Hukum Puasa Bagi Musafir

Semua kalangan ulama sepakat bahwa orang yang sedang bepergian musafir diperkenankan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadlan dengan dua syarat perjalanan yang ditempuh 90 km dan bukan bertujuan untuk maksiat kepada Allah Swt Sebagaimana halnya mereka juga sepakat akan kewajiban mengganti puasanya meng qadla yang bolong selama bepergian Dispensasi rukhshoh ini berdasarkan firman Allah Artinya Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari hari yang lain QS Al Baqarah 2 184 Di samping itu terdapat beberapa hadist yang menunjukkan kebolehan tidak berpuasa fithr bagi seorang musafir antara lain hadis riwayat Aisyah bahwa Hamzah bin Amr al Aslamiy yang terkenal sering berpuasa pernah bertanya kepada Rasulullah apakah saya boleh berpuasa di perjalanan Rasulullah menjawab jika kamu mau berpuasa maka puasalah jika kamu memilih untuk tidak berpuasa maka berbukalah Berdasarkan hadist ini Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang musafir boleh memilih antara berpuasa atau tidak berpuasa Namun mana yang lebih afdal antara berpuasa dan berbuka dalam perjalanan Menurut golongan Syafi iyah yang mengacu pada pendapat Anas bin Malik Urwah bin Zubair Abu Hanifah Imam Malik At Tsauri Abu Tsur dan lain lain terdapat dua opsi Jika berpuasa akan mengganggu dan memberatkan lebih utama berbuka sebaliknya jika berpuasa tidak mengganggu dan tidak memberatkan lebih utama tetap berpuasa Ringkasnya pilihlah yang lebih mudah dilakukan Allah menghendaki kemudahan dan tidak menyukai kesulitan Jika seorang musafir mampu berpuasa dan tidak melelahkan tentu lebih utama berpuasa karena ia berarti bergegas untuk melaksanakan kewajiban di samping juga mendapatkan fadilah bulan Ramadlan Tentu saja berbeda puasa dengan qadla yang dilakukan di luar bulan Ramadlan Akan tetapi jika sekiranya berpuasa merasa terbebani dan menyulitkan dalam perjalanan tentu berbuka lebih utama dengan mengambil dispensasi yang diberika Allah kepada hamba Nya Allah menyukai hukum rukhshah Nya dapat dilaksanakan sebagaimana juga Allah senang jika hukum azimah Nya dapat terlaksana Baca juga 3 Tingkatan Puasa Menurut Imam GhazaliKebolehan berpuasa dan berbuka bagi seorang musafir seperti yang telah dipaparkan sebelumnya berlaku bagi musafir yang berangkat pada malam hari sebelum terbit fajar artinya sebelum masuk waktu puasa Namun apabila perjalanan dimulai setelah terbit fajar dan sudah masuk waktu puasa ulama berbeda pendapat Golongan Jumhur Imam Malik Abu Hanifah dan Imam Syafi i berpendapat bahwa pada hari itu si musafir tetap wajib berpuasa dengan alasan kewajiban puasa sudah dimulai sementara ia berposisi sebagai mukim bukan musafir Oleh sebab itu ia tidak boleh menggunakan hukum rukhshah dalam perjalanan kecuali perjalanan hari kedua ketiga dan seterusnya Sedangkan menurut Imam Ahmad dan Ishaq kondisi yang demikian tetap diperbolehkan untuk tidak berpuasa Pada prinsipnya kebolehan berbuka puasa bagi musafir terletak pada illat perjalanannya yang telah mencapai ukuran yang diperbolehkan berbuka puasa Inilah ukuran obyektif yang bisa dihitung dari seorang musafir untuk mengambil kebolehan berbuka Tentu saja ada sebab yang berkaitan dengan hikmah ibadah yakni tentang mudharat Ukuran mudharat ini berbeda beda karena bersifat subyektif Hukumnya pun dikembalikan kepada masing masing individu Apabila ia merasa berat maka boleh mengambil dispensasi berbuka tetapi jika merasa mampu maka lebih utama melanjutkan puasa Ala kulli hal Islam lebih mengedepankan sikap saling menghargai dan menghormati antar sesama musafir Bagi musafir yang berpuasa tidak boleh memandang sebelah mata terhadap musafir yang berbuka apalagi merasa lebih baik Demikian juga musafir yang berbuka agar menghargai musafir yang berpuasa untuk tidak makan dan minum sembarangan sehingga menimbulkan sikap yang tidak pantas dan kurang sedap dipandang Zainol Huda Alumni Ma had Aly Situbondo dan Dosen STAIM Sumenep

Bagikan Artikel ini:
Baca Juga:  Hukum Menggabungkan Puasa Qadha dan Puasa Syawal

About Islam Kaffah

Check Also

Ustad Adi Hidayat

Soal Adi Hidayat dan Imam al Zuhri : Kasus Sama, Endingnya Beda

Adi Hidayat kembali berulah. Setelah sebelumnya menyatakan doa iftitah tidak ada dalil hadisnya, kali ini …

jangan memaksa

Jangan Memaksa, Apalagi Berlagak Memberikan Hidayah

Tidak ada paksaan dalam beragama. Begitu titah Tuhan dalam surat Al-Baqarah 255. Penegasan ini sangat …