maulid diiringi rebana
maulid dengan rebana

Hukum Merayakan Maulid Nabi Diiringi Rebana

Perdebatan lawas tentang hukum merayakan Maulid Nabi semestinya tidak berkepanjangan di internal umat Islam. Sebab, hujjah kebolehan merayakan hari lahir manusia paling sempurna dan paling agung tidak bisa disangkal lagi. Mayoritas ulama sepakat boleh dan tidak haram.

Namun, ada hal yang harus diperhatikan supaya tidak merusak kesakralan perayaan Maulid Nabi. Yakni, tidak boleh ada unsur-unsur yang dilarang oleh agama, seperti permainan yang mengarah pada perjudian dan hal lain yang pada dasarnya memang dilarang.

Bagaimana dengan tabuhan rebana untuk mengiringi pembacaan shalawat? Lumrah terjadi di Indonesia, saat perayaan maulid diiringi dengan tabuhan rebana atau hadrah. Untuk itu, perlu dibahas status hukumnya supaya peringatan Maulid Nabi tetap pada koridor yang benar sebagaimana tradisi maulid yang dianjurkan oleh ulama salaf.

Madhab Imam Syafi’i, seperti cantum dalam kitab Faidul Qadir, rebana yang dalam bahasa Arab disebut “duff” hukumnya boleh secara mutlak. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, pada sebuah acara walimah nikah, para wanita menyambut kedatangan Nabi dengan tabuhan rebana, Rasulullah mendengarkan nyanyian dan tabuhan rebana mereka, mereka berkata, “Bersama kami seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi”. Beliau bersabda, “Tinggalkan perkataan itu, dan ucapkan kalimat-kalimat yang sebelumnya kalian katakan”.

Dalam kitab Sunan Ibnu Majah juga ada hadis yang menceritakan bahwa di Madinah pada masa sahabat, rebana dimainkan pada hari Asyura.

Berdasarkan dua hadis ini, Ibnu Hajar berpendapat bahwa rebana boleh dimainkan pada acara walimah nikah meskipun terkesan sebagai “lahwun” atau permainan. Dengan catatan tidak keluar dari batas-batas mubah dan syair atau lagu yang dinyanyikan tidak sampai melupakan seseorang kepada Allah.

Bagaimana dengan pembacaan shalawat Nabi yang diiringi tabuhan rebana?. Tidak khilaf dikalangan ulama tentang kebolehannya. Sebab shalawat adalah pujian kepada Nabi dan otomatis akan membuat seseorang ingat kepada Allah. Yang menjadi perdebatan dikalangan ulama adalah syair yang mengiringinya. Kalau syair atau nyanyian mengarah pada lahwun (melupakan Allah), itu yang dilarang.

Baca Juga:  Fikih Hutang (1) : Hukum Hutang Piutang

Jelas sudah, bahwa acara Maulid Nabi yang diiringi dengan tabuhan rebana adalah boleh. Disamping tidak terdapat unsur-unsur yang mengarah kepada perbuatan lahwun, juga sebagai penyemangat untuk semua yang hadir. Tentunya, karena tidak ada larangan dalam hukum Islam, tradisi Maulid Nabi dengan iringan tabuhan rebana patut untuk dilestarikan sebagai khazanah ritual keagamaan yang dapat menghantarkan kepada kecintaan abadi kepada Baginda Nabi.

 

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

amarah

Amarah yang Merusak dan Tips Menyembuhkan

Marah merupakan salah satu perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang yang tak …

reuni 212

Membaca Reuni 212 : Panggung Menguji Soliditas dan Kuantitas

Berawal dari sejumlah aksi menuntut penistaan agama yang dilakukan oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki …