maulid nabi
maulid nabi

Kritik Pemikiran Muhammad Bin Jamil Zainu (3): Benarkah Perayaan Maulid Banyak Mudharatnya karena Ikhtilat?

Di antara alasan Muhammad bin Jamil Zainu mengharamkan perayaan Maulid Nabi saw adalah karena acara Maulid Nabi saw mengandung banyak kemungkaran dan kemudharatan. Di antara kemungkaran tersebut yaitu adanya ikhtilat (percampuran) laki-laki dengan wanita yang bukan mahromnya.

Yang maksud dengan ikhtilat adalah perkumpulan sesuatu dengan sesuatu yang lain, baik sejenis atau pun tidak, sesesama laki-laki atau bersama wanita. Apakah perkumpulan itu dapat dibedakan atau tidak, jika berkumpul dalam satu tempat maka sudah termasuk ikhtilat[1].

Memang harus diakui, bahwa masyarakat Islam di berbagai dunia dalam merayakan Maulid Nabi saw dihadiri oleh laki-laki dan wanita. Sehingga pemandangan seperti ini dijadikan titik persoalan oleh sebagian kelompok Islam ekstrim dan dianggapnya sebagai perilaku yang menyimpang dari syariat Islam.

Apakah benar setiap perkumpulan yang di dalamnya terdapat laki-laki dan wanita bukan mahromnya hukumnya haram ?

Dalam kaitannya dengan hukum laki-laki berkumpul dengan wanita bukan mahrom dalam satu majlis, ulama’ tidak langsung menghukumi haram. Perkumpulan tersebut hukumnya menjadi haram jika melanggar kepada kaidah-kaidah Syariat Islam. Namun jika tidak melanggar, maka boleh-boleh saja laki-laki berkumpul dengan wanita bukan mahromnya.

Di dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah dijelaskan:

يَخْتَلِفُ حُكْمُ اخْتِلاَطِ الرِّجَال بِالنِّسَاءِ بِحَسَبِ مُوَافَقَتِهِ لِقَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ أَوْ عَدَمِ مُوَافَقَتِهِ ، فَيَحْرُمُ .

Artinya: “Hukum perkumpulan laki-laki dengan wanita berbeda-beda sesuai apakah perkumpulan itu sesuai dengan kaidah syariat atau tidak. Jika tidak sesuai maka hukumnya haram”[2]

Dari keterangan ini dapat diketahui bahwa tolak ukur keharaman laki-laki berkumpul bersama wanita bukan mahrom kaidah syariah. Artinya standar dasar dari al Qur’an dan Hadits yang melarang pergaulan laki-laki dengan wanita.

Sebab itu, maka ulama’ memberikan rambu-rambu khusus tentang perkumpulan yang haram antara laki-laki dan wanita dengan tiga hal:

Baca Juga:  Hukum Berwudlu’ atau Mandi Besar Menggunakan Air Hangat

1.  Terjadi kholwah (berduaan) dan seandainya memandangnya akan menimbulkan syahwat

2.  Berkumpul bersama wanita yang tidak punya rasa malu

3.  Bergurau, bermain-main atau bersentuhan kulit antara laki-laki dan wanita[3].

Rambu-rambu itu muncul karena fakta dalam beberapa hadits memberikan peluang boleh laki-laki berkumpul bersama wanita. Seperti hadits:

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ

Artinya: “Janglah kalian melarang wanita-wanita Allah kepada Masjid” (HR. Bukhari dan lain-lain)

Juga hadits:

 إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهَا

Artinya: “Apabila wanita salah satu diantara kalian meminta ijin ke masjid, maka janganlah di larang” (HR. Bukhari dan lainnya)

Menurut imam Nawawi, hadits-hadits di atas menunjukkan kebolehan wanita pergi ke masjid untuk melakukan shalat berjama’ah bersama laki-laki[4]. Begitu juga dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah tidak mempermasalahkan wanita keluar rumah untuk mendatangi masjid untuk shalat berjama’ah, shalat Jum’at, atau shalat Ied, dan boleh juga mendatangi pengajian umum[5].

Perkumpulan laki-laki dengan wanita hukumnya haram karena berpotensi terjadinya fitnah. Imam Ibn Hajar al Haitami menjelaskan alasan mengapa laki-laki dengan wanita tidak boleh bercampur baur dalam satu tempat, karena akan mengandung fitnah. Dalam

الْمَرْأَةُ لَا تَخْتَلِطُ بِالرِّجَالِ وَذَلِكَ لَا يَجُوزُ فَتَأَمَّلْهُ تَجِدْهُ صَرِيحًا في حُرْمَةِ الِاخْتِلَاط وهو كَذَلِكَ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ

Artinya: “Wanita tidak boleh berikhtilat (bercampur baur) dengan laki-laki, hal itu hukumnya tidak boleh. Pikirkanlah, maka kamu akan menemukan secara jelas tentang keharaman ikhtilat, dan memang begitu hukumnya, karena ikhtilat memungkinkan terjadinya fitnah”       [6]

Seandainya perkumpulan tersebut sudah tidak mengandung fitnah, semisal wanita shalat di belakang jauh dari makmum laki-laki atau disana bersama mahrom. Maka yang demikian sudah tidak haram lagi. Sebab itulah madzhahibul arba’ah (empat madzhab Fiqh) tidak mempermasalahkan wanita hadir ke masjid dalam rangka berjamaah shalat bersama jama’ah laki-laki[7].

