doa

Hukum Bertawasul (1) : Hakikat Tawasul dan Hukumnya

Makna Tawassul

Salah satu amaliyah umat Islam sejak masa sahabat hingga sekarang adalah bertawasul. Bertawasul artinya memohon kepada Allah swt melalui perantara. Ulama memberikan pengertian tawasul:

اَلتَّوَجُّهُ إِلَى اللهِ فِي الدُّعَاءِ بِجَاهِ نَبِيٍّ اَوْ عَبْدٍ صَالِحٍ

Artinya: “Menghadap kepada Allah dalam rangka berdo’a melalui keagungan para Nabi dan hamba-hamba yang shalih”

Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa bertawassul esensinya meminta/berdo’a kepada Allah swt, bukan berdo’a kepada makhluk Allah swt. Karena umat Islam yang senantiasa berawassul sadar bahwa dzat yang dapat memberikan manfaat hanyalah Allah swt. Di sinilah, Salafi Wahabi salah dalam memahami hakikat tawassul, mereka menyangka membuat wasilah artinya meyakini wasilah itu yang memberikan kemudahan, sehingga muncul vonis syirik.

Mengapa perlu menggunakan wasilah ?

Di dalam al Qur’an, Allah swt menganjurkan umat Islam mencari perantara dalam mendekatkan dirinya kepada Allah swt. Allah swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya” (QS. Al Maidah: 35)

Wasilah seperti apa ?

Dalam ayat tersebut, Allah swt tidak menentukan wasilah apa yang harus dilakukan oleh hambanya. Ini artinya, ayat tersebut diberlakukan secara umum. Sehingga apa saja boleh dijadikan wasilah asal itu amaliyah yang baik.

Macam-Macam Tawasul

Tawasul yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang Islam ada tiga bentuk:

1.  Bertawasul dengan nama-nama Allah.

Kita sebagai umat Islam meyakini bahwa Allah swt memiliki nama-nama yang dikenal dengan al Asma’ul Husna. Bertawassul melalui nama-nama Allah swt artinya bertawasul menggunakan nama dari al Asma’ul Husna. Seperti do’a yang sudah masyhur:

اَللهُ أَنِّيْ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنَ أَمَتِكَ وَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ, مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاءُكَ, أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ. سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ اَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ اَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ اَوْ اِسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ اَنْ تَجْعَلَ الْقُرْأَنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلَاءَ حُزْنِيْ ذَهَابَ هَمِّيْ.

Baca Juga:  Konsultasi Syar’iah : Mau Akikah atau Kurban dulu? Bolehkah Niat Akikah sekaligus Kurban?

2.  Bertawasul melalui amal shalih.

Bertawasul dengan amal shalih artinya, melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai sarana dimudahkannya do’a. Seperti dilakukan dengan cara berpuasa, shalat sunnah, bershadaqah, dan sebagainya. Nadzar termasuk contoh dari macam tawasul ini. Begitu juga kisah tiga orang yang terperangkap di dalam goa, lalu mereka berdo’a dengan menyebutkan amal baik masing-masing agar dapat keluar dari goa tersebut. (Lihat dalam Shahih Bukhari).

3.  Bertawasul dengan orang-orang shalih.

Bertawasul melalui orang-orang shalih ini yang banyak dilakukan oleh umat Islam. Seperti yang dilakukan sahabat Umar bin Khattab ra melalui paman Nabi Muhammad saw, sayyidina Abbas ra. pada saat dilanda kemarau panjang. (Lihat Shahih al Bukhari)

Tentang hukum bertawasul, ulama sepakat hukumnya boleh, bahkan sunnah. Dr. Alawi bin Hamid bin Syihabuddin berkata: “Tawasul hukumnya boleh bahkan sunnah, baik melalui para Nabi,  awliya’ atau orang-orang shalih”[1].

Jadi inilah bentuk tawasul yang biasa digunakan oleh orang-orang Islam. Wasilah hanyalah sebatas sarana menyambungkan seseorang kepada Allah swt, karena wasilah itu lebih dekat dengan Allah swt. Dan tidak seorang pun dari umat Islam yang meyakini wasilah itu yang memberikan kemudahan, tetapi tetap Allah swt sang pemberi kemudahan itu.

Wallau a’lam


[1] Dr. Alawi bin Hamid bin Syihabuddin, Intabah dinuk fi khatar, Hal 225

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember