Takbir, tahmid dan tahlil telah membahana menandai berakhirnya madrasah Ramadhan dan membuka lembar kemenangan di hari fitri. Ramadhan dimaknai sebagai madrasah yang banyak aturan, pembatasan dan pengendalian diri. Hal yang boleh dilakukan di kondisi normal menjadi dibatasi di masa Ramadhan. Kini, Ramadhan telah berakhir apakah berarti kembali dalam kehidupan normal?

Makan, minum, dan berhubungan di siang hari sudah kembali normal. Namun, sejatinya setelah lulus dari tempaan Ramadhan, umat Islam berada dalam kondisi new normal. Kondisi ini ditandai dengan kehidupan normal seperti sebelum Ramadhan tetapi dengan membawa semangat baru.

Kehidupan new normal pasca Ramadhan adalah ketika umat Islam tetap membawa semangat puasa dalam kehidupan normal. Menjaga emosi, mengendalikan nafsu dan menjaga jarak dengan rayuan setan itulah semangat berpuasa yang tetap dilestarikan pasca Ramadhan.

Tidak ada ukuran dan jaminan apakah puasa kita diterima oleh Allah. Namun, umat Islam harus terus berusaha tanpa lelah dan selalu tulus agar puasa yang telah dilaksanakan selama satu bulan tidak menjadi sia-sia. Tidak hanya mendapatkan haus dan lapar semata sebagaimana telah diperingatkan Nabi.

Manusia memang tidak bisa melihat tanda diterimanya amal kebaikan yang memang menjadi area kekuasaan Allah, tetapi umat Islam sejatinya bisa mengukur keberhasilan puasa. Apakah puasa yang dijalani memberikan dampak yang baik atau justru sebaliknya. Ukuran keberhasilan puasa sebenarnya bisa dilacak dari tujuan disyariatkannya sebagaimana dalam Qs : Al-Baqarah 183.

Tujuan puasa adalah membentuk insan yang bertakwa. Mengukur keberhasilan puasa secara mudah dapat dilihat apakah puasa yang kita jalani sudah membentuk pribadi yang bertakwa. Pribadi bertakwa dapat dilihat dari sikap, pandangan dan perilakunya. Namun, apa itu takwa? Qur’an selanjutnya tidak menjelaskan tujuan bertakwa yang ingin dibentuk oleh puasa itu seperti apa?

Takwa Sebagai Semangat New Normal

Dalam hal ini kita perlu melacak dari beberapa pengertian takwa dalam Qur’an. Takwa secara bahasa adalah bentuk mashdar dari kata ittaqa yang berarti “menjaga diri dari segala yang membahayakan”. Sementara secara syar’i kata takwa memiliki pengetrian “menjaga diri dari segala perbuatan dosa dan meninggalkan segala yang dilarang Allah dan melaksanakan segala yang diperintahkannya, (Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur;an).

Kata takwa disebut sebanyak 258 kali dalam berbagai bentuk dan dalam berbagai kontek yang beragam baik sebagai gambaran tujuan, keadaan, sifat yang harus dimiliki, perintah bertakwa dan lainnya. Namun, secara umum pengertian takwa berarti suatu sifat, sikap dan tindakan untuk menghindari diri dari dosa. Takwa membentuk pribadi yang takut kepada Allah dengan mendorong umat untuk selalu mematuhi semua perintahnya.

Orang yang bertakwa, menurut Quraish Shihab dapat dilihat dari beberapa tanda  kelebihan yang diberikan Allah tidak hanya di akhirat tetapi juga di dunia.  Pertama, dimudahkan ketika ada kesulitan ( QS Ath-Thalaq : 2). Kedua, dimudahkan segala urusannya (QS: Ath-Thalaq : 4). Ketiga, dilimpahkan berkah dari langit dan bumi (QS al-A’raf 96). Keempat, Keberikan furqan yakni petunjuk untuk membedakan yang hak dan batil (QS Al-Anfal 29). Kelima, diampuni dan dihapus segala dosanya (QS al-Hadid 28).

Meskipun dalam kondisi normal, jadikan semangat Ramadhan tetap sebagai perisai diri dalam kehidupan setelah Ramadhan. Perisai diri itu bernama takwa. Takwa adalah hadiah terbaik dan ukuran seseorang telah sukses dalam belajar di madrasah Ramadhan.

Dengan bekal takwa umat Islam menjalani kondisi normal pasca Ramadhan dengan semangat baru. Semangat untuk selalu merasa diawasi oleh Allah, semangat untuk selalu mengendalikan diri dari keburukan dan semangat untuk selalu berlomba dalam kebaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.