quran dan pancasila
quran dan pancasila

Inilah Jawaban Ketika Ditanya “Milih Pancasila atau Al Qur’an”?

Pertanyaan ini sempat viral beberapa waktu lalu. Ada banyak yang kemudian emosional menanggapi bahwa pertanyaan ini membodohkan, tidak relevan dan cenderung membenturkan. Namun, terkadang mereka lupa bahwa pertanyaan bukan pernyataan. Dan patut disadari pertanyaan ini adalah bagian dari model kelompok radikal mengawali indoktrinasi.

Bukan tidak mungkin orang yang pernah terdoktrin dengan pertanyaan yang sejatinya menyesatkan pikiran ini akan gampang teridentifikasi pemahamannya. Mereka akan mudah membenturkan dan bahkan saling mempertentangkan. Bukan pertanyaanya menjadi poin, tetapi apa jawabannya?

Trik gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam satu di antaranya mengajukan pertanyaan “memilih al Qur’an atau Pancasila”? Pertanyaan ini adalah satu cara mengelabui korban untuk direkrut masuk dalam paham (manhaj) cara beragama mereka. Bagi kalangan awam yang dangkal ilmu agama pertanyaan ini tentu saja membingungkan, bahkan dilematis. Namun tidak bagi mereka yang memiliki wawasan kebangsaan yang kokoh diserta pengetahuan mendalam tentang agama Islam tentu suatu hal yang mudah

Kalangan awam tadi pasti menjawab ikut al Qur’an. Umpan termakan, selanjutnya doktrin dijalankan. Penganut Islam garis keras selanjutnya mendoktrin korban dengan mengatakan Pancasila tidak patut diikuti karena tidak sesuai dengan al Qur’an. Karena salah dan bertentangan dengan Islam maka harus ditinggalkan. Harus kembali kepada al Qur’an sebagai kitab Allah.

Untuk itu, di mata mereka, Pancasila harus diganti dengan falsafah dan ideologi yang sesuai dengan agama Islam, namanya pun juga harus kearaban, misalnya Khilafah. Kecendrungan-kecenderungan seperti ini menjadi fenomena yang kini mewarnai kehidupan bangsa Indonesia.

Selanjutnya, benih-benih pemahaman kebenaran hanya seperti yang diyakini tertanam dalam hatinya. Tidak ada kebenaran yang lain kecuali apa yang dipahaminya. Ujungnya adalah krisis menghargai perbedaan dan menjamurnya dominasi serta mengakarnya sikap intoleransi dan radikalisme. Apabila sikap ini tumbuh subur maka subur pula aksi-aksi intoleransi, persekusi, pengkafiran, rasisme, dan terorisme.

Baca Juga:  Menjadi Pancasilais Berarti Menjadi Muslim Yang Baik

Hal ini adalah kenyataan yang miris, bahwa Pancasila yang telah berumur 76 tahun masih menjadi barang baru bagi sebagian orang Indonesia. Padahal usia selama itu tidak tergolong muda lagi, lebih tepat dikatakan usia tua. Sayangnya, usia lanjut tersebut, nyatanya belum final dalam hal pengamalan Pancasila bagi sebagian rakyat Indonesia. Siapa? Mereka yang beranggapan Pancasila tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Apakah anggapan seperti ini benar? Jawabannya, seratus persen salah.

Untuk menjawab pertanyaan “ikut Pancasila atau al Qur’an” sebenarnya sangat mudah. Cukup dijawab dengan pertanyaan juga, “kenapa Nabi membuat piagam Madinah”? Kalau demikian berarti Nabi dan sahabat-sahabatnya tidak ikut al Qur’an?. Bagi yang cerdas dan ilmu agamanya cukup pasti telah paham dan tidak perlu jawaban lagi. Karena Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan al Qur’an, juga dengan agama Islam seluruhnya.

Pancasila adalah perasan atau intisari  dari nilai-nilai dan prinsip yang dikandung dalam agama. Ia merupakan praktik dari maqashidus syariah sebagai tujuan diundangkannya hukum-hukum dalam Islam. Seperti kita ketahui bersama, Islam tidak menghendaki sesuatu kecuali untuk kebaikan bersama, seperti diajarkan Nabi dan para sahabatnya. Ajaran-ajaran universal Islam mewajibkan untuk menghargai perbedaan. Dan, ruh Pancasila juga menghendaki demikian, seperti juga piagam Madinah yang memiliki tujuan seperti itu.

Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan bangsa, permusyawaratan dan keadilan adalah hasil perasan dari nilai-nilai luhur ajaran Islam. Tegasnya, ditinjau dari sisi manapun Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam. Islam adalah nafas Pancasila. Maka sebagai umat Islam, seperti telah disepakati oleh ulama-ulama Nusantara yang telah menerima Pancasila sebagai asas tunggal untuk bangsa ini setelah melalui pengkajian yang mendalam, sejatinya tidak perlu lagi mempersoalkan kesesuaian Pancasila dengan dalil-dalil agama. Lebih detailnya, lihat dan baca “Deklarasi Hubungan Pancasila dan Islam” hasil Munas alim ulama NU tahun 1983.

Baca Juga:  Wahai Pemuda! Beginilah Cara Rasulullah Memanfaatkan Masa Mudanya

Bagi umat Islam, NKRI adalah negara kesepakatan seperti komitmennya Nabi dan sahabat-sahabatnya terhadap negara Madinah yang dibentuk bersama antar masyarakatnya yang lintas agama dan etnis. Umat Islam Indonesia harus komitmen dengan kesepakatan ini. Tidak perlu ada usaha untuk merubah dan merusak kesepakatan ini dengan mengajukan cita-cita falsafah negara yang lain, selain Pancasila. Seperti para sahabat-sahabat Nabi yang setia di bawah Piagam Madinah yang memberi ruang kebebasan bagi penganut agama lain untuk hidup bersama secara harmonis. Indonesia berpeluang menjadi Madinah al Munawwarah dengan Pancasila.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

hidup masih susah

Sudah Rajin Ibadah Hidup Masih Susah, Tuhan Tidak Adil?

Banyak umat muslim yang merasa kehidupan yang dijalani terasa sangat sulit, padahal ia sudah bekerja …

mendidik anak cinta rasul

Maulid Nabi dan Mendidik Anak Cinta Rasul

Bagi masyarakat di kampung bulan maulid layaknya hari raya. Tidak hanya sekali diperingati tepatnya pada …