Banyaknya umat muslim yang menunda-nunda melaksanakan shalatnya dikarenakan sibuk dengan berbagai aktifitas duniawi yang menyilaukan. Mereka terlihat santai dan tidak menyangka waktu sudah mulai sempit bahkan harus melalaikan kewajibannya.  

Salah satu shalat yang sering tertunda adalah shalat ashar. Saking seringnya umat Islam meremehkan waktu shalat ashar ini ada peringatan dan ancaman khusus bagi mereka yang sengaja meninggalkan shalat ashar.

Mungkin tidak banyak diketahui oleh muslimin bahwa shalat asar memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Shalat ini termasuk bentuk dzikir, mengingat Allah di waktu sore menjelang malam sebuah waktu pergantian hari yang mampu memberikan semangat mengingat Allah di malam hari.

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 238,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Artinya: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”

Ulama berbeda pendapat tentang pengertian shalat wustha atau pertengahan ini. Namun, pendapat yang kuat bahwa shalat wushta adalah pengertiannya shalat ashar karena diapit sebelumnya dua salat siang dan sesudahnya dua salat malam. Pendapat ini dipelopori oleh Ali bin Abu Thalib, Ibn Abbas, Ibn Umar, Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khuderi.

Setelah Allah memerintahkan untuk menjaga semua shalat yang telah di wajibkan, Allah juga menekankan pada umatnya untuk senantiasa menjaga shalat wustho (ashar). Karena itu, sangat ditekankan maka shalat asar hendaklah dikerjakan di awal waktu. Dan ini bagian dari upaya menjaga shalat asar.

Adapun batasan awal dan akhir dalam mengerjakan shalat wutsa atau solat ashar. Batasan awal shalat asar adalah ketika panjang bayangan sama dengan tinggi bendanya. Sementara batas akhir shalat asar ada dua macam:

Pertama, batas ikhtiyari

Dimana batas orang dibolehkan untuk melakukan shalat asar dari sejak masuk waktu sampai masuk batas ikhtiyari. Batas ikhtiyari shalat asar adalah sesaat sebelum matahari menguning.

Dari Abdullah bin Amr Rasulullah bersabda, “Waktu asar, selama matahari belum menguning” (HR. Ahmad 6966 & Muslim 1417)

Kedua, batas dharuri

Di mana rentang waktu jika ada seseorang yang melakukan shalat asar di waktu itu, maka dia berdosa, kecuali dalam kondisi darurat atau ada udzur. Batas waktu dharuri dimulai sejak matahari menguning, sampai matahari terbenam.

Hadis dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda, “Siapa yang mendapat satu rakaat ketika shalat asar sebelum matahari terbenam, dia dianggap telah mendapatkan shalat asar (shalat asarnya sah). (HR. Muslim 1404).

Hadis di atas menjelaskan bahwa, jika ada orang yang shalat di waktu dharuri tanpa udzur, maka dia berdosa, namun shalat yang dikerjakannya tetap dianggap sah. Dosa yang telah dijatuhkan kepadanya di karena dia telah meremehkan shalat asar.

Rasulullah pernah menyebut shalatnya orang munafik yakni orang yang secara sengaja menunda-nunda waktu shalat, hingga mendekati berakhirnya waktu shalat. Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda,

تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً

Artinya: “Itulah shalatnya orangn munafik.. duduk santai sambil lihat-lihat matahari. Hingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (menjelang terbenam), dia baru mulai shalat, dengan gerakan cepat seperti mematuk 4 kali. Tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit.” (HR. Muslim 1443 & Ahmad 11999).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.