tragedi kanjuruhan
tragedi kanjuruhan

Islam dan Belajar dari Tragedi Kanjuruhan

Sebagai fenomena yang sudah mendunia, sepak bola selalu diminati oleh masyarakat Indonesia, baik sebagai pemain, pendukung, penanggungjawab atau sekedar penonton yang asal-asalan. Keseruan permainan sepak bola tidak hanya hiburannya, melainkan kebanggaan dan fanatisme yang menggelora pada pemain atau tim kesayangan. Namun tragedi Kanjuruhan Malang yang menewaskan ratusan pendukung dan menjadi duka Indonesia bahkan dunia internasional membuat  dunia sepak bola Indonesia merasa butuh dievaluasai, atau setidaknya melakukan intropeksi mandiri agar tragedi tidak terulang.

Sebagai negara muslim terbesar dunia, ulama Nusantara perlu melakukan edukasi dunia olahraga terutama sepak bola. Konflik antar pendukung tidak hanya persolaan loyalitas, melainkan persoalan nyawa yang harus dikorbankan, padahal menjaga nyawa merupakan tujuan dari Syariat. Sepak bola perlu disadari sebagai sarana bukan tujuan. Olahraga atau permainan (la’bun) apapun semestinya tidak melalaikan (lahwun) kewajiban agama. Dalam sejarah Islam, pertandingan dijadikan sebagai latihan untuk jihad (militer) dimana saat ini jihad tidak mesti harus berperang, bisa juga menguatkan badan sebagai perantara taat kepada Allah.

Imam Syafii dalam kitabnya al-Umm meluruskan pandangan orang yang membatasi pertandingan (perlombaan) hanya pada balap kuda, unta dan memanah mengingat praktek-praktek tersebut bisa diqiyaskan (dianalogkan) dengan praktek lomba yang lain selama tujuannya sama, terhindar dari unsur taruhan (judi) dan masih dianggap baik oleh masyarakat.

Menurut para sejarawan, pertandingan sepak bola sudah ada di Cina 300 tahun SM, kemudian berkembang di kawasan lain seperti Eropa dan Arab. Di Mesir sepak bola dikenal pada  masa penjajahan Inggris pada tahun 1300 H.  Era penjajahan juga menjadi mementum masuknya sepak bola di Nusantara pada tahun 1914 M ketika masa Hindia Belanda.

Dalam tradisi Islam, Ibnu Kastir dalam kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah menyebut Nuruddin Zanki (w. 1174 M) yang dikenal sebagai penguasa Suriah adalah sosok yang gagah serta piawai memainkan bola untuk latihan jihad. Karena seringnya bermain bola, sebagian orang berkomentar buruk. Zanki menjawab komentar itu; “Saya hanya bertujuan melatih kuda dan mengajarinya tabrak lari”. Jika yang dilakukan oleh Zanki adalah permainan, maka itu bukan kelalaian. Selain Zanki, Ibnu Kasir meriwayatkan seorang Pejabat Urusan Haji bernama Qoimas bin Abdillah yang meninggal karena jatuh dari kuda saat memainkan bola di lapangan Khalifah.

Ibnu Kasir juga mengisahkan adanya atlet pelari yang dimanfaatkan sebagai petugas pengantar surat di Baghdad era Dinasti Buwaih. Ini menginspirasi masyarakat untuk mengajari anak-anak mereka berlari jarak jauh. Sebagian pemuda kala itu mampu berlari lebih dari 30 Farsakh  (60 mil) selama sehari. Pelari yang terkenal dimanfaatkan oleh Kerajaan untuk mengantar surat ke kerabat dalam waktu cepat.

Pemuda-pemuda Baghdad pun semakin semangat untuk berlatih agar dilirik oleh Kerajaan sebagaimana sosok  Fadlul dan Mar’usy. Dua sosok ini memiliki club serta pengikut fantik masing-masing bahkan saling bersiasat  untuk memenangkan jagoannya. Artinya, olahraga lari ketika itu telah menjadi kelompok ideologis yang didasari fanatisme.

Tidak jauh berbeda dengan fenomena sepak bola saat ini yang telah menjadi “madzhab pemikiran” ditandai dengan adanya tiga hal; pertama, pendukung setia yang terlibat publikasi. Kedua, buku-buku pemikiran atau opini idola beserta pendukungnya. Ketiga adanya pengikut pemikiran dimaksud baik berupa institusi negara, kelompok maupun individu. Ini diperkuat dengan media sosial yang tidak pernah lepas dengan isu  sepak bola, terutama media-media online yang berkembang pesat dan tak terkendali. Selain itu, industri  tekstil, media digital dan cetak yang  diuntungkan juga ikut merawat tradisi sepak bola.

Tidak dipungkiri jika sepak bola bisa menjadi sarana pembuka lapangan kerja serta penguat persatuan yang penuh hiburan  tanpa ada tekanan, terlebih di tengah merosotnya kepekaan sosial diantara sesama. Namun tragedi Kanjuruhan mengingatkan para ulama untuk menjaga orientasi umat Islam dalam dunia sepak bola tersebut agar tidak dikotori oleh fanatisme. Imam Syatibi dalam al-I’tisham menyebut diamnya ulama atau panutan terhadap kelalaian umat yang terbukti merusak adalah penyebab utama kerusakan agama itu sendiri. Fanatisme dunia sepak bola yang didiamkan tanpa diedukasi akan dianggap lumrah dan diperbolehkan.

Sikap diam asal rakyat senang dalam kemungkaran merupakan sikap “mudahin” yang dilarang agama. Ulama Sufi menyebut pendiam dari kebenaran adalah “setan yang bisu”. Sekali lagi, tragedi Kanjuruhan mengingatkan bahwa agama sebagai nasehat menemukan momentumnya. Nasehat harus disampaikan dengan cara manis tanpa menimbulkan rasa malu atau gengsi orang yang akan dinasehati. Misalnya dengan menyebarkan atau menawarkan fikih sepak bola sebagai ekspresi fikih peradaban. Tidak hanya dalam rangka menjaga agama, melainkan juga menjaga nyawa agar tidak ada tragedi Kanjuruhan berikutnya. Sebagai realitas budaya dan penentu peradaban global, fikih sepak bola sangat  dibutuhkan oleh dunia Islam, tidak hanya oleh Indonesia.

Secara bertahap, masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim bisa diajak menjadi masyarakat agamis, berprestasi dan mengharumkan nama bangsa dan negaranya. Syaratnya menghilangkan balut-balut fanatisme buta dan sempit. Orientasi pertandingan di zaman Nabi yang semula adalah persiapan jihad perlu dikontekstualisasikan mengingat jihad perang ketika itu merupakan sarana turunnya hidayah sebagaimana sepak bola sebagai sarana optimalisasi ibadah, produktivitas pemuda, penguat spirit gotong royong dan persatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Avatar of Ribut Nurhuda
Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

belajar moderat

Peran Ulama Menjaga Negara dari Bahaya Ikhwanul Muslimin dan Wahabi

Tugas seorang ulama selain mendidik dan melestarikan ilmu adalah menjaga negara dari perpecahan. Ketika sebuah …

Syekh Mahmud At Tahhan

Pembaharu Ilmu Hadis Tutup Usia

Pada tanggal 24 November 2022, seorang ulama hadis kenamaan asal Aleppo, Suriah Syekh Dr. Mahmud …