Manusia sebagai makhluk sosial pasti mempunyai perbedaan, baik perbedaan dari segi kepribadiannya maupun dari segi sosialnya. Apalagi jika manusia itu mempercayai suatu agama, maka sesungguhnya dapat dipastikan bahwa ia akan mengasihi dan menghormati siapapun orangnya. Karena dilihat sisi normatif, tidak ada satu pun agama yang menganjurkan pemeluknya untuk melakukan tindakan kekerasan baik secara verbal maupun fisik.

Akan tetapi, secara faktual tidak jarang dijumpai tindak kekerasan yang berawal dari tidak adanya rasa menghormati. Hal itu diperparah ketika yang melakukan adalah tokoh masyarakat agamis dan dilakukan atas nama agama yang dipahami dari teks-teks keagamaan. Padahal, semua agama mengajarkan tidak saja hubungan antara manusia dengan Tuhan tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya.

M. Ainul Yakin (2005:34) mengatakan bahwa hidup beragama berarti hidup dalam keteraturan dan terhindar dari kekacauan. Hidup yang damai dan teratur merupakan dambaan setiap manusia. Agama diturunkan untuk membawa kemaslahatan bagi  manusia.  Agama-agama  mendukung  terciptanya  kedamaian, rasa saling menghormati dan toleransi. Kekacauan yang terjadi atas nama agama akan memunculkan stigma negatif terhadap pemeluk agama atau bahkan agama tersebut. Demikian pula dengan Islam, yang datang untuk membawa  kedamaian  dan  keselamatan  bagi  manusia. Teks suci al-Qur’a>n sebagai sumber primer ajaran Islam diyakini membawa ajaran kemaslahatan bagi manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Tidaklah mungkin sebuah teks al-Qur’a>n atau teks suci agama manapun bertentangan dengan kemaslahatan manusia. Jika ada pertentangan antara kemaslahatan dengan teks suci, maka dapat dipastikan pemahaman terhadap salah satunya keliru. Mungkin pemahaman terhadap teks itu yang keliru, atau pemahaman terhadap konsep kemaslahatan itu yang keliru. Islam sebagai agama hadir membawa misi untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya, termasuk hubungan muslim dengan non- muslim.

Al-Qur’an telah banyak memberikan pedoman yang diajarkan tentang hidup berdampingan dan saling menghormati antar umat beragama. Indikasi tersebut salah satunya bisa dilihat dari Surat al-Mumtahanah 60: 8-9:

  • لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

Melihat ayat-ayat al-Qur’an diatas kita jadi tahu mana orang yang boleh diajak berteman dan mana yang tidak menurut Islam. Jika ada orang lain walaupun berbeda agama dengan kita tetapi dia mau hidup damai, saling menghormati dan tidak saling memusuhi, maka boleh diajak berteman. Begitu juga sebaliknya, jika ada orang yang memusuhi kita, bahkan sampai mengusir kita, maka orang itu jangan dijadikan teman.  

Sikap saling menghargai dan menghormati seharusnya dimiliki terutama oleh setiap tokoh bangsa dan tokoh agama. Ketika setiap tokoh bangsa dan agama saling menghormati maka itu menjadi pemandangan indah yang dilihat oleh umatnya di akar rumput.

Namun jika situasinya berkebalikan, artinya tiap tokoh agama mempertontonkan rasa saling benci kepada tokoh agama lainnya yang kemudian mewujudkan cemoohan dan ujaran kebencian, maka umat yang di akar rumput akan ikut serta meramaikan kebencian itu, bahkan hal ini bisa berakibat konflik yang merugikan semuanya.

Teladan Toleransi Rasul

Nabi Muhammad Saw sedari awal mengajarkan umat Islam untuk saling menghormati tokoh-tokoh agama lain. Buktinya ketika nabi SAW pertama kali datang ke Madinah, beliau langsung menghormati dan menggandeng tokoh-tokoh agama di Madinah kala itu untuk membuat sebuah konsensus yang dinamakan Piagam Madinah.

Selain itu, nabis SAW juga memberikan rasa hormat kepada raja-raja non muslim kala itu saat berkomunikasi melalui surat-surat yang isinya mengajak memeluk agama Islam dan tidak saling memusuhi. Hal ini dilakukan agar semua orang, baik raja maupun rakyat biasa simpatik dan memandang Islam sebagai agama kasih sayang

Di antara surat-surat nabi SAW yang menunjukan rasa menghargai kepada seorang raja adalah surat nabi SAW yang ditujukan kepada raja Romawi Timur, Flavius Heraclius Augustus (w. 641 M) seperti diabadikan dalam hadits Shahih al Bukhari:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ: سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى.رواه البخاري

“Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraclius Raja Romawi, semoga keselamatan terlimpahkan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk …” (HR. Al Bukhari)

Berkaitan hadits ini Syekh Abu Sa’id al Khadumi (w. 1176 H/1763 M) pakar fiqh dan ushul fiqh mazhab Hanafi, menjelaskan secara gamblang dalam kitabnya Bariqah Mahmudiyyah fi Syarh Thariqah Muhammadiyah wa Syari’ah Nabawiyah, II/353-354. : “Aku berpendapat, bahwa dalam hadits tersebut terdapat: (1) kesunnahan mengagungkan tokoh masyarakat meskipun non muslim bila mengandung kemaslahatan.

Dalam hadits itu juga terdapat (2) isyarat untuk bersikap halus dan saling bersimpati karena kemaslahatan. Dalam hadits itu juga terdapat (3) kebolehan mengucapkan salam kepada non muslim ketika dibutuhkan sebagaimana kebolehannya dikutip dari kitab at Tajnis dalam konteks seperti itu. Sebab sikap seperti itu pada hakikatnya bukan karena mengagungkan, tapi karena tujuan kemaslahatan, menunjukan kasih saying dan keakraban sebagai keindahan Islam.

Kisah penghormatan dan dukungan moral tokoh agama lain terhadap Nabi SAW pun pernah terjadi. Ketika Muhammad Saw. baru saja menerima wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril, pada mulanya ia diliputi oleh ketakutan dan kecemasan, sehingga nabi meminta diselimuti oleh isterinya, Khadijah r.a. alhasil, ketakutan dan kecemasan yang dialami bisa diredam oleh Khadijah r.a. yang berhasil menghibur dan meyakinkan Nabi Saw.

Selanjutnya untuk lebih memantapkan jiwa beliau tentang peristiwa yang baru saja dialaminya, beliau dibawa Khadijah menghadap kepada Waraqah bin Naufal, seorang tokoh agama di Mekkah dengan latar belakang agama Nasrani, ia dikenal memiliki pengetahuan  yang  luas  tentang  agama  Kristen  dan  menguasai bahasa Ibrani. Ia juga telah mempelajari dan menerjemahkan kitab Taurat dan Injil ke dalam bahasa Arab. Ketika Nabi menjelaskan kepada Waraqah peristiwa yang baru saja dialaminya, Waraqah menyatakan:

“Demi  Dzat  yang  jiwaku  berada   di  tangan-Nya,  sesungguhnya engkau adalah Nabi atas umat ini. Sesungguhnya yang datang kepadamu adalah  al-Namus al-Akbar (malaikat Jibril),  yang telah mendatangi  Musa.  Sesungguhnya engkau  pasti  akan  didustakan, disiksa dan diperangi. Sekiranya aku masih hidup pada  waktu itu, pasti  aku akan  membela orang  yang berada  di pihak Allah dan pembelaan yang telah diketahui-Nya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.