ucapan selamat tahun baru
ucapan selamat tahun baru

Hikmah Memperingati Tahun Baru Masehi dengan Muhasabah Diri

Titah Tuhan, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. al Hasyr: 18).

Mayoritas ulama tafsir; al Thabari, al Qurthubi, al Wasith li Thanthawi, dan Ibnu Katsir menafsirkan “hari esok” dalam ayat ini bermakna hari kiamat. Titah Tuhan ini mengingatkan manusia supaya muhasabah (introspeksi); bekal apa yang telah disiapkan untuk hari esok, hari kiamat atau hari pembalasan.

Menurut saya, penafsiran ini memiliki kolerasi dengan hadis Nabi, “Barang siapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin), maka ia telah merugi, siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia tergolong orang yang terlaknat” (HR. Baihaqi).

Pada hadis yang lain, meskipun disinyalir dhaif dan ada juga yang mengatakan maudhu’, Nabi bersabda, “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, ia orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, ia merugi. Dan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, ia orang celaka”.

Ayat dan dua hadis ini memiliki hubungan tentang persiapan diri untuk hari esok yang lebih baik. Karena, kalau hari esok dipersiapkan supaya lebih baik, tentu bekal untuk hari kiamat juga baik. Kata “hari esok” menjadi kunci.

Saat ini, kita telah menapaki penghujung tahun 2021 dan sebentar lagi memasuki tahun baru 2022. Tentu, yang paling penting bukanlah memperdebatkan halal haram memperingati tahun baru Masehi. Momen ini semestinya menjadi alarm pengingat untuk introspeksi diri apakah kesalehan spiritual dan kesalehan sosial tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya? Dan, persiapan apa yang telah kita buat untuk menyongsong tahun berikutnya supaya lebih baik?

Baca Juga:  Keistimewaan Al-Qur’an : Penjelasan Sidik Jari Manusia yang Berbeda-beda

Berdebat panjang tentang hukum halal haram memperingati tahun baru Masehi adalah perbuatan yang sia-sia. Tema ini masuk dalam ranah ijtihadi yang bias perbedaan pendapat. Dalam aturan syar’i kita bebas memilih salah satunya. Karena itu, memperuncing perbedaan hukum memperingati tahun baruaru Masehi bagi umat Islam menjadi aktivitas yang tak bermakna, malah justru merenggangkan hubungan silaturahmi sesama muslim.

Baik yang mengatakan boleh maupun yang berpendapat haram, sama-sama lebih baik mengingat pesan Nabi di atas. Yakni, menjadikan momentum tahun baru yang sebentar lagi menghampiri dengan “muhasabah” atau introspeksi diri. Tentu kita tidak ingin menjadi orang yang celaka sebab tahun ini lebih buruk dari kemarin. Harapan kita semua adalah tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, selanjutnya bersiap diri untuk memasuki tahun berikutnya supaya lebih baik dari tahun ini.

Segala aktivitas ibadah, prilaku, dan hubungan dengan sesama manusia kita tingkatkan kualitasnya supaya menjadi hamba yang sesuai dengan keinginan Tuhan. Yakni hamba yang beriman dan bertaqwa serta berbudi luhur. Maka, tinggalkanlah debat halal haram memperingati tahun baru Masehi dan menjadikannya sebagai momentum mengoreksi pribadi masing-masing supaya ke depan menjadi lebih baik.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

dakwah menarik simpati

Dakwah Nabi Menarik Simpati, Bukan Anarki

Sejak dulu, musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Hasrat membunuh manusia-manusia berotak reptil yang menjadi penyebab …

prinsip perdamaian

Melindungi dan Menjamin Keamanan adalah Perintah Agama

Apapun bentuk dan modelnya, radikalisme yang mengarah pada terorisme merupakan tindakan yang tidak sesuai syariat …