WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.44
WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.44

Jadikanlah Puasamu sebagai Perisai Sepanjang Hidupmu

Rasulullah bersabda: “Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa” (HR. Al Bukhari).

Menarik apa yang dianalogikan Rasulullah tentang puasa sebagai perisai. Perisai berarti pelindung yang bisa menjamin keamanan orang yang memilikinya dari serangan. Puasa adalah perisai bagi orang yang berpuasa. Menjadikan puasa sebagai perisai akan menumbuhkan nilai takwa.

Ibadah puasa memang melatih umat Islam untuk menahan beberapa hal yang sebenarnya dihalalkan seperti makan, minum dan berhubungan suami-istri dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Islam melatih umatnya dengan Ramadan untuk menghindari yang membatalkan puasa atau aktifitas buruk lainnya seperti berbohong, mengumbar kebencian, melakukan kekerasan, memfitnah, dan bertindak kasar.

Karena itulah, bukan sekedar hal yang membatalkan puasa yang harus dihindari dengan perisai puasa sebagaimana sabda Rasulullah tersebut. Hal yang bisa merusak pahala puasa seperti emosi juga harus dihindari. Seorang yang sedang berpuasa secara berulang untuk meyakinkan dirinya agar tidak terpancing emosi. Orang berpuasa harus mengontrol diri ketika ada orang yang mencelanya, menganggunya, dan memancing amarahnya dengan mengatakan: aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.

Puasa adalah banteng diri sebagai perisai yang menjadikan dirinya terhindari dari perkara dan hal yang buruk dan merugikan diri dan orang lain. Ketika puasa dimaknai sebagai perisai, maka sesungguhnya puasa akan menjadi perisai sepanjang hidupmu, bukan sekedar ketika bulan Ramadan saja.

Keberhasilan umat Islam melakukan puasa adalah ketika ia keluar Ramadan berhasil menundukkan emosi, keinginan dan nafsu kejelekan. Setelah Ramadan hal yang dilarang seperti makan, minum dan berhubungan suami-istri di siang hari sudah bukan larangan lagi. Ramadanmu akan dikatakan berhasil ketika puasamu terus menjadi banteng dan perisai dari keburukan.

Baca Juga:  Fatwa Grand Mufti Mesir : Menurut Madzhab Maliki Anjing Tidak Najis

Ketika umat Islam berhasil menjadikan puasa ini sebagai terapi, saat itulah ia akan menjadi pribadi yang bertakwa sebagaimana tujuan disyariatkan puasa (QS Al Baqarah: 159). Puasa pada akhirnya ingin membentuk ketakwaan. Takwa itu adalah suatu sikap dan kondisi umat Islam yang selalu merasa diawasi oleh Tuhan baik kondisi ramai dan sepi.

Jika puasa dilakukan secara sukses sebagai terapi selama satu bulan, umat Islam akan memperoleh perisai bernama ketakwaaan. Setelah bulan Ramadan berlalu sesungguhnya perisai diri umat Islam dari berbagai tindakan buruk dan dosa adalah sikap takwa.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

khilafiyah

Menyoal Khilafiyah : Kenapa Dalilnya Sama, Tetapi Hukumnya Beda?

Kata Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam kitabnya al Sawa’iq al Mursalah, “Terjadinya perbedaan di kalangan …

Ustad Adi Hidayat

Soal Adi Hidayat dan Imam al Zuhri : Kasus Sama, Endingnya Beda

Adi Hidayat kembali berulah. Setelah sebelumnya menyatakan doa iftitah tidak ada dalil hadisnya, kali ini …