budaya serakah
budaya serakah

Jihad Nabi Melawan Budaya Serakah

“Seandainya anak adam memiliki dua lembah berisi emas (harta), maka dia mengharapkan ada lembah ketiga”, pesan Nabi yang mengilustrasikan keinginan manusia yang tidak terbatas, bahkan kecenderungannya untuk serakah tanpa dikendalikan rasa kemanusiaan dan ketakwaan. Pesan ini tercatat dalam kitab  Shahih Bukhari, mengingatkan pentingnya membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan bisa dibatasi tetapi  keinginan tidak bisa dibatasi.

Prilaku serakah secara potensial ada dalam diri setiap manusia. Masalah rakus atau tamak dijelaskan secara gambalang dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 96:

وَلَتَجِدَنَّهُمۡ أَحۡرَصَ ٱلنَّاسِ عَلَىٰ حَيَوٰةٖ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمۡ لَوۡ يُعَمَّرُ أَلۡفَ سَنَةٖ وَمَا هُوَ بِمُزَحۡزِحِهِۦ مِنَ ٱلۡعَذَابِ أَن يُعَمَّرَۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا يَعۡمَلُونَ  [ البقرة:96]

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.

Cukup banyak penelitian menyimpulkan bahwa yang berpengaruh positif terhadap prilaku koruptif adalah kuatnya “rasa ingin” atau keserakahan, bukan kebutuhan yang sebenarnya. Nabi membenci prilaku suap, manipulasif dan koruptif sehingga potensi serakah dalam diri manusia harus dikendalikan. Dalam Shahih Bukhari Nabi bersabda; “semoga Allah melaknati pencuri”. Dalam kitab lain Nabi bersabda; “orang yang menyuap dan disuap tempatnya di neraka”.

Begitupun hadis yang sangat terkenal, Nabi mengatakan; “Seandainya Fatimah putriku mencuri, Saya sendiri yang akan memotong tangannya”. Tentu Nabi berharap komitmen ini dimiliki oleh setiap pemimpin yang mewarisi perjuangan Islam mengingat para pemimpin adalah pihak paling rentan melakukan kecurangan dengan sebab empat faktor; keserakahan, kesempatan, kebutuhan dan pengungkapan yang berkaitan dengan konsekuensi koruptor jika terungkap. Hukuman yang ringan bagi koruptor akan membuat pelakunya merasa aman jika tindakan korupsinya terungkap, bahkan akan mengulanginya kembali di kesempatan berikutnya.

Orang serakah menginginkan harta sebanyak-banyaknya tanpa rasa cukup atau rasa syukur atas isi perutnya dan rasa aman pada dirinya. Kata “cukup” dalam kamusnya tidak ada batasnya, bisa berkembang sesuai ambisinya. Misalnya sudah memiliki satu  rumah menginginkan uang yang cukup untuk membangun dua, tiga atau bahkan empat rumah. Karena itu, agama mewajibkan zakat harta (mal)  dan tidak mensunnahkannya. Agama juga memberikan jatah distribusi zakat untuk panitia atau amil agar tidak muncul keinginan untuk melakukan korupsi harta zakat.

Abu Ubaid (w. 224 H) menulis kitab al-Amwal yang fokus membahas keuangan publik. Dirinya mengutip sabda Nabi Saw; “Barang siapa meminta-minta (untuk menumpuk harta) dan dia sebenarnya tidak membutuhkannya maka dia akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan ada cakaran di wajahnya. Sahabat bertanya; apa ukuran tidak membutuhkan atau cukup itu wahai Rasulullah ?. Nabi menjawab; ukuranya 50 dirham atau seberat  emas 50 dirham”. Di zaman Nabi, uang 50 dirham cukup menjamin kebutuhan keluarga mulai dari makan, tempat tinggal, pakian dan lainnya yang kadarnya bisa berbeda sesuai perkembangan nilai mata uang. Pada prinsipnya, dianggap cukup katika tidak mengabaikan hak diri sendiri atau orang lain seperti pembatu dan siapa pun yang menjadi tanggungannya.

Serakah adalah padamnya nurani kemanusiaan. Orang serakah bisa saja nampak membantu tetapi sebenarnya yang dilakukan adalah memperalat. Jika orang dermawan memberdayakan potensi manusia agar lebih bermanfaat sebagaimana pesan Nabi; “sebaik-baik manusia adalah yang lebih bermanfaat”, maka orang serakah justru memanfaatkan dan “memperdaya” orang lain untuk memenuhi keinginannya. Prinsip yang digunakan adalah  pertumbuhan ekonomi dan lupa dengan tanggungjawab  pemerataan ekonomi.

Jihad Nabi menghadapi masyarakat Arab Jahiliyah tidak hanya perang dan menyampaikan aqidah, melainkan juga melawan kebodohan dan budaya serakah pada masa itu. Selain kebodohan tidak mampu membedakan hak dan kewajiban, pemimpin-pemimpin Jahiliyah terbiasa mengumpulkan kekayaan dengan memanfaatkan kekuasaan dan kepercayaan pengikut mereka kepada berhala-berhala yang mereka sembah dengan menuntut penyerahan sebagian harta atas nama ibadah. Keberadaan Nabi dianggap sebagai ancaman bagi sumber kekayaan dan kesenangan tokoh-tokoh etnis dan kafir quraisy ketika itu.

Dalam konteks sekarang, budaya serakah tercermin dalam budaya korupsi. Hampir setiap hari media sosial diwarnai oleh kasus-kasus korupsi. Budaya ini merugikan rakyat Indonesia yang mayoritas adalah miskin. 30 % para petani cangkul merupakan  bagian dari 82 % rakyat Indonesia yang miskin. Korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang memberikan dampak merata dan lama. Terlebih jika yang dikorupsi adalah dana pendidikan dan bantuan sosial yang merupakan pilar utama peradaban. Para koruptor sesungguhnya tidak melayani kemanusiaan, tetapi mencederainya.

Seorang ulama India Selatan Syekh Zainuddin al-Malibari (w. 972 H) dalam kitab Fathul Mu’in menjelaskan konsep jihad dengan mendahulukan jihad pendidikan seperti menghidupkan institusi keagaman dan keilmuan, membela orang lemah dan tertindas, melakukan amar makruf nahi mungkar, melawan korupsi dan seterusnya, tidak mendahulukan jihad melawan orang kafir. Para ulama memandang jihad bukan “kewajiban tujuan”, melainkan “kewajiban perantara” sebagaimana tujuan perang itu sendiri adalah tersampainya hidayah.

Jihad melawan budaya serakah merupakan jihad ekonomi yang membutuhkan penopang ijtihad-ijtihad baru karena modus keserakahan sangat beragam dan terus berkembang. Seorang ilmuwan Mesir Dr. Khalaf Abdel Jabir dalam kitabnya Pendekatan Studi Ekonomi Syariah (2019) menyebut fatwa penutupan pintu ijtihad mulai gencar pada abad 11 M setelah Dinasti Islam terbelah menjadi banyak negara dan saling menyerang satu sama lain. Hal ini berdampak pada kemandekan ulama dalam mencari solusi relevan atas dinamika masalah ekomomi yang dihadapi meskipun kemandekan itu bertentangan dengan realitas adanya ijtihad-ijtihad imam-imam terdahulu.

Selain itu, munculnya perpecahan wilayah kekuasaan umat Islam memunculkan fatwa yang membawa kepentingan kelompok  tertentu. Abdel Wahab Khalaf dalam hal ini menyebut orang yang mengetuk pintuk ijtihad berarti membuka banyak pintu ketenaran dirinya. Padahal tanpa ijtihad atau langkah pemikiran, jihad melawan budaya Greedy atau keserakahan akan berjalan tidak efektif dan tidak tepat sasaran.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

Imam Syafii

Maksud Imam Syafi’i Sebagai “Penolong Hadist”

Imam Syafi’i merupakan ulama yang tidak asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Selain  pendiri salah …

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

escortescort