hikmah toleransi
hikmah toleransi

Hikmah Toleransi Terhadap Non Muslim

Ditulis oleh Badar bin Nashir al Badar dalam karyanya Irhabul Musta’minin wa Mauqiful Islam minhu, satu di antara sekian kekhasan agama Islam adalah syariatnya yang ditujukan tidak hanya untuk pemeluknya saja, tapi untuk semua manusia bahkan untuk semesta alam. Ia hadir tidak untuk satu kaum, untuk negeri tertentu dan pada zaman tertentu. Hal ini seperti dijelaskan sendiri oleh al Qur’an ( Sana’: 28).

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah, beliau bersabda, “Demi dzat yang jiwa Muhammad ada dalam kekuasaannya, tidak diperdengarkan kepadaku seseorang dari umat ini, baik Yahudi atau Nasrani, kemudian mati dan tidak mengimani apa yang dirisalahkan kepadaku, kecuali ia termasuk penghuni neraka”.

Imam Nawawi dalam Syarah al Nawawi ‘ala Shahih Muslim menyatakan, hadist ini sebagai penegasan bahwa risalah Nabi Muhammad menghapus semua risalah sebelumnya.

Dengan demikian, semua umat (keturunan) pengikut Nabi sebelum Rasulullah harus mengikuti risalah beliau sebagai risalah terakhir yang paling sempurna. Sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya.

Tapi, tentu saja tidak semua manusia akan menerima fakta ini sebagai kenyataan dan keharusan. Doktrin dan ajaran yang ditanamkan oleh kaum elit agama terkadang menutup pikiran sehatnya, apalagi kalau ada manipulasi data yang tidak sesuai dengan ajaran yang sebenarnya dari agama yang mereka yakini tersebut. Padahal, secara esensi Islam hanya penyempurna terhadap agama-agama Nabi sebelumnya. Sebab, agama yang diturunkan Allah sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah satu agama yang sama.

Namun demikian, penganut Islam sendiri tidak dibenarkan untuk memaksakan kebenaran ini. Hanya berkewajiban sebagai penyampai bukan penentu. Hidayah mutlak keputusan Allah. Karena itu, Islam mewajibkan kepada umatnya untuk memberi ijin non muslim tinggal di negeri kekuasaan muslim dengan tetap memeluk keyakinan semula dan tidak memaksa mereka menjadi penganut agama Islam.

Baca Juga:  Pentingnya Taubat untuk Melewati Badai Corona ini

Umat Islam juga tidak dibenarkan mempersekusi atau meminggirkan non muslim dalam relasi kehidupan bermasyarakat, non muslim boleh hidup bersama dengan muslim. Umat Islam harus menjamin kemanan jiwa, harta dan kehormatan non muslim.

Bentuk toleransi yang diajarkan Islam ini tidak bermakna setuju terhadap keyakinan non muslim, karena Allah tidak ridha kepada hambanya yang tidak beriman kepada-Nya dan kepada risalah Nabi Muhammad. Toleransi seperti telah dijelaskan dianjurkan karena ada hikmah-hikmah yang termuat di dalamnya.

Di antaranya, mempergauli non mulim secara baik; lemah lembut, kasih sayang, harmonis dan damai lebih mungkin untuk mengenalkan keluhuran ajaran Islam sehingga membuat mereka tertarik dan akal sehatnya berfungsi dengan baik untuk menilai kebenaran ajaran Islam. Tentu, praktik ini lebih disenangi oleh Allah dari pada membunuh mereka. Sebaliknya, membatasi diri untuk bergaul dengan mereka sama saja sengaja menghilangkan maslahat tersebut, yakni mengenalkan keluhuran agama Islam sehingga mereka tertarik untuk menganutnya.

Imam Subki dalam Fatawanya berkata, “Tidak bergaul dengan non muslim sama saja menghilangkan kesempatan untuk memperkenalkan kebaikan Islam kepada mereka. Perhatikanlah, sejak hijrahnya Nabi ke Madinah sampai peristiwa Hudaibiyah, bukankah sedikit sekali pengikut Islam. Tetapi, setelah perjanjian Hudaibiyah sampai Fathu Makkah jumlah umat Islam mencapai sepuluh ribu orang. Sebabnya tidak lain karena pergaulan umat Islam dengan non muslim, akhlak mulia yang ditampilkan umat Islam mampu memikat mereka”.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hadiah dari non muslim

Fikih Toleransi (5): Menerima Hadiah dari Non Muslim

Rasulullah adalah manusia paling sempurna dalam segala aspek kehidupannya; paling sempurna ibadahnya, pribadi yang paling …

hidangan non muslim

Fikih Toleransi (4) : Memakan Hidangan Non Muslim

Agama Islam membolehkan memakan makanan apa saja yang penting halal, demikian juga minuman. Maka, meskipun …