Belakangan ramai di media sosial video berdurasi 1 menit 29 detik yang menampakkan wajah mantan musisi bergenre rock Ahmad Dhani Prasetyo alias ADP. Dalam video tersebut terlihat ADP mengenakan pakaian serba hitam dan terdengar berkali-kali ia menyebut istilah Islam 212 yang merujuk pada kelompok alumni “Aksi Bela Islam” 2 Desember 2016 lalu di Monas, Jakarta.

Sebagaimana diketahui khalayak umum, aksi 212 merupakan aksi demonstrasi sebagian kelompok Islam yang berambisi untuk menjatuhkan dan memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok/BTP setelah menuai pro-kontra sangat panjang dari berbagai pihak akibat kampanye politiknya yang diklaim mengandung unsur penodaan agama.

Rupanya istilah “Alumni 212” tidak berhenti pada aksi 212 saja, mereka terus melakukan berbagai aksi yang oleh banyak pihak –terutama kalangan mayoritas ormas Islam Nahdlatul Ulama—sebagai tindakan diskrimiatif dan intoleran kepada kelompok ataupun individu yang berbeda baik dalam segi Organisasi, pilihan politik, pemikiran hingga agama atau keyakinan. Keberadaan alumni 212 pun dinilai merusak tatanan keberagaman masyarakat di Indonesia.

Jika dalam videonya yang ramai tersebut ADP menyebut istilah “Islam 212”, lantas terminologi tersebut merujuk kepada wajah ber-Islam yang mana?

Sepanjang pengamatan penulis, ada setidaknya tiga wajah Islam di Indonesia. Pertama yakni Islam Moderat(wasathiyah). Moderat berarti di tengah-tengah, tidak ekstrim kanan maupun ekstrim kiri. Azyumadi Azra kerap menyebut Islam Moderat sebagai karakter asli dari keberagaman Muslim di Nusantara. Orang-orang yang memilih berislam secara moderat biasanya cenderung kritis dengan ilmu pengetahuan, terutama di bidang Agama. Islam moderat juga tidak alergi terhadap segala bentuk perbedaan, baik dalam furu’iyah (cabang-cabang Fiqh), akidah, hingga agama sekalipun. Mereka menilai, perbedaan adalah sunnatullah (ketetapan Allah).

Islam Moderat berorientasi pada ajakan perdamaian dan kehidupan harmonis dalam bersosial, lebih tepat disebut moderat, karena gerakannya menekankan pada sikap menghargai dan menghormati keberadaan “yang lain” (the other). Islam ini juga mampu berakulturasi dengan tradisi daerah, sehingga terlihat luwes. Term moderat adalah sebuah penekanan bahwa Islam sangat membenci kekerasan, karena bedasarkan catatan sejarah, tindak kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Padahal, Islam diturunkan Allah adalah sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh masyarakat dunia). DI Indonesia, term Islam Moderat sering digunakan untuk menyerbut NU dan Muhammadiyah sebagai kelompok Islam arus utama.

Kedua, Islam Takfiri. Terminologi ini biasa dilekatkan kepada kelompok Salafy-Wahabbi dan Jihadi sebab cara berislamnya yang amat keras, kaku bahkan ekstrim. Mereka kerap melabeli individu maupun kelompok yang berbeda dengan mereka sebagai Kafir, amalan yang tidak sesuai dengan pemahamannya seperti tahlilan, ziarah kubur, maulidan sebagai Bid’ah (tidak ada dalil dan contohnya dari Rasulullah SAW) bahkan syirik.

Kelompok ini sangat berseberangan dengan Ahlu Sunnah wal Jamaah yang menjadi mayoritas Islam di Indonesia. Belakangan ini, kelompok Takfiri menyebut diri mereka sebagai Ahlu sunnah (tanpa wal jamaah), merasa sebagai kelompok yang berislam sangat sunnah dan selalu benar. Islam Takfiri banyak dianut oleh kaum jihadis seperti ISIS, Al-Qaeda, serta berbagai kelompok kecil simpatisan dari jaringan teroris terbesar di dunia tersebut.

Ketiga, Islam Barbar. Terminologi ini tidak merujuk pada islam arus utama NU maupun Muhammadiyah. Di luar dari keduanya itu, namun juga memusuhi term Islam Takfiri seperti Salafy dan Wahabbi. Wajah Islam sebagaimana sebutannya, acapkali bertindak brutal dan semena-mena kepada kelompok lain yang dirasa berseberangan baik dalam amaliyah, pemikiran, pandangan politik hingga SARA.

Mereka acapkali melabeli dirinya sebagai representasi Islam di Indonesia yang tegas dalam Amar ma’ruf Nahi Munkar, namun pada kenyataannya sangat jauh bertentangan. Alih-alih membawa kejayaan Islam sebagai Rahmat bagi seluruh alam, justru mereka menjerumuskan Islam dari cita-cita utama tersebut.

Jika kita kembalikan kepada apa yang ADP sebut sebagai “Islam 212”, wajah Islam manakah yang merepresentasikan berislam ala term ADP?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.