkat tentang nikah ini memudahkan pembaca untuk memahami hukum-hukum nikah secara komprehensif. Sebab, seperti telah dijelaskan di awal, disertai sumber dalil primer, al Qur’an dan hadis. Ini menjadi pembuktian bahwa hukum-hukum yang diformulasikan oleh ulama-ulama madhab sebenarnya mengacu pada dua sumber primer tersebut walaupun tidak jelaskan. Sebelum menyimpulkan satu keputusannya hukum lebih dulu membaca dalil utamanya, al Qur’an dan hadis.

Bagikan Artikel ini:
Baca Juga:  Fikih Nusantara (18): Kitab Minhat al Qarib al Mujib Karya Tuan Tabal

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

kitab wishah al ifrah

Fikih Nusantara (32): Kitab Wisyah al Ifrah Wa Isbah al Falah Karya Muhammad bin Isma’il Daud al Fathani

Kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan aksara Jawi ini sekali lagi membuktikan semangat ulama-ulama Melayu …

kitab al nadlhah al hasaniyah

Fikih Nusantara (31): Kitab Al Nadhah al Hasaniyah Karya Sayyid Muhsin Ali al Musawa al Falimbani

Semakin kita membuka dan membaca karya-karya ulama Nusantara, semakin kita paham bahwa mereka telah berusaha …