tahun baru masehi menurut islam

Kita semua setiap tahun akan menemukan berbagai problematika mengenai perayaan tahun baru Masehi. Mulai ada hadits yang berbunyi مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم yang artinya: Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam bagian mereka (kaum tersebut). Kemudian kegiatan atau upaya simbolis merayakan tahun baru dengan meniup terompet, menyalakan kembang api dan sebagainya.

Jika kita lihat dari aspek sejarah hadis tersebut,Makkah pra-Islam adalah Kota suci yang istimewa di mata orang Arab, kondisi masyarakatnya pun multi etnis, suku, dan kepercayaan berbeda. Selain itu, terdapat Ka’bah untuk meletakkan berhala-berhala mereka di sana dengan harapan ketika meminta sesuatu terhadap berhala yang diletakkan di Ka’bah akan dikabulkan.

Kemudian Islam datang bersamaan kondisi masyarakat yang demikian, lalu Rasulullah SAW.  bersabda “Barangsiapa bertasyabuh dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” Hadis tersebut turun pada saat terjadi perang Uhud. Pada saat itu Rasulullah SAW. bermusyawarah dengan beberapa sahabat mengenai strategi yang akan digunakan untuk melawan musuh di gunung Uhud. Kemudian ada salah satu sahabat Nabi  yang bertanya, “Bagaimana aku bisa membedakan mana yang termasuk kaum Muslimin dan mana yang termasuk kaum musyrikin, sementara mereka semua terlihat sama?”

Menanggapi pertanyaan tersebut salah seorang sahabat mengusulkan bahwa kaum muslimin harus memberi tanda pada pakaian mereka untuk membedakan pakaian kaum muslimin dengan pakaian lawan. Rasulullah SAW menyetujui dan beliau kemudian bersabda dengan hadis tasyabbuh tersebut.

Dalam buku Senate and General: Individual Decision-making and Roman Foreign Relations 264-194 B.C. (1987), Arthur M. Eckstein menuliskan, pada kisaran tahun 45 SM, tidak lama setelah dinobatkan sebagai kaisar, Julius Caesar memberlakukan penanggalan baru untuk menggantikan kalender tradisional yang sudah digunakan sejak abad ke-7 SM.

Julius Caesar dan Senat Romawi kemudian memutuskan tanggal 1 Januari sebagai hari pertama dalam kalender baru itu. Istilah Januari diambil dari nama salah satu dewa dalam mitologi bangsa Romawi, yakni Dewa Janus. 

Dijelaskan, Dewa Janus memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan belakang. Dalam kepercayaan orang Romawi, Janus diyakini sebagai dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk. Maka, sejak diberlakukan kalender anyar itu, setiap tengah malam jelang pergantian tahun, yakni 31 Desember, orang-orang Romawi menggelar perayaan untuk menghormati Dewa Janus. Mereka membayangkan, satu wajah Janus melihat ke tahun lama dan wajah lainnya menatap hari-hari ke depan di tahun baru.

Sedangkan meniup terompet merupakan produk budaya Yahudi. Anggapan ini didasarkan perkataan Nabi SAW yang berbunyi: “Dari Abu Umair bin Anas, dari sebagian pamannya dari kaum Anshar, berkata “Nabi SAW sangat prihatin terhadap shalat, bagaimana cara mengumpulkan orang banyak untuk mengerjakan shalat.”

Maka dikatakan kepada beliau, “tancapkanlah bendera ketika waktu shalat telah tiba. Apabila mereka melihatnya, maka sebagian memberitahukan yang lainnya.” Namun usulan itu tidak disukai beliau. Lalu disebutkan juga kepada beliau terompet, kata Ziyad, ‘terompet Yahudi”. Pendapat ini juga tidak disenangi oleh beliau, dan beliau SAW bersabda, “itu perbuatan orang-orang Yahudi.” Disebutkan pula kepada beliau, supaya memakai lonceng, beliau bersabda, “itu perbuatan orang-orang Nasrani.” Setelah kejadian tersebut Abu Zaid pergi pulang.” (HR. Abu Dawud no. 496).

Hadits lain yang membicarakan mengenai perkara tersebut ialah : “Dahulu kaum muslimin saat datang ke Madinah, mereka berkumpul seraya memperkirakan waktu shalat yang (saat itu) belum di adzani. Di suatu hari, mereka pun berbincang-bincang tentang hal itu. Sebagian orang diantara mereka berkomentar. ‘Buat saja lonceng seperti orang-orang Nasrani’. Sebagian lagi berkata, ‘Bahkan buat saja terompet seperti terompet kaum Yahudi. Umar pun berkata, ‘Mengapa kalian tak mengutus seseorang untuk memanggil (manusia) untuk shalat’. Rasulullah SAW bersabda,’Wahai Bilal, bangkitlah lalu panggilah (manusia) untuk shalat.” (HR. Bukhari 604 dan Muslim 377).

Sebagai umat Islam, kita menyikapi perayaan tahun baru Masehi dengan arif dan bijaksana. Meniup terompet tidak menjadikan kita langsung murtad menjadi Yahudi, namun harus selalu memperkuat akidah kita. Meyakini bahwa dengan merayakan tahun baru Masehi, kita umat Islam akan menjadi orang-orang yang mampu ber-improvisasi dengan sesuatu diluar Islam melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Tahun baru Masehi, kita jadikan momen instropeksi diri menuju pribadi yang al-Insān al-Kāmil yang selalu beriman dan bertaqwa Allah SWT. Dengan mengkombinasikan agama dan budaya. Membangun peradaban Islam di Indonesia dengan pemahaman Islam yang benar. Oleh karena itu, kita isi perayaan tahun baru Masehi dengan melakukan amal shalih, membaca Alquran, menyantuni anak yatim piatu.