Memilih ustadz dan guru agama tidak sembarangan. Islam memberikan pedoman bagi penuntut ilmu dalam memilih ustadz atau seorang pembimbing keagamaan.


Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Mulai sejak lahir sampai jasad masuk liang lahat sebagaimana anjuran Rasulullah. Hal ini menandakan begitu pentingnya ilmu untuk bekal hidup di dunia. Dan yang lebih penting bekal hidup yang harus dikuasai lebih dulu adalah ilmu agama. Ilmu agama menjadi bekal tidak saja untuk hidup di dunia, tetapi juga sebagai persiapan kehidupan berikutnya.

Untuk memperoleh dan mempelajari ilmu harus berguru terlebih dahulu. Maka, mencari guru agama atau populer dikenal ustadz yang tepat akan berpengaruh terhadap perjalanan selanjutnya. Jika salah memilih ustadz tentu sangat fatal akibatnya.

Banyak kita temui orang pintar, namun ilmunya justru memerosokkan dirinya pada kehinaan. Inilah penting untuk mengetahui tips memilih ustadz.

Dalam rangka itu, Islam membuat peta petunjuk untuk penuntut ilmu dalam hal memilih ustadz atau seorang pembimbing keagamaan. Memilih ustadz dan guru agama tidak sembarangan karena ia akan menuntun tidak hanya baik dalam hal duniawi, tetapi juga ukhrowi.

Tips Pertama, sebagaimana lazimnya umat Islam ketika ingin menentukan pilihan baik urusan dunia maupun akhirat adalah dengan meminta petunjuk kepada Allah dengan cara yang dianjurkan oleh Nabi, yakni shalat istikharah. Demikian pula bila hendak memilih guru, baiknya melakukan shalat istikharah lebih dulu. Meminta petunjuk dari Allah kepada siapa akan belajar.  

Tips Kedua, harus memperhatikan keperibadian calon guru, terutama akhlaknya. Supaya di saat menempuh studi bersamanya mendapatkan kebaikan perilaku (akhlak) serta adab darinya. Hal ini penting karena para ulama salaf menilai adab atau akhlakul karimah derajatnya lebih tinggi dari ilmu.

Tips Ketiga, mencari guru yang memiliki kompetensi. Tanpa kompetensi yang baik hasilnya akan jelek. Hal ini terutama untuk ilmu agama. Karena kalau sampai berguru kepada guru yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang agama, sangat mungkin sekali untuk tersesat.

Sebagaimana ungkapan Nabi yang menyatakan, “Bila suatu urusan diserahkan kepada seseorang yang tidak memiliki keahlian pasti akan rusak”. Maka wajib memilih guru yang memiliki kompetensi atau kapabilitas yang baik, benar-benar mempunyai rasa belas kasih, nampak kewibawaannya, diketahui kebaikan dan kesederhanaanya, paling baik pengajarannya dan paling bagus dalam mentransfer ilmu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Ulama Salaf,  “Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”.

Tips Keempat, berguru kepada seseorang yang tidak populer, tapi kapasitas ilmunya tinggi. Kenapa demikian? Karena biasanya orang yang ilmu agamanya luas enggan untuk memamerkan ilmunya. Ketaqwaannya dan luasnya ilmu menahan dirinya untuk berbuat demikian. Wara’ dan zuhud.

Menjadi bukti tak terbantahkan, bahwa ilmu yang tinggi disertai wara’ dan zuhud  memiliki nilai yang sangat istimewa dalam proses transfer ilmu. Kitab yang ditulis oleh orang yang lebih bertakwa dan lebih zuhud itu lebih luas manfaatnya. Bahkan bertahan ribuan tahun.

Tips Kelima, mencari guru yang jelas riwayat ilmu dan belajarnya. Guru yang baik tentunya harus memiliki pengetahuan ilmu-ilmu syar’i secara sempurna dan ilmunya diperoleh dari dan bersama para guru. Prosesnya panjang karena untuk memperdalam ilmu agamanya terlibat dalam banyak kajian dan berkumpul dengan gurunya dalam waktu yang lama.

Hal yang Harus dihindari dalam Memilih Guru

Ada dua hal yang harus dihindari oleh para penuntut ilmu dalam memilih guru:

Pertama, jangan menimba ilmu karena memandang popularitas guru. Hindari menimba ilmu karena popularitas guru dan meninggalkan orang ahli ilmu yang tidak populer. Di sini butuh kejelian menilai. Apalagi di saat sekarang, popularitas bisa dicipta melalui berbagai media sosial.

Seseorang yang memiliki ilmu sangat terbatas bisa saja ngetrend sebab dibesarkan dan digaungkan oleh media. Ini menjadi sangat berbahaya. Imam Ghazali dan ulama yang lain menilai bahwa tindakan mencari popularitas dengan cara tersebut termasuk dari kesombongan terhadap ilmu, dan menjadikannya sebagai tindakan dungu. Apalagi bila taraf keilmuannya tidak memadai.

Kedua, jangan berguru kepada orang yang mengambil ilmu semata dari perut buku (otodidak) dan tidak diketahui gurunya. Imam Syafii berkata, “siapa yang bertafaqquh dari perut buku (otodidak), ia telah menyia-nyiakan hukum”. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa di antara musibah yang besar adalah berguru kepada lembaran kertas dengan pemahamannya sendiri tanpa ada guru yang akan mengoreksi jika ada kesalahan.