jpeg
jpeg

Islam Yang Menyenangkan, Merubah Seorang Ateis Jerman Jadi Mualaf

Jakarta – Pengalaman seseorang dalam menemukan hidayah tidak ada yang sama, karena Allah membukakan pintu hidayah melalui perjumpaan-perjumpaan yang tidak pernah dapat diprediksi oleh siapapun. Alang Heinrich yang tadinya menganut ateis, tidak percaya akan adanya Tuhan tetiba merasakan bahwa ada sesutau yang lebih besar diluar manusia.

Selain mendengar lantunan ayat suci, adzan hingga melihat keharmonisan dalam Islam, seseorang dibukakan pintu hidayah juga dari sebuah musibah. Seperti yang dialami oleh Alang yang beberapa bulan lalu pada awal 2021 mengalami musibah apartemenya kebakaran, disitulah dia merasakan bahwa Tuhan itu ada.

“Saya tiba-tiba merasa seperti ada  sesuatu yang lebih besar dari pada kita manusia. Seperti ada sesuatu yang lebih besar, yaitu Tuhan. Sebelumnya saya adalah ateis,” demikian pengakuan warga Jerman yang fasih berbahasa Indonesia ini. Seperti dikutip dari laman republika.co.id Senin (18/10).

“Saya masuk Islam karena hati,” ujar Alang. “Walaupun ibu saya dan adik saya juga beragama Islam, tapi agama itu kan tidak boleh dipaksa,” ujarnya berusaha menjelaskan kenapa setelah usianya menginjak dua dekade baru memutuskan untuk menganut sebuah agama.

Sahabatnya, seorang penyanyi Indonesia, Liza Aditya bercerita mereka dulu berteman ketika Alang masih ateis. “Saya sempat dulu bertanya  pada Alang kenapa tak memilih satu agama? Dia waktu itu jawab, saya tak percaya Tuhan, oh ya sudah,” papar Liza mengenang perkenalannya dengan Alang tahun 2019.

Lama tak ada kontak, ibu Alang menghubunginya. “Jadi katanya Alang dengar saya mengaji, ada di rekaman handphone-nya. Lalu dia tergerak. Katanya bacaan itu indah, seperti itu,” kata Liza.

Bagi Liza pribadi, ia menghargai untuk siapapun yang memeluk suatu kepercayaan, bukan hanya Islam, namun semua agama. “Karena aku meyakini bahwa tidak ada kita, jika tidak ada Tuhan. Jadi saya percaya, adanya tuhan dan dengan keyakinan dengan cara beriman. Walaupun  berbeda-beda, tapi tujuannya sama.”

Baca Juga:  Ini 7 Situs Kota Warisan Islam Dunia

Islam yang menyenangkan

Lalu Liza Aditya mempertemukan Alang dengan Miftah Maulana Habiburrahman atau yang dikenal dengan sapaan Gus Miftah, seorang pemuka agama di Indonesia. Alang semakin semangat untuk mempelajari Islam. “Semua agama itu baik, tidak ada agama yang buruk. Ketika Gus Miftah bercerita bahwa Islam itu menyenangkan, itu yang paling pertama kena di hati, bahwa saya ingin masuk Islam.” Alang melanjutkan, “Saat dia mengajari saya agama Islam, dia selalu bahagia, selalu senang dan selalu tertawa.”

Alang sedari kecil hidup berpindah mengikuti lokasi ayahnya bekerja. Sang fotomodel ini pernah tinggal di Sragen, Jawa Tengah. Namun karena dulu masih kecil, ia mengaku saat itu belum percaya agama, karena menurutnya, bagi Alang yang dulu masih kecil, guru-guru agamanya cukup ketat. “Sedangkan bersama Gus Miftah, saya diperlihatkan bahwa agama itu menyenangkan dan membahagiakan orang,” ujar Alang. “Cuma karena saya susah sebut huruf ‘r’, jadi agak berat pelafalannya ketika mengaji,” ungkap Alang sambil tersenyum dan masih belum juga terbiasa dengan huruf ‘r’.

Ditentang keluarga, didukung teman-teman

Alang mengaku sempat mendapat penentangan dari pihak keluarga ayahnya. “Paman saya, dia tidak suka  sama sekali saya masuk agama Islam. Dia berpikir Islam itu identik dengan terorisme sebagaimana jika ada kasus diberitakan di televisi,” kata Alang. Di lain pihak kawan-kawannya, baik yang ateis maupun yang kristiani mendukungnya memeluk agama Islam.”Mereka bilang: Alang, kita senang sekali kamu sekarang sudah bertemu dengan Tuhan kamu. Walaupun bukan Tuhan kami, tapi paling tidak kamu bertemu dengan Tuhan kamu sendiri,” papar Alang yang mengaku tak punya teman beragama Islam di Jerman.

Alang juga mengamati bentuk-bentuk toleransi beragama di Indonesia dan berharap ke depan akan selalu damai. “Misalnya bagaimana dari tahun ke tahun, saat Natal, umat Katolik yang misa di Katedral Jakarta, diperbolehkan memarkir mobil mereka di Masjid Istiqlal, itu contoh rasa damai dan toleransi yang baik,” selorohnya.

Baca Juga:  Munarman Ditangkap Karena Dugaan Menyembunyikan Informasi Terorisme dan Bait ISIS

Sebagaimana Alang, Liza pun sangat mendambakan semakin suburnya toleransi di tanah air. “Agama Islam tidak pernah tidak baik. Tapi kadang ada saja oknum-oknum yang membuat citranya tidak baik. Jadi saya berharap untuk siapapun, agar bisa melihat agama Islam dengan penuh damai dan rasa tenang,” pungkasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

undangan non muslim

Fikih Toleransi (6): Menghadiri Undangan Non Muslim

Toleransi yang sejatinya merupakan ajaran Islam mulai menipis, bahkan dianggap bukan ajaran Islam. Ini terjadi …

toleransi

Khutbah Jumat – Islam dan Toleransi

Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ …