pedang rasulullah
pedang rasulullah

Hukum Bertawasul ( 3 ) : Bertawasul Melalui Benda-benda Milik Orang Shaleh

Ma qarubas syai’a, u’tiya hukmuhu (sesuatu yang dekat dengan lainnya, maka akan sama hukumnya). Begitu bunyi kaidah Fikih untuk menggambarkan sesuatu yang berdekatan akan memiliki efek satu sama lain. Sama juga dengan apa yang dimiliki oleh para Nabi, awliya’, ulama’ dan orang-orang shaleh lainnya akan menjadi mulya karena ikut kepada pemiliknya. Bukan semata-mata benda tersebut. Pedang Dzul Fiqar menjadi sangat istimewa bukan karena keunikan pedangnya, tetapi karena dimiliki sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.

Maka tidak aneh jika kemudian barang-barang tersebut juga dijadikan wasilah sampainya do’a oleh banyak orang karena melihat pemiliknya adalah orang-orang yang dekat dengan Allah swt.

Apakah wasilah semacam ini ada dalilnya ?

Secara umum, kebolehan menjadikan barang-barang milik orang-orang shaleh masuk ke dalam ayat:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya” (QS. Al Maidah: 35)

Jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt tidak harus berupa sosok orangnya, tetapi bisa saja dengan apa yang dimilikinya.

Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawasul melalui sayyidina Abbas ra, paman Nabi Muhammad saw, bukan karena sosok sayyidina Abbas ra, tetapi karena sayyidina Abbas ra memiliki hubungan kekeluargaan dengan Nabi Muhammad saw. Ini menunjukkan apa saja yang dicintai oleh orang-orang shaleh, maka boleh dijadikan wasilah.

Bertawasul melalui benda-benda yang dimiliki orang shaleh sebenarnya sudah biasa dipraktekkan oleh umat terbaik generi pertama, yaitu para sahabat Nabi saw. Contoh Asma’ binti Abu Bakar ra yang menyimpan jubah Nabi saw dan ia berkata:

فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا

Artinya: “Kami membasuhnya untuk orang sakit agar sembuh berkat jubah tersebut” (HR. Muslim)

Kemudian, Ummu Sulaim ra yang memotong mulut Geriba (alat minum di negara Arab) kemudian disimpan oleh sahabat Anas bin Malik ra.[1] Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Utsman bin Affan ra yang menyimpan serta menjaga cincin milik Rasulullah saw karena bertabarruk untuk dijadikan wasilah oleh para sahabat ini[2].

Baca Juga:  Batal Puasa Berjamaah karena Menyangka Telah Masuk Waktu, Ini Dalilnya

Apa yang dilakukan para sahabat Nabi saw di atas sebagai bukti bahwa benda-benda peninggalan orang shaleh dapat dijadikan wasilah. Seandainya perbuatan ini termasuk syirik, niscaya para sahabat tersebut tidak akan mencontohkannya. Padahal semua tahu, bahwa sahabat Nabi saw adalah murid langsung Nabi saw dan termasuk orang-orang yang menyaksikan langsung bagaimana hukum Islam datang dan diterapkan di muka bumi ini.

Wallahu a’lam


[1] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 3, Hal 119

[2] Al Thabarani, Mu’jam al Awsat, Juz 7, Hal 114

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aswaja

Benarkah Abu Hasan Al Asy’ari Meyakini Allah Swt Berada di Arsy ?

Sudah berabad-abad lamanya, umat Islam yang sampai pada kita saat ini mayoritas bermadzhab Asya’iroh, yaitu …

4 madzhab

Mengapa Ahlussunnah Wal Jama’ah Hanya Mengikuti 4 Madzhab Saja ? Ini Penjelasannya !

Dalam Risalah fi Taakkudi bi Madzahibil Arba’ah, KH. Hasyim Asy’ari berkata: وَلَيْسَ مَذْهَبٌ فِي هَذِهِ …