Baca Juga:  Berjihad secara Kaffah, Bukan Latah

Bagaimana fakta perayaan Maulid Nabi saw ?

Sekalipun kenyataan dalam perayaan Maulid Nabi saw berkumpul laki-laki dengan wanita, namun pada meraka disediakan tempat tersendiri, tidak kemudian mereka bercampur baur, dengan saling desak-desakan. Bahkan posisi tempat duduk laki-laki jauh dari posisi tempat duduk wanita. Di samping itu pada biasanya oleh panitia diberi batas tabir penghalang.

Jika kita melihat fakta, perayaan Maulid Nabi saw tidak berada pada rambu-rambu keharaman ikhtilat sebagaimana di jelaskan di atas. Sebab pada majlis Maulid Nabi saw tidak lagi terjadi khalwah (berduaan) karena acara tersebut dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan orang.

Seandainya terdapat wanita genit di dalamnya, itu tidak akan memberikan pengaruh apapun, sebab tempat duduk laki-laki dan perempuan berada di lokasi berbeda. Tidak mungkin laki-laki akan tergoda karena berada di tempat berjauhan. Begitu juga tidak mungkin terjadi bersentuhan di tempat yang berjauhan tersebut.

Nah, ketika tiga hal di atas sudah dihindari, maka tidak mungkin terjadi fitnah antara laki-laki dan wanita sekalipun berada dalam satu majlis. Sehingga apa yang ditakuti oleh para ulama’ dari adanya ikhtilat antara laki-laki dan wanita sudah tidak ada. Dalam Qaidul Fiqh disebutkan:

اَذَا زَالَ الْمَانِعُ عَادَ الْمَمْنُوْعُ

Artinya: “Apabila penghalang telah hilang maka yang terhalang akan kembali kepada hukum semula”

Kemudian, mengharamkan perayaan Maulid Nabi saw dengan alasan terdapat percampuran laki-laki dan perempuan adalah argumentasi yang sangat lemah. Sebab perayaan Maulid Nabi saw tidak pasti ada percampuran laki-laki dengan wanita. Bisa saja Maulid Nabi saw dirayakan hanya laki-laki saja atau wanita saja tanpa laki-laki. Yang demikian tetap dinamakan merayakan Maulid Nabi saw sekalipun tidak ada ikhtilat. Artinya Maulid Nabi saw hukumnya haram dengan alasan bercampurnya laki-laki dengan wanita ini adalah haram li ghairihi (karena ada faktor lain), bukan haram li dzatihi (karena dzatnya yang).

Baca Juga:  Praktek Ber-Islam secara Kaffah

Sebab itu, seandainya pada suatu acara lalu terdapat percampuran laki-laki dengan perempuan sampai bersentuhan kulit, maka yang haram hanya pada yang melakukan sentuhan kulit, sementara pada yang tidak melakukan demikian tetap hukumnya sunnah. Bisa diumpamakan dengan orang shalat sambil melihat wanita telanjang, maka shalatnya tetap sah, sekalipun ia haram karena faktor lain yaitu melihat maksiat.

Ada dua kesimpulan yang dapat kita petik dari keterangan-keterangan ini; Pertama, perayaan Maulid Nabi saw sekalipun terdapat perkumpulan antara laki-laki dengan wanita tidak sampai menyebabkan kepada hukum haram karena tidak melanggar kaidah-kaidah syar’iyah.

Kedua, keharaman ikhtilat adalah keharaman tersendiri yang tidak ada sangkut pautnya dengan perayaan Maulid Nabi saw. Karena Maulid Nabi saw tidak harus dilaksanakan bersama-sama antara laki-laki dan wanita. Sehingga keharaman yang disebabkan adanya ikhtilat tetap tidak merubah hukum kesunnahan Maulid Nabi saw. Cukup saja keharamannya pada pelaku ikhtilat tersebut.

Wallahua’lam


[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Juz 2, Hal 289

[2] Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Juz 2, Hal 290

[3] Ibid

[4] Syaraf al Nawawi, Syarh al Nawawi ala al Muslim, Juz 2, Hal 186

[5] Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Juz 7, Hal 91

[6] Ibn Hajar al Haitami, al Fatawa al Fiqhiyah al Kubra, Juz 1, Hal 203

[7] Shihab al Din al Romli, Nihayah al Muhtaj, Juz 1, Hal 553

Bagikan Artikel

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember