citra diri
citra diri

Jangan Instan, Tirulah Cara Nabi dalam Membangun Citra Diri!

Dewasa ini banyak kalangan yang berusaha keras hendak membangun citra diri (personal branding). Bahkan cara-cara yang tak wajar dan brutal pun dilakukan oleh banyak orang demi dikenal banyak orang.

Sangat sering kita jumpai seseorang yang hendak membangun citra diri agar dikenal banyak orang tetapi menggunakan cara yang tidak tepat. Sebut saja peristiwa rekayasa babi ngepet yang terjadi di Depok dalam beberapa waktu lalu. Ia sempat menggemparkan publik lantara bikin video palsu tentang pesugihan babi ngepet lantaran hendak mencari sensasi. Tetapi mereka justru berakhir di balik jeruji.

Oleh karena itu, mari kita belajar tentang bagaimana Rasulullah dalam melakukan personal branding (membangun citra diri). Tidak dapat diragukan lagi bahwa Rasulullah merupakan pribadi yang sempurna. Bahkan ilmuan Barat, Michael H. Hart dalam bukunya “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah” menempatkan Nabi Muhammad pada urutan pertama.

“Dialah Nabi Muhammad satunya manusia dalam sejarah yang meraih sukses-sukses luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi”, kata Hart (hlm. 27). Ini menunjukkan betapa personal branding Rasulullah sangat luar biasa. Selain itu, Rasulullah juga terkenal sebagai sosok yang dapat dipercaya, sehingga beliau dijuluki sebagai ‘al-Amin’. Julukan ini diraih Rasulullah bukan secara instan, sebagaimana fenomena rekayasa babi ngepet di Depok dan orang-orang yang senada, melainkan diperoleh karena perangai dan tindakan beliau.

Mokh Syaiful Bakhri dalam Teladan Rasulullah: Menggapai Luasnya Rahmat Allah Melalui Sabda dan Tindakan Rasul (2004), mengungkapkan setidaknya ada 20 kisah teladan dari Nabi yang dapat dipetik dan diamalkan bagi umatnya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Ririn Astutiningrum dalam bukunya 49 Teladan dalam Alquran (2017), menegaskan bahwa Rasulullah merupakan ‘kiblat’ teladan manusia yang sempurna. Hal itu tercermin dari ucapan, sikap, perbuatan, respons, kepedulian, ketulusan, komitmen, dan keseluruhan perilaku beliau.

Baca Juga:  Berbakti kepada Orang Tua itu Wajib, Tapi…

Mohammad Munif Ridwan (2021) merinci cara Nabi untuk mendapatkan personal branding al-Amin dengan tiga cara.

Pertama, didapat karena adanya satu kesamaan visi antara hati, lisan dan perbuatan.

Karena personal branding adalah upaya memasarkan diri melalui citra tertentu yang dibentuk dan ditampilkan kepada banyak orang, maka konsistensi antara hati, lisan dan perbauatan menjadi modal dasar dalam hal membangun personal branding yang kuat. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.

Kedua, bukanlah rekayasa.

Personal Branding atau citra diri bukanlah merekayasa kepribadian atau pun mendesain sebuah kejadian yang tak sesungguhnya (akrobatik, gimmik dan sejenisnya), tetapi sebuah proses yang orisinil untuk meletupkan keunikan, keunggulan dan hal-hal positif lainnya dalam diri yang akan menjadi pembeda dari yang lain.

Nabi Muhammad yang agung itu dikenal masyarakat bukan karena polesan media yang lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas (Baudrillard 1929: 207), juga bukan karena peristiwa akrobatik yang dibungkus dengan informasi bohong yang dapat memantik perhatian khalayak banyak. Sekali lagi, bukan begitu!  Melainkan dibangun dengan proses yang cukup panjang dan penuh dengan tantangan.

Ketiga, tidak lahir dalam waktu sekejap.

Philip Kotler, seseorang Bapak Pemasaran Dunia, mengatakan bahwa brand adalah simbol, merek, nama, logo, istilah atau penggabungan dari semua itu. Dengan demikian, personal branding merupakan simbol atau ciri khas yang melekat pada diri seorang. Maka, untuk membangunnya, tidak bisa dalam waktu sekejap.

Nabi Muhammad mendapatkan brand sebagai orang yang dapat dipercaya (al-Amin) dimulai sejak beliau belum diangkat menjadi Nabiyullah. Kala itu, suku Quraish sedang berselisih tentang siapa yang lebih berhak meletakkan batu Hajar Aswad di Ka’bah. Situasi ini sangat menegangkan, bahkan hampir terjadi pertumpahan darah diantara mereka (Martin Lings, Sejarah Hidup Muhammad: 2001). Singkat cerita, Nabi Muhammad dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. Bahkan semua pihak yang berselisih, merasa lega karena sikap dan kebijaksanaan Nabi Muhammad.

Baca Juga:  Rasulullah Memang Tegas, Tapi Tidak Gampang Marah Apalagi Berkata Kasar

Nabi Muhammad melakukan ‘personal branding’ tidak hanya sekali itu saja, bahkan setelah personal brandingnya melejit sebagai al-Amin, secara konsisten, beliau tetap merawat dan meningkatkan citra diri yang positif hingga akhir hayatnya. Karena itu pula, nama Nabi Muhammad bukan saja harum di mata umat Islam dan dunia. Lebih dari itu, beliau dijadikan sebagai teladan. Karena ini pula, dalam Islam, ada empat sifat wajib Rasulullah: shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (komunikatif), dan fathanah (pandai).

Bagikan Artikel

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir