Hakikat Ilmu
Hakikat Ilmu

Hakikat Ilmu untuk Mencapai pada Yang Hakikat

Hari Ahad yang hangat. Pagi yang lebih santai dari biasanya, saya mulai dengan tadabbur alam dan mensyukuri nikmat yang tak pernah berhenti mengucur pada kami. Di kala suasana hati sedang khudlur itulah, Allah menggerakkan tangan membuka handphone dan mengecek pesan daring yang menumpuk.

Mata saya tertuju pada salah satu pesan dari sebuah grup. Pesan itu berisi kalimat hikmah yang disadur dari kitab Tanqihul Qoul. Berikut bunyinya:

. قال سيدنا ضرار بن الازور الصحابي: مَن عَبَدَ اللهَ بِجَهلٍ كان ما يُفْسِد اكثَرَ مِمَّا يُصلِح.  تنقيح القول الحثي

“Barang siapa beribadah kepada Allah tanpa dasar ilmu, maka lebih banyak mafsadahnya dari pada maslahahnya.”

Kalam di atas menyampaikan kepada kita tentang pentingnya ilmu sebagai pondasi atau dasar utama dalam beribadah. Sehingga disebutkan, ibadah yang dilakukan tanpa dasar ilmu, dapat mendatangkan lebih banyak kerugian dibandingkan kebaikan. Maknanya, sebelum melakukan sesuatu apapun, hendaknya kita pelajari dulu ilmunya. Agar kita punya dasar, tujuan, hujjah dan pemahaman yang kuat tentang apa yang kita lakukan.

Dengan demikian, dalam beribadah maupun melakukan segala sesuatu dalam rentang hidup ini, kita tidak terombang ambing dan hanya sekedar ikut – ikutan tanpa dasar yang jelas. Harus selalu diingat, melakukan ibadah tanpa didasari ilmu bisa menjadi sia sia, bahkan bisa mendatangkan keburukan lebih banyak daripada manfaat sebagaimana disebutkan dalam kalam di atas.

Berbicara tentang pentingnya ilmu sebagai pondasi utama dalam beribadah baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung, kita dapat melihat bahwa ilmu menduduki posisi yang fundamental. Dalam ajaran, ilmu mendapatkan perhatian khusus, bahkan Nabi Muhammad SAW pun tak terhitung menyampaikan melalui hadits dan sunnah Beliau mengenai keutamaan ilmu dan insan yang berilmu. Misalnya, hadits-hadits yang berbunyi;

Baca Juga:  Akhlak Rasullullah kepada Penganut Agama Lain

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimah” (HR. BukhariMuslim).

“Barang siapa keluar rumah dalam rangka menuntut ilmu, malaikat akan melindungi dengan kedua sayapnya” (HR. Turmudzi).

“Barang siapa keluar rumah dalam rangka menuntut ilmu, maka ia selalu dalam jalan Allah sampai ia kembali” (HR. Muslim).

Pertanyaan mendasar berikutnya, setelah kita memahami betapa pentingnya ilmu sebagai dasar pijakan dalam beribadah, lantas sudahkan kita memahami apakah sesungguhnya ilmu itu?

Epistemologi Ilmu

Secara Bahasa, Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm (‘alima – ya’lamu – ‘ilm), yang berarti pengetahuan. Namun, secara definisi, ilmu memiliki makna yang lebih khusus dari hanya sekedar pengetahuan. Ilmu adalah pemahaman tentang hakikat sesuatu yang dimengerti secara mendalam.

Menurut perspektif akademisi Islam, A Qadri Azizy dalam bukunya Pengembangan Ilmu Ilmu KeIslaman, mendefiniskan ilmu sebagai pengetahuan mendalam hasil usaha yang sungguh-sungguh (ijtihād) dari para ilmuwan (‘ulamā’/mujtahīd) atas persoalan persoalan duniawī dan ukhrāwī dengan bersumber kepada wahyu Allah.

Wahyu Allah yang dimaksud adalah Al-Qur’an dan Hadits yang keduanya memiliki peranan sebagai petunjuk (hudan) bagi umat manusia. Kita tentu ingat bahwa ayat yang pertama kali turun dalam Al-Qur’an mengajak kita untuk terus menggali dan memperdalam ilmu dengan tetap bersandar pada Allah sebagai sumber kebenarna sejati. Ayat tersebut berbunyi; “Bacalah, dengan [menyebut] nama Tuhanmu yang telah menciptakan”.

Membaca, dalam artinya yang luas, merupakan aktivitas utama dalam kegiatan ilmiah. Dengan membaca, umat manusia mengerahkan kemampuan daya fikir, observasi, analisis dan sintesis untuk terus menggali dan mengembangkan ilmu. Al-Qur’an juga menyebutkan banyk ayat yang mengandung ajakan untuk berpikir, merenung, menalar, dan semacamnya yang mana aktivitas tersebut merupakan bagian dari ijtihad ilmiah.

Baca Juga:  Cara Nabi Mengajarkan Metode Dakwah bagi Para Da’I

Berpangkal dari dasar ini, dapat kita tarik simpulan bahwa agama Islam dan ilmu memiliki hubungan yang erat. Ilmu tumbuh dan berkembang berjalan seiring dengan agama. Perkembangan ilmu pengetahuan diiringi dengan perkembangan agama Islam. Bahkan, jika kita melihat  dalam sejarah peradaban Islam, banyak ditemukan para ilmuwan sekaligus sebagai ulama. Salah satu diantaranya, Ibn Rusyd. Ibnu Rusyd di samping dikenal sebagai ahli hukum Islam dan pengarang kitab Bidāyah alMujtahīd, juga seorang ahli kedokteran penyusun kitab al-Kullīyāt fī alThibb.  

Jika kemudian muncul diskusi yang membenturkan ilmu pengetahuan dengan agama, maka dapat dipahami bahwa perselisihan itu bermula pada perbedaan pijakan perspektif yang digunakan. Bagi penganut teori materialisme, ilmu hanya bersumber dari alam fisik, yakni alam yang bisa ditangkap oleh nalar inderawi. Sementara, Islam meyakini bahwa sumber pengetahuan adalah alam fisik yang bisa diindra dan alam metafisik yang tidak bisa diindera. Kedua alam tersebut, fisik dan non-fisik sama bernilainya sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Merujuk pada keterangan Mulyadi Kertanegara dalam bukunya Menembus Batas Panorama Filsafat Islam, menjelaskan bahwa dalam epistemologi Islam, ilmu pengetahuan bisa dicapai melalui tiga elemen; indra, akal, dan hati. Ketiga elemen ini dalam praktiknya diterapkan dengan metode berbeda; indra untuk metode observasi (bayānī), akal untuk metode logis atau demonstrative (burhānī), dan hati untuk metode intuitif (‘irfānī).

Dengan panca indra, manusia mampu menangkap obyek-obyek indrawi melalui observasi, dengan menggunakan akal manusia dapat menangkap obyek-obyek spiritual (ma’qūlāt) atau metafisik secara silogistik, yakni menarik kesimpulan tentang hal-hal yang tidak diketahui dari hal-hal yang telah diketahui. Dengan cara inilah akal manusia, melalui refleksi dan penelitian terhadap alam semesta, dapat mengetahui dan mengimani keberadaan Allah dan hal-hal gaib lainnya. Melalui metode intuitif atau eksperensial (dzauq) sebagaimana dikembangkan kaum sufi dan filosof (isyrāqiyah), hati akan mampu menangkap obyek-obyek spiritual.

Baca Juga:  Virus Corona ini Menyehatkan Fitrah Kemanusiaan Kami

Mengetahui prinsip tersebut, dalam mencari ilmu hendaknya kita tidak hanya mengandalkan elemen indrawi saja, namun juga mengaktifkan elemen akal dan hati. Ketiganya selaiknya berfungsi secara bersamaan sehingga Allah akan mengilhamkan pada kita Ilmu yang tidak hanya mengisi ruang intelegensi namun juga mengisi ruang hati dan spriritual. Manifestasinya, seseorang yang berilmu dengan mengerahkan ketiga elemen tersebut dalam berijtihad, tidak hanya intelek secara ilmiah, namun juga shaleh sebagai makhluq sosial dan semakin kuat iman dan taqwanya pada Allah SWT.

Demikian, dari ulasan singkat ini semoga kita dapat merenungkan tentang pentingnya ilmu sebagai pondasi utama dalam mengisi kehidupan. Allah SWT telah menganugerahi kita daya indra, daya fikir dan refleksi spiritual sebagai satu paket utuh. Dengan membuka ketiga pintu elemen tersebut, insya Allah kita akan mendapatkan ilmu yang barokah, yang dapat kita jadikan pedoman dan memberi petunjuk menuju kebenaran. Lebih dari itu, segala gerak gerik kita yang dilakukan dengan dasar ilmu yang bersumber pada ijtihad burhani, bayani dan irfani, insya Allah akan senantiasa dilingkupi Ridlo Allah SWT dan mampu mendatangkan manfaat yang besar, bukan keburukan.

Bagikan Artikel

About Nuroniyah Afif

Avatar