Memiliki anak merupakan dambaan dari setiap pasangan suami istri. Namun, sebagai sumber kebahagian dalam rumah tangga perlu diingat bahwa anak merupakan titipan Allah yang kelak di hari akhir, para orangtua akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat.

Karena sebagai tanggungjawab dan amanah bisa jadi anak akan berpengaruh pada orang tua di akhirat. Tentu, tidak ada satupun orang tua yang mengharapkan anaknya akan menyeretnya ke neraka. Mereka tentunya mendambakan dan mengharapkan anak-anaknya kelak bisa membahagiakannya, menjadi penyejuk hati dan mata baik dunia terlebih lagi ketika kita sudah tidak ada di dunia ini. Bahkan menjadi penyebab masuk syurga.

Allah SWT sudah menggambarkan dalam al-Quran kalau anak bisa jadi empat hal bagi orangtuanya. Di antaranya:

Pertama, anak sebagai ujian bagi orang tuanya. Dalam surat al-Anfaal 8 ayat 28, Allah berfirman:

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya : ” Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Anak bisa menjadi cobaah atau fitnah yang dapat terjadi pada orangtua ketika anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang durhaka. Seperti pergaulan bebas, penipuan, atau perbuatan-perbuatan buruk lainnya.

Kedua, sebagai perhiasan dunia. Dalam surat al-Kahfi 18 : 46

 أَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Anak sebagai mampu menjadi perhiasan dunia jika orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan sang anak. Layaknya perhiasan dan kekayaan, anak diperlakukan, dijaga, bahkan disayang sebaik-baiknya oleh para orang tua.

Ketiga, anak sebagai penyejuk hati. Dilihat dalam surat al-Furqaan 25 : 74

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Artinya : “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” 

Sebagai Qurrata a’yun (penyejuk hati kedua orang tua). Ini kedudukan anak yang terbaik yakni manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orangtuanya. anak-anak yang saleh, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi sesama. Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Namun, tipikal anak yang seperti ini tidak lahir begitu saja. Dibutuhkan perjuangan keras dari orang tua untuk mengasuh, membina, dan mendidiknya, bahkan sudah pasti membiayainya. Dan yang tak kalah penting adalah doa, baik dari orang tua maupun dari orang-orang yang saleh. 

Keempat, anak sebagai musuh bagi orang tuanya, dan inilah yang paling tidak di harapkan oleh semua orang tua. Dalam surat at-Taghaabun 64 : 14,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya : “Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” 

Sebagai ‘aduwwun ( musuh orang tuanya) adalah apabila ada anak yang menjerumuskan orang tuanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Jika sudah begini bukan saja menyiksa orang tua di dunia tapi tentunya akan sampai perhitungannya di akhirat sana. Sering terlihat oleh kita, orang tua yang merasa puas dan bangga ketika melihat anaknya sukses menapaki karir kehidupan dunia, harta melimpah ruah namun anak-anaknya jauh dari nilai-nilai agama.

Dari ke-empat kedudukan anak tersebut, tentu sebagai orang tua menginginkan agar anak-anaknya menjadi penyejuk serta perhiasan dunia yang dimiliki oleh orang tuanya. Namun untuk mencapainya diperlukan ketekunan orang tua dalam membina mereka.

Orang tua hendaknya mampu memberikan contoh yang baik terhadap anak-anaknya, karena anak merupakan cerminan dari orang tua. Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka-pun akan mudah menirunya.

Selain itu hendaknya orangtua tetap selalu memperhatikan pergaulan anaknya di dalam masyarakat. Karena pengaruh terbesar dalam perkembangan kepribadian anak ada dalam kehidupan sosialnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.