mariam al ijliya
mariam al ijliya

Mariam Al-Ijliya: Astronom Muslimah di Balik Astrolab

Zaman yang semakin maju dan berkembang mengantarkan manusia untuk terus melakukan perubahan sesuai masanya. Zaman purba, manusia hanya bisa mengandalkan benda-benda alam nan sederhana sebagai alat pembantu pekerjaan. Kemudian muncul temuan-temuan sains dan teknologi yang mengajarkan manusia untuk selalu mengotak-atik kehidupan sesuai zamannya. Hingga saat ini muncul teknologi robotik yang menggantikan peran manusia dalam menyelesaikan pekerjaan.

Global Positioning System atau lebih dikenal dengan sebutan GPS merupakan teknologi canggih untuk melayani keberadaan posisi seseorang. GPS membantu manusia menyelesaikan pencarian lokasi yang dituju dengan sangat cepat. GPS dibuat oleh ilmuwan Amerika Serikat (AS), Ivan Getting pada tahun 1970, yang dirancang dengan  tiga segmen, yaitu ruang, kontrol, dan pengguna.

Namun jauh sebelum GPS lahir dari ilmuwan Amerika Serikat, abad 10, Islam telah mengalami abad keemasan. Ilmu pengetahuan telah berkembang pesat hingga memunculkan para ilmuwan-ilmuwan muslim. Sains dan teknologi mulai tumbuh dalam dunia Islam ditengah-tengah masa kegelapan Eropa. Dari sini, Islam hadir mencetak teknologi-teknologi baru ciptaan ilmuwan muslim.

Tidak hanya dari golongan muslim seperti Jabir bin Hayyan, al-Biruni, Ibnu Sina, Ibnu Haitam, bahkan ilmuwan dari kalangan muslimah. Salah satunya muslimah yang sedang menggeluti ilmu perbintangan yang berhasil membuat sebuah instrumen GPS model astronomi yang berfungsi untuk menentukan arah lokasi dengan desaain yang berbeda.

Mariam Al-Ijliya adalah sosok perempuan yang berhasil merancang teknologi penentu arah kiblat secara sempurna dengan sistem matematis yang rumit dan inovatif. Astronom muslimah tersebut menciptakan instrumen berupa astrolab yang berfungsi sebagai penenetu arah kiblat, posisi matahari dan planet, serta penentu waktu salat. Saking kejeniusannya dalam merancang mesin astronomi, ia mendapatkan nama julukan Mariam Asturlabi.

Baca Juga:  Ja’far bin Abu Thalib Sahabat yang Mirip Rasulullah

 

Bermula dari kehidupannya, Mariam adalah anak seorang insinyur pembuat astrolab yang bernama Ijliyy dari suku Bani Bakr. Tiap harinya, perempuan kelahiran abad 10 ini selalu diajak ayahnya berguru dan bekerja kepada Bitolus, seorang pembuat astrolab terkenal di Irak. Mereka bekerja di Say al-Dawla di Aleppo milik Bitolus. Di tengah-tengah pekerjaannya, Ayah Mariam selalu memberikan pengetahuan tentang astrolab secara mendalam kepada putrinya.

Hari demi hari, semakin banyak ilmu astronomi telah ia dapatkan disela-sela pekerjaan mereka. Ilmu yang semakin bertambah membawa Mariam untuk mulai memutar otak mempraktekkan teori yang telah masuk dalam dirinya. Teknik-teknik perancangan instrumen astronomi telah  ia pahami dengan baik.

Melihat adanya kelemahan sistem ptolemaik dan Aristotelian, putri seorang insinyur tersebut berusaha mendesain sebuah alat transportasi dan komunikasi dunia modern. Desain yang dibuat mencakup perhitungan  pergerakan bintang dan planet, yang saat ini disebut dengan astrolab.

Desain yang sangat berbeda dengan perhitungan yang begitu rumit dan inovatif telah berhasil ia ciptakan. Berbeda astrolab sebelumnya, astrolab buatan Mariam telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Selain dalam pembuatan astrolab, Mariam juga ikut dalam pembuatan dan pengembangan teknik navigasi dan ketepatan waktu.

Kontribusi yang sangat bersejarah bagi Mariam dalam dunia astronomi resmi diakui ketika asteroid sabuk utama, diberi nama 7060 al-Ijliyye, setelah Henry E. Holt ditemukan di Palomar Observatory pada tahun 1990. Mariam adalah sosok inspirator para muslimah. Muslim tidak harus hanya mempelajari kajian-kajian keagamaan saja, tetapi perlu terjun dalam disiplin ilmu lainnya, seperti sains dan teknologi.

Hasil karya inilah yang membuat nama Mariam dikenal sebagai ilmuwan astronomi yang sukses menciptakan sistem teknologi canggih yang berbeda berbasis benda-benda luar angkasa. Memang sedikit sekali kajian yang membahas tentang karya-karya hasil ciptaan orang muslim. Banyak yang mengungkapkan sains dan teknologi adalah ciptaan orang-orang Eropa. Minimnya umat muslim yang sadar atas kehadiran teknologi dan sains dari kalangan muslim sendiri.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (19): Kitab Munyatu al Mushalli Karya Syeikh Daud bin Abdullah al Husaini al Fathani

Maka untuk mengurangi kejadian semacam ini perlu ada kajian ulang untuk mengenal dan mengetahui ilmuwan-ilmuwan muslim yang berjasa penuh terhadap kejayaan Islam. Misal dokumtasi dalam sebuah film, novel, atau karangannya lainnya. Sebagaimana dalam novel “Binti” kaya Nendi Okorafor tahun 2016 yang mengkisahkan seorang tokoh perempuan muda yang sangat yang berintelegent dalam membuat astrolab.

 

Bagikan Artikel ini:

About Hanik As'adah

Ketua Umum Kohati HMI Komisariat Iqbal 2021-2022, Mahasiswi Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang