Dalam Islam mensegerakan untuk menguburkan jenazah yang telah meninggal dunia hukumnya fardhu kifayah. Hukum tersebut mengikat semua Muslim, bahkan di seluruh dunia. Kewajiban ini akan gugur jika sudah dikerjakan oleh sebagian Muslim.

Anjuran itu didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dengan sanad Abu Hurairah dari Rasulullah Muhammad :”Segerakanlah pengurusan jenazah. Jika dia orang baik, berarti kalian menyegerakan dia untuk mendapat kebaikan. Jika dia bukan orang baik. berarti kalian segera melepaskan keburukan dari tanggung jawab kalian.”.

Namun, dalam berbagai pengalaman sering kita jumpai pada praktiknya muncul beberapa masalah yang berkaitan dengan proses penundaan penguburan jenazah itu sendiri. Misalnya, karena sang jenazah menginginkan penguburannya menunggu anaknya yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Atau bahkan untuk kepentingan hukum, seperti penyelidikan terhadap kasus penganiyayaan atau kasus lainnya.

Dalam dunia kedokteran sangat lazim dilakukan pengawetan jenazah untuk kepentingan penyelidikan. Kemudian  jenazahnya tersebut diawetkan dalam batas waktu tertentu untuk bahan penyelidikan oleh para dokter yang bertugas. Lantas kemudian mayat tersebut dirapikan kembali kemudian barulah setelah semuanya sudah selesai maka dilakukan prosesi penguburan jenazah sebagaimana mestinya menurut ajaran Islam. 

Dengan demikian maka secara otomatis tindakan ini akan menimbulkan masalah tertundanya penguburan jenazah. Lantas, bagaimanakah hukum tidak mensegerakan pemakaman karena adanya hambatan ataupun adanya beberapa tujuan?

Pada dasarnya menunda-nunda penguburan jenazah tidak diperbolehkan. Nabi sangat menekankan proses pengurusan jenazah dengan segera. Namun, kesegaraan ini bisa dilakukan dengan beberapa alasan :

1. Untuk mensucikan jenazah yang memiliki penyakit yang menular yang menurut dokter harus di tangani secara khusus. Misalnya, dalam kasus ini seperti jenazah yang mengidap penyakit menular seperti corona yang menghebohkan saat ini.

2. Ada kepentingan medis dan hukum semisal untuk keperluan otopsi yang bertujuan untuk penegakan hukum.

3. Untuk menunggu kedatangan wali jenazah dan atau menunggu terpenuhinya empat puluh orang yang akan menshalati dengan syarat diberitahukan segera selama tidak dikhawatirkan ada perubahan pada jenazah.

Batas terakhir dalam penguburan jenazah adalah sampai khaufut taghayur (bentuk dari jenazah telah berubah) atau sampai selesainya kebutuhan di atas.

Namun, masalah yang banyak terjadi karena tradisi dari sebagian masyarakat terkait pengurusan jenazah, yaitu mengakhirkan pemakaman jenazah, hingga semua keluarga, kerabat dan temannya datang padahal dari tempat jauh. 

Terkadang pihak keluarga lebih memilih menunggu hingga satu atau dua hari, sementara sang mayit sendiri belum dipersiapkan untuk pemakamannya. Ini merupakan bentuk kesalahan. Karena, apabila mayit itu seorang mukmin, maka yang paling dia inginkan adalah segera mendapatkan kenikmatan yang telah Allah janjikan untuknya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